Swing Voters dalam Islam

Tidak ada mobilisasi massa yang benar-benar berhasil dilakukan. Entah itu oleh institusi politik, sosial hingga agama sekalipun. Tetap saja menyisahkan swing voters nya masing-masing. Jika dalam Pemilu swing voters menjadi rebutan banyak partai politik dalam menggaet dukungan dan mengideologisasi gerakan, apa jadinya kalau swing voters terjadi dalam Islam?

Sebagai payung besar, Islam bercita-cita menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. sebagai upaya untuk sampai pada titik itu, Islam telah menjelma menjadi berbagai varian dalam bentuk peribadatan hingga dogma ritualnya. Cara itu, tak lain untuk menggaet massa supaya masuk dan memeluk Islam.

Para kaum swing voters ini selalu punya cara lain untuk menyikapi kebekuan. Dalam Pemilu misalnya, swing voters jugalah yang menjadi sasaran money politic dari politisi nakal. Apakah swing voters mutlak memilihnya? tidak, kaum swing voters punya cara jitu lain lagi untuk meraup keuntungan.

Baca juga: Visi-Misi Islam dan Agenda Strategisnya

Di dalam agama juga begitu, saat Islam di Indonesia terhegemoni oleh dua ormas besar Muhammadiyah dan NU. Kaum swing voters ini  juga tak ubahnya seperti tupai yang pandai meloncat. Dalam salat tarawih saja misalnya, di saat NU yang kekeh dengan dua puluh tiga rakaatnya dengan bacaan surah-surah pendeknya. Dengan Muhammadiyah yang masih mempertahankan tradisi sebelas rakaatnya dengan surah-surah panjang dan melelahkan seperti di Masjid Kauman Jogja itu.

Di sinilah kaum swing voters mulai beraksi. Aksinya cepat dan mengejar keuntungan. Ya, mereka memilih masjid dengan jumlah sebelas rakaat dengan bacaan yang pendek-pendek. Sungguh asyik bukan, menjadi kaum swing voters dalam Pemilu maupun dalam Islam sendiri.

Apakah anda juga termasuk kaum swing voters dalam agama itu?

***

Menjadi kaum swing voters bukanlah sebuah aib, apalagi tindakan yang buruk. Bahkan bagus, karena kita tidak terjebak dalam kooptasi mazhab tertentu yang membosankan. Juga tindakan fanatisme sektarian yang berlebihan, tidakkah tindakan itu juga bisa menjadi bibit radikalisme yang menjadi musuh bersama kelompok-kelompok keagamaan mapan?

Umat cenderung liar, tidak bisa dikontrol, apalagi hanya lewat sekat dogma ormas keagamaan tertentu. Kekuatan dogma itu tak cukup membendung kekuatan umat yang memang menginginkan kebebasan. Kemerdekaan dalam beribadah, hingga kebebasan menentukan sendiri apa yang ingin dilakukan plus yang dirasa menguntungkannya.

Kaum swing voters dalam agama ini tak ubahnya mereka yang memilih jalan alternatif lain. Jika dalam peredebatan kalam ada surga dan neraka dan manzila bainal manzila tain. Kira-kira yang ke tiga itulah mereka. Sebagai alternatif dua kutub besar yang saling mengisi sekaligus meniadakan di antara mereka.

Agama Terbuka

Tindakan kaum swing voters Islam ini senada dengan pendapat Henry Bergson seorang filosof Perancis yang membagi agama menjadi dua entitas yang saling berlawanan yakni agama tertutup dan terbuka. Agama yang terbuka itulah yang sudah keluar dari sekat-sekat dogma, asas, konvensi, mazhab, kelompok, hingga lambang-lambang yang diciptakan oleh kelompok agama itu sendiri.

Dan kelihatannya, agama yang terbuka dan memberi kebebasan seperti itulah yang sekarang mendapat prospek yang jauh lebih besar, ketimbang agama yang masih kekeh bertahan dengan simbol dan identitas harfiah tertentu. Karena di era radikalisasi modernitas – meminjam istilah Anthony Giddens – untuk menyebut era globalisasi yang kian mengkhawatirkan ini. Agama harus tampil hanya sebagai pemberi solusi untuk dunia. Bukan kian menghadirkan kerunyamannya akibat konflik simbol dan identitas tertentu.

Baca juga: Memimpikan “Mazhab” Baru Studi Islam

Hal inilah yang dirasakan oleh penduduk di negara-negara Skandinavia. Tidak ada instabilitas negara akibat konflik agama. Karena di negara-negara tersebut masyarakatnya cenderung tak peduli dengan simbol-simbol agama. Hal ini juga menjadi kerisauan Denny JA hingga ia menelurkan sebuah buku 11 Fakta Era Google Bergesernya Pemahaman Agama yang penuh data-data bagaimana agama di era ini memang harus cenderung bisa melunak dan menjadi udara yang hanya bisa dirasakan manfaatnya. Agar orang-orang beragama tak lagi mengalami ketimpangan seperti dalam buku itu.

Sebuah keniscayaan juga kelihatannya yang terjadi Indonesia hari-hari ini. Langkah negara dalam mengupayakan integrasi dan persamaan sikap dalam ormas-ormas Islam cenderung kian terlihat. Yang sebelum-sebelumnya metode hisab dan rukyatulhilal ala NU selalu berbeda pada Ramadan kali ini keduanya bisa menentukan Ramadan secara bersamaan.

Ini adalah indikasi kecil bagaimana ormas dan agama harus tampil sebagai pencerah masyarakat dalam setiap kesempatan tanpa harus berbeda dan berdebat dengan metodenya masing-masing. Mentradisikan pencerahan itulah yang saat ini lebih diperlukan Indonesia dan dunia.

Ilustrasi: Kaligrafi Ustadz Isep Misbah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *