Orang Gila dan Orang Aneh dalam Labirin Tak Berujung

SUDAH sempurna kerusakan kita, di mana hal-hal yang tidak pernah kita ketahui bersama kini berserakan di depan mata. Hal-hal tabu yang dikisahkan di kitab suci agama kini berhamburan di mana-mana. Anak bunuh ibu, ibu bunuh anak, orang tua buang bayinya, ibu punya anak dengan anaknya, dosen bunuh mahasiswanya, mahasiswa bunuh dosennya, anak laporkan ibu kandungnya ke polisi, perdagangan manusia, ilegal logging, perampokan, pencurian, korupsi di pemerintahan, peredaran narkoba, radikalisme, bullying, kekerasan seksual, pemerkosaan, mabuk, perjudian, hukum berpihak kepada yang punya uang dan kekuasaan, fitnah, propaganda pembunuhan masal, perang dan lain sebagainya.

Kita secara fisik satu rumah dengan keluarga kita, dengan saudara kita, dengan anak kita, dengan istri kita, dengan orang tua kita namun kita tidak mampu memproteksi mereka semua. Mereka punya dunia masing-masing, anak punya dunia dengan smartphone-nya, istri punya dunia dengan televisinya, keluarga punya dunia dengan lingkungannya. Semua pengaruh luar masuk menggerogoti, lewat smartphone anak kita diajarkan hal-hal aneh seperti merakit senjata, membuat bom, pornografi, faham komunisme, faham radikalisme. 

Lewat televisi diajarkan bagaimana merebut kekayaan saudaranya, bagaimana merampok, bagaimana mencuri, bagaimana memfitnah dan lain sebagainya. Ada yang mengkerangkeng anak-anak mereka “atas nama proteksi” di dalam sangkar rumah, mengkursuskan mereka, melarang mereka bergaul karena kesadaran atas  kerusakan sistem sosial seperti disebutkan di atas juga akan memproduksi generasi-generasi yang tumbuh tanpa kepekaan sosial, mereka menjadi individualis dan tidak perlu sosial. 

Ada orang tua yang membebaskan anaknya karena kesibukan pekerjaan untuk mencari uang. Lalu anak-anak mereka dikader oleh senior-senior mereka bagaimana mabuk, pergaulan bebas jika tidak maka mereka akan jadi bahan bullian dan dianggap tidak gaul atau kampungan di tengah teman-temannya.

Di tataran orang tua dalam bertetangga juga mulai renggang, tidak saling percaya, saling curiga karena beda pilihan politik, saling tipudaya, sengketa warisan dan lain sebagainya.

Lalu dari mana kita harus mulai mengurai problem sosial ini?. Di mana sekedar gelisah saja menjadi barang mahal dan itulah yang normal. 

 

Orang Gila

Dalam situasi dan kondisi yang sedemikian rupa ini dilengkapi dengan semakin banyaknya orang-orang dengan spekulasi gila, para gambler dan petarung. Orang gila adalah orang-orang yang berkompetisi merebut simpati, dengan sengaja menawarkan diri mereka kepada khalayak, bersedia menanggung beban banyak orang dan dengan senang hati menerima cacian, bahkan meminta untuk dipilih sebagai penjamin kesejahteraan orang banyak dalam janji-janji kampanye mereka yang begitu meyakinkan. 

Tidak selesai sampai di sana, orang-orang “gila” ini selain menghabiskan waktu, tenaga dan uangnya demi mendapatkan amanah dengan membiayai spanduk, pamflet, transportasi, makanan tim pemenangannya. Juga “mohon maaf” dalam praktiknya banyak yang sengaja “membeli” tanggungjawab itu, sebut saja “money politic”.

Tindakan ini tidak masuk logika saya, di mana orang dengan sengaja menyodorkan dirinya untuk menanggung beban dan menjamin kebutuhan dasar diri saya, bahkan “membeli” tanggungjawab untuk orang-orang yang tidak dia kenal. Kan gila! 

Proses pelantikannya pun jika kita saksikan bersama penuh hikmat dan sakral. Mereka yang keluar sebagai pemenang disumpah berdasarkan agama mereka untuk menanggung beban, berlaku adil, tidak menerima gratifikasi, tidak korupsi, menepati janji, mementingkan orang banyak dan lain sebagainya. 

Ilustrasi sederhana ketika prosesi akad nikah kedua mempelai, pada saat kata “Sah” terucap maka di saat itulah mulai melekat seperangkat hak dan tanggungjawab seorang laki-laki terhadap perempuan dan begitu sebaliknya. Status lajang seketika berubah menjadi status suami dan istri. 

Orang-orang “gila” itu seolah masuk labirin yang tiada ujungnya. Mereka membangun untuk merusak, membangun jalan raya mentereng di satu sisi, namun di sisi lain mengorbankan sawah dan mengeruk bukit. Berapa banyak bangunan BTN dibangun linier dengan berapa luas sawah produktif menjadi korban. Belum lagi pondasi yang membutuhkan batu dan tanah urug galian C bukit-bukit di kampung-kampung.

Semoga saja di tengah-tengah orang-orang yang kita anggap “gila” itu, ada orang-orang yang terlihat gila namun sebenarnya pahlawan. Sementara mencari-cari pahlawan di tengah-tengah kegilaan ini kita tentu membutuhkan orang-orang aneh.

 

Orang Aneh

Jika kita ilustrasikan bahwa kita sedang berada dalam sebuah perahu besar bersama-sama. Perahu besar itu berlabuh menuju pulau harapan yang bernama masa depan. Di tengah laut orang-orang sibuk dengan kesibukannya masing-masing, tidak ada yang menyadari bahwa perahu besar tersebut sedang bocor. Kebocoran terjadi di mana-mana, jika orang-orang di dalam perahu besar itu tidak segera menutup kebocoran-kebocoran tersebut maka semua orang akan tenggelam bersama-sama.

Di tengah amnesia kolektif itu, banyak pula tampil komentator-komentator tentang kebocoran, menjelaskan definisi tentang kebocoran, teori dan konsep tentang kebocoran serta implikasi kebocoran tersebut. Ada yang berdebat hukum kebocoran dari segi agama dan dari segi hukum negara, manfaat dan mudarat kebocoran tersebut. Ada yang menjelaskan rincian anggaran bagaimana menyelesaikan kebocoran, berapa biaya yang harus dikeluarkan. 

Di saat itu tidak dibutuhkan orang-orang yang hanya bisa berkomentar, tidak dibutuhkan orang-orang ahli yang hanya bisa menyalahkan, tidak dibutuhkan para penghafal teori, konsep tentang kebaikan. Sebab khotbah tidak mampu menambal ban yang bocor, kata Eric Fromm. Dibutuhkan orang-orang aneh yang mau mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk segera memperbaiki kebocoran. 

Tantangannya bukan sekedar gelombang saja, namun tsunami yang menerjang semua jenjang umur dan semua tempat, dari kota hingga ke pelosok desa. Dan normalnya yang memiliki andil dalam rangka rehabilitasi sistem sosial ini adalah penguasa yang amanah, ilmuwan yang amaliah dan orang kaya yang dermawan.

Sayangnya tidak banyak yang bisa kita harapkan dari keberadaan mereka. Maka lahirlah orang biasa yang tidak pintar, tidak berkuasa dan tidak juga kaya namun tergerak hatinya untuk bergerak memperbaiki situasi meskipun dianggap aneh. Mereka tidak menunggu kaya dulu baru bersikap demawan, mereka tidak menunggu menduduki jabatan dulu baru berbuat adil dan terakhir mereka tidak menunggu pintar dulu baru mencerdaskan kehidupan bangsa.[]

Ilustrasi: idntimes.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *