Membumikan Islam di Pasar Terapung Banjarmasin

DALAM kunjungan muhibah bersama managemen FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya ke Banjarmasin, 9–10 November 2020, sejenak kami meluangkan waktu untuk mengenal dan memahami tradisi masyarakat setempat. Salah satunya adalah fenomena Pasar Terapung – yang merupakan destinasi pariwisata — dan geliat masyarakat di sekitar sungai Barito Banjarmasin. Observasi ini menginspirasikan bahwa masyarakat daerah ini telah menjadikan nilai-nilai Islam bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pasar Terapung merupakan pasar tradisional yang ada di Banjarmasin. Pasar ini menjadi unik dan menarik karena proses jual-beli dilakukan di atas perahu yang saling berkumpul dan merapat di tengah Sungai Barito. Untuk sampai ke pasar ini harus menyusuri Sungai Barito yang di sepanjang alirannya dijejeri rumah-rumah apung yang berada di atas sungai. Rumah-rumah khas itu dibangun dari kayu ulin, yang tahan terhadap suhu, kelembaban, dan air laut. Sungguh panorama yang eksotik.

Komunitas Muslim merupakan mayoritas masyarakat di sekitar Sungai Barito. Nilai-nilai Islam terpancar dalam interaksi sosial yang dibangun oleh masyarakat, yang kebanyakan berprofesi sebagai para penjual di Sungai Barito. Mereka (kebanyakan perempuan) berangkat berjualan ke pusat Pasar Terapung setelah sholat subuh, dengan mendayung perahunya sendiri, di kegelapan menyongsong terbitnya sang fajar. Pasar ini dibuka sekitar jam 06.00 – 09.00, setelah itu bubar.

Wajah-wajah para penjual rata-rata sumringah, menandai rasa syukur mereka atas nikmat yang diberikan Allah. Itulah yang selalu menjadi sandaran mereka. Hidup dalam kesederhanaan dan mensyukuri hasil bumi sebagai nikmat yang diberikan oleh Allah. “Kami bersyukur, hasil bumi lah yang kami jual di pasar terapung dan kami makan, itu sudah cukup untuk hidup sehari-hari,” kilah seorang penjual.

Selain itu terlihat dari kepolosan dan aura mata yang berbinar dan bersahaja dalam menyapa kami sebagai tamu jauh (wisatawan) yang selayaknya untuk dihormati dan dihargai. Ini ekspresi dari ajaran nilai-nilai Islam yang mereka yakini dan sudah terpatri. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memulyakan tamunya,” begitu sabda hadis yang mereka amalkan. Sikap seperti ini membuat hati para wisatawan menjadi sejuk dan damai.


Menarik untuk dicermati, proses jual-beli yang mereka lakukan. Barang yang mereka jual kebanyakan hasil kebun sendiri. Dari sayur-sayuran, buah-buahan, sampai ikan asin hasil tangkapan secara tradisional di sungai. Selain itu juga ada makanan khas siap saji dengan lauk yang sederhana, lontong, sambel dan ikan teri goreng. Ada juga nasi kuning, disediakan untuk orang yang yang ingin sarapan pagi.

Meski mereka berjualan di atas perahu yang sangat rapat antara satu perahu dan perahu lainnya, namun tidak lantas mereka berebutan pembeli untuk saling “banting harga” atau “menaikkan harga”. Semua harga standar. Bagi mereka rizki sudah diatur dan tidak harus diperebutkan. Karenanya, mereka tetap menawarkan barang jualannya dengan ramah, sopan, dihiasi senyum yang khas.

Ini yang unik, dalam menawarkan jualannya mereka menggunakan pantun yang merupakan kekhasan tradisi di sana dalam berdialog, “Ikan sepat ikan kerapu, ikan teri enak rasanya, bila sempat belilah barangku, terima kasih aku ucapkan.” Itu adalah salah satu pantun yang mereka lantunkan. Cara menawarkan dengan bahasa yang santun pula, “Mari bu berbagi rizki, ibu punya uang saya punya barang, silakan berbagi.”

Di sisi lain, untuk mendapatkan keridhaan/kerelaan di antara kedua pihak (antaradin) pembeli dan penjual, mereka selalu mengucapkan ikrar akad secara jelas. “Saya jual barangnya ya bu,” ikrar penjual. Pembeli membalas, “Iya saya beli bu”. Dengan begini, mereka menjunjung etika perekonomian dalam Islam, yaitu unsur keadilan agar tidak ada yang dirugikan.

Dalam transaksi jual beli di atas, jelas, mereka menggunakan dasar norma-norma dalam Islam, sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu memakan harta-harta saudaramu dengan cara yang batil, kecuali harta itu diperoleh dengan jalan dagang yang ada saling kerelaan dari antara kamu. Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah Maha Pengasih kepadamu” (QS. An Nisa: 29).

Saling menghormati dan menghargai, serta kesantunan adalah sebuah akhlak tertinggi yang harus senantiasa dijunjung tinggi dari sebuah interaksi sosial di masyarakat di manapun dan dengan siapapun. Begitu pula rasa syukur yang tinggi akan mampu melahirkan sikap yang bijak untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Maka di sini lah akan muncul harmoni kehidupan yang damai. Itulah essensi dari ajaran Islam yang mereka di Banjarmasin ini amalkan.

Sesungguhnya banyak sekali realitas sosial di mana Islam telah membumi (embeded) bersama tradisi dan budaya lokal dalam kehidupan bermasyarakat. Praktik masyarakat di sekitar sungai Barito dan pasar terapung Banjarmasin ini salah satu contohnya.

Dalam kehidupan masyarakat Muslim seringkali terjadi pemahaman yang dikotomisdalam kehidupan sehari-hari, yaitu kehidupan yang syar’i (agamis) dan tidak syar’i. Padahal apabila dipelajari secara mendalam, hakekat Islam adalah seluruh kehidupan ruhnya adalah nilai-nilai Islam. Karena seluruh norma-norma kehidupan dalam melakukan interaksi dengan sesama ataupun interaksi dengan alam semesta telah diatur dalam al-Qur’an dan Hadist sebagai way of life masyarakat Muslim.

Dalam melakukan interaksi sosial Islam mengenal hablum minnallah yaitu hubungan manusia dengan Allah (Tuhannya) sebagai ekspresi penghambaan diri kepada sang Khaliq. Implementasinya adalah ibadah mahdhoh. Selain itu juga ada hablum minnas, yaitu hubungan dengan sesama manusia (muslim maupun non-muslim) atau mu’amalah menjadi amalan ibadah ghoiru mahdhoh.

Keduanya bernilai ibadah sebagaimana firman Allah, “Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Selain itu, dua terma di atas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam mencapai Islam yang kaffah (lengkap). Namun seringkali umat Islam terjebak pada realitas yang simbolis atau formalis tentang Islam, sehingga pemaknaan Islam sebagai way of life menjadi sepotong-sepotong (partial).

Masyarakat sekitar Sungai Barito dan Pasar Terapung adalah salah satu potret Islam yang membumi dan merahmati. Islam merupakan “agama langit” yang diturunkan untuk semua umat manusia di bumi untuk “dibumikan”. Tidak hanya untuk umat Islam saja, tapi bagi seluruh umat manusia dan alam semesta karena Islam membawa nilai-nilai universal, keadilan dan kemanusiaan, yaitu rahmatan lil’alamin. Begitulah kira-kira cerminan dari sepotong mozaik Islam di Sungai Barito.[]

Foto: Dwi Setianingsih, Inews.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *