Daya Tahan Islam dalam Pusaran Isu Terorisme

Eksistensi Agama di muka bumi hadir sebagai pencerah bagi para pengikutnya, dakwah sebagai langkah dari agama dan pondasi dasar dalam agama terkhusunya Islam memiliki peranan yang sangat penting dan menjadi modal dalam menghadapi tuntutan zaman serta segi kehidupan umat, tujuannya adalah mengajak beramar makruf nahi mungkar.

Dakwah hadir sebagai solusi dari  problematika umat Islam yang semakin variatif. Antara Islam dan dakwah adalah satu paket komplit di mana keduanya saling memiliki keterkaitan satu sama lain, letaknya adalah keduanya saling membutuhkan peranannya, Islam butuh dakwah sebagai metode syi’arnya sebaliknya dakwah pun butuh Islam sebagai tempat bersandarnya.

Di arah yang berbeda Islam seringkali disalahpahami oleh sebagian orang, Islam hadir dalam persepsi sebagian orang sebagai gerakan dengan praktek radikalisme, hal ini tentunya masih menjadi polemik besar khususnya kalangan Barat. Clash of Civilization-nya Samuel Hantington tidak bisa tidak mengubah pandangan dunia tentang Islam. Juga, malapetaka WTC 2001 di New York menyebabkan bola panas isu terorisme ini kian lekat dalam tubuh Islam.

Baca juga: Menjaga Eksistensi Islam

Klaim-klaim ambigu semacam ini harus disikapi lebih arif dalam  kalangan umat Islam. Hal inilah yang perlu dibenarkan, dimurnikan, dan diperlihatkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang damai, toleran, maju dan antikekerasan apalagi terorisme. Cara bisa menjadi alternatif lain, agar Islam tetap speak out kepada dunia bahwa eksistensi dan daya tahan Islam sangat baik serta bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam seperti cita-citanya.

Mahasiswa, Islam dan Terorisme

Persoalan terorisme mungkin terlalu sering kita dengar bahkan setiap tahun di Indonesia bahkan dunia internasional. Namun walau hal ini sudah sering dibicarakan bahkan sebagian akademisi mengangkat hal ini sebagai topik inti dari karya ilmiah akhir program studinya, persoalan dan win-win solution yang ditawarkannya belum mampu menjawab sepenuhnya problem besar ini.

Saya sangat menyukai ruang-ruang dialektika, salah satu lembaga keorganisasian eksternal ( IMM ) yang saya geluti di kampus mengadakan Launching LSO dan DIALOG dan saya ikut turut ambil bagian di dalamnya dengan ikut berpartisipasi sebagai peserta juga sebagai BPH dalam lembaga tersebut, menarik dengan apa yang menjadi pembahasannya adalah “Menangkal Terorisme” yang bisa saya tangkap dari apa yang menjadi pemaparan narasumber tersebut adalah lebih banyak menjadikan mahasiswa khususnya IMM sebagai subjeknya, mahasiwa sebagai gerakan intelektual diharapkan mampu ambil bagian dalam upaya penyelesaian problem ini.

Mahasiswa sebagai aktor intelektual harus turut hadir dalam ruang-ruang publik, turun tangan langsung atau karawi inga mengingat mahasiswa dengan peran ganda sebagai agent of change and agent of social control. Dalam diskusi tersebut dipaparkan setidaknya ada tiga peran mahasiswa sebagai aktor gerakan intelektual.

Baca juga: Radikalisme dan Moderasi Beragama

Pertama, mahasiswa sebagai konsumen digital, konsumen yang dimaksud adalah mampu melihat dan membaca keadaan dan  berpikir kritis mana realitas yang falid dan mana yang tidak hal ini dilakukan agar tidak terpapar radikalisme. Kedua, mahasiswa sebagai produsen wacana  moderat, narasi yang mengarah pada kontra radikalisme, maksudnya adalah mahasiswa hadir di ruang publik adalah untuk meluruskan narasi yang bengkok agar narasi tersebut tidak tertelan tanpa curiga oleh masyarakat awam. Ketiga, mahasiswa sebagai pelaku wacana di ruang publik, ruang publik adalah ladang terbaik untuk menangkal terorisme.

Dakwah, Islam dan Kotra Terorisme

Pada hakikatnya term terorisme bukanlah berlabel agama ketika tinjau secara historisnya berangkat dari revolusi Prancis.Terorisme adalah serangkaian serangan yang terjadi secara terkoordinasi dengan tujuan memberikan rasa takut kepada kelompok dalam masyarakat.

Dan juga dalam arti luas, adalah penggunaan kekerasan yang disengaja, umumnya pada warga sipil, untuk mendapatkan tujuan politik. Terorisme berbeda dari perang karena pelaku terorisme tidak akan tunduk pada aturan perang yang akan mengakibatkan korban acak dan kadang-kadang korban terbesar berasal dari masyarakat sipil.

Terorisme di dunia bukanlah masalah yang baru saja muncul, tercatat dalam sejarah, penggunaan kata terorisme menjadi terkenal pada abad ke-18 ketika revolusi Perancis terjadi. Ketika Jacobin mengendalikan pemerintahan revolusioner dengan menggunakan kekerasan seperti pembunuhan massal bagi warga untuk menunjukkan rasa takut.

Mark Juergenseyer dalam bukunya berjudul Teror Atas Nama Tuhan, membandingkan kelompok teroris dalam beberapa tradisi kepercayaan, ia menyimpulkan bahwa teroris agama berbagi atribut. Mereka menganggap bentuk kontemporer agama sebagai versi melemah dari yang benar, iman yang otentik. Teroris mengajak lebih menuntut agama “keras” yang membutuhkan pengorbanan.

Baca juga: Memimpikan “Mazhab” Baru Studi Islam

Memahami esensi dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode yang tepat dan pas. Dakwah harus tampil secara actual dan kontekstual. Aktual dalam arti memecahkan masalah kekinian dan hangat di tengah masyarakat. Faktual dalam arti kongkret dan nyata, serta kontekstual dalam arti relevan dan menyangkut problem yang sedang dihadapi oleh masyarakat.

Dalam hubunganya dengan masyarakat plural, Nurcholis Madjid mengatakan bahwa Islam sendiri adalah agama kemanusiaan, dalam arti bahwa ajaran-ajarannya sejalan dengan kecenderungan alami manusia yang menurut fitrahnya bersifat abadi (perenial). Oleh karena itu seruan untuk menerima agama yang benar itu harus dikaitkan dengan fitrah tersebut,sebagaimana dapat kita baca dalam kitab suci. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam Alquran surah al-Rum/30: 30:

Kontekstualisasi Dakwah

Ahmad Watik Pratiknya, menyatakan bahwa dakwah memang harus bisa menghadapi tantangan zaman. Ini berarti bahwa dakwah tidak hanya digunakan untuk merehabilitasi dampak kemungkaran akibat perkembangan zaman tetapi juga bisa dijadikan sebagai determinan dalam mengendalikan perkembangan zaman. Dakwah yang diharapkan kedepan adalah dakwah yang bersifat ofensif artinya mampu terlibat dan memberikan kontribusidalam percaturan global.

Penulis menganggap era digitalisasi semakin meguatkan dan menggambarkan bagaimana teknologi baru telah secara dramatis memperluas jangkauan global kelompok teroris. Media sosial memungkinkan kelompok-kelompok teroris untuk mendistribusikan propaganda termasuk video yang diproduksi secara profesional dan kemudahan untuk mengunggah foto melalui media social dan untuk merekrut pengikut potensial secara instan, tanpa biaya, di manapun di dunia.

Umat Islam pada umunya dituntut untuk mengikuti tuntutan zaman termasuk  di era digitalisasi, terutama mahasiswa sebagai masyarakat intelektual diharapkan mampu menepis dan menagkal kegiatan praktek terorisme dengan cara memotong salah satu jalan ekspansinya lewat media sosial dan jejaringan sosial, untuk itu kualiatas dan kuantitas masyrakat intelektual dan masyarakat biasa pada umumnya ditekankan untuk lebih memahami dan mempelajari agama Islam secara holistik dan komperehensif dan ilmu pengetahuan sebagai penopang dari semua itu.

 
Ilustrasi: Tempo.co

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *