Ikhlas dalam Tauhid

Karena sebagai orang awam, lama saya termenung di depan al-Quran saat mencermati pesan teologis dan moral Surah al-Ikhlas (QS. 112) . Sahabat! kenapa Surah ke-112 ini diberi nama al-Ikhlas, padahal, tidak ada satu kata ikhlas tertera di dalamnya? Kandungan utamanya justru sarat dengan pesan tauhid. Apa renungan di balik keunikan nama surah ini?

Biasanya, nama surah al-Quran erat kaitannya dengan isu-isu yang relevan, seperti, posisi urutannya, materi, atau pesan utama yang disampaikan. Surah al-Fatihah, umpama, berada di awal pembuka al-Quran. Surat al-Baqarah (sapi betina) bertutur tentang sikap enggan orang Israil untuk menyembelih sapi betina. Surah Ali Imran bercerita panjang tentang keluarga Imran. Surah al-Ma’idah (Hidangan) banyak menarasikan masalah makanan-konsumsi. Surah al-Syams (Matahari) bercerita tentang tata surya. Surah al-Insyirah bercerita tentang ketenangan batin, sebagai buah dari lompatan melewati kesulitan hidup. Begitu juga dengan pesan yang terkandung dalam surah-surah lainnya.

Bahkan pada Juz ke-30, semua nama surahnya selalu disebutkan di ayat pertama-kedua setiap surah, kecuali Surah al-Maa’un. Karakter Surah al-Ikhlas sangat berbeda dari pola umum di atas.

Lalu, apa relevansi nama surah al-Ikhlas dengan pesan dasarnya terkait dengan hal tauhid? Islam adalah agama tauhid. Ia menjadi pembeda teologis dari agama-agama lain. Bahkan Allah mengutuk ambivalensi pendirian tauhid bagi seorang mukmin.

Menurut narasi sejumlah mu’alaf, pengakuan terhadap prinsip tauhid menjadi titik awal yang sangat sulit baginya untuk menerima Islam. Ketauhidan bukan urusan ‘kelatahan” lisan, dan juga bukan buah manis dari pergumulan, petualangan akal sehat manusia. Ia adalah entitas dari letupan mata hati yang menafikan keberadaan hal-hal di luar eksistensi Allah.

Sahabatku! Hidup sebagai mukmin dalam ketauhidan yang hakiki, utuh, total, dan murni, bukan sesuatu yang mudah. Faktanya, ketauhidan kita masih sering dinodai dengan ketidaksadaran kita terhadap penghadiran tuhan-tuhan selain Allah. Dalam keserakahan, kita sering melupakan Allah, dengan menuhankan gairah nafsu (QS. al-Furqan : 43).

Baca juga: Visi-Misi Islam dan Agenda Strategisnya

Nampaknya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hulu, hilir, dan juga muara luas serta terdalam dari kelegaan qalbu menerima ajaran tauhid, secara utuh dan tota,l adalah mata batin oase keikhlasan. Tanpa keikhlasan, ketauhidan seorang beriman, sering, hanya sebatas tuturan kata yang hampa sentuhan hati yang ridlo untuk taat secara total terhadap seluruh panggilan Allah.

Intinya, sebagai pesan dasar dalam surah al-Ikhlas, ketauhidan yang hakiki dan total, hanya akan dapat digapai dan dirawat dalam mata hati keikhlasan yang holistik, bening, tanpa noda; yaitu qalbu yang ikhlas menerima segala perintah Tuhan tanpa “reserve”, seperti hal-hal yang dimanipulasi sesuai selera, nafsu.

Sederhanya, tidak ada ketauhidan yang utuh dan hakiki, jika ia tidak dibingkai dalam qalbu yang ikhlas. Allah maha mengetahui segala hal yang ada dalam qalbu kita, baik terpendam, maupun hal yang kita tuturkan.

Pamulang, 3 Safar 1442 H.

Ilustrasi: inilahbanten.co.id.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *