Tauhid untuk Keadilan dan Kesetaraan

TAUHID adalah inti ajaran Islam, mengajarkan bagaimana berketuhanan secara benar dan juga menuntun manusia untuk berkemanusiaan dengan benar. Dalam kehidupan sehari-hari, tauhid menjadi pegangan pokok yang membimbing dan mengarahkan manusia untuk bertindak benar, baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun dengan alam semesta. Bertauhid yang benar akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan hakiki di akhirat.

Pengetahuan awal mengenai tauhid adalah mengakui keesaan Allah, yang menciptakan alam semesta, mengenal Asma (Nama) dan Sifat-Nya, serta mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud-Nya. Tapi pengertian tauhid lebih dari sekadar itu. Pasalnya, kalau tauhid hanya berupa pengakuan akan keesaan dan kekuasaan Tuhan, maka makhluk serendah iblis pun bisa melakukan hal serupa.

Iblis mempercayai Allah sebagai Tuhan, namun pengakuan itu tidak diiringi dengan ketaatan kepada perintah-Nya, yakni agar bersujud kepada Adam sebagai tanda patuh dan penyerahan diri hanya kepada-Nya. Iblis malah melakukan sebaliknya. Dia percaya kepada Allah, tetapi justru memohon agar diizinkan berbuat zalim, yaitu menjerumuskan manusia.

Masyarakat Arab Jahiliyah, tempat Rasulullah SAW. diutus, juga meyakini bahwa pencipta, pengatur, pemelihara, dan penguasa alam ini hanya Allah. Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka belum menjadikan mereka sebagai makhluk berpredikat “Muslim” dan “Mukmin,” yakni makhluk yang berserah diri dan beriman secara total kepada Allah. Karena dalam kenyataannya, pengakuan itu tidak menjadikan mereka sebagai “muwahhid” (orang yang bertauhid) secara esensial, baik secara vertikal dengan Sang Khalik, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk.

Memahami Tauhid Dengan Benar

Tauhid dalam realitas sosial sering kali direduksi maknanya sedemikian rupa sehingga menjadi doktrin yang tidak menyentuh persoalan riil manusia dan masalah-masalah kemanusiaan kontemporer. Tauhid sering kali dipahami hanya sebatas mengetahui sifat-sifat Allah, mengetahui rukun iman atau yang semacam itu. Tauhid tidak lagi tampak sebagai kekuatan pencerahan dan pembebasan manusia dari ketidakadilan, ketertindasan, dan penistaan-penistaan lainnya sebagaimana diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah.

Tauhid menjelaskan hanya ada satu Tuhan yang patut disembah, yaitu Allah SWT. Dia lah pencipta manusia dan alam semesta. Semua makhluk, termasuk manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Tauhid secara bahasa adalah mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa sesuatu itu satu. Artinya hanya ada satu Tuhan, selain Dia pasti lah bukan Tuhan.

Itulah sebabnya, syahadat (testimoni Islam) berbunyi: asyhadu an la ilaha illa allah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah (tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul-Nya). Dengan syahadat tersebut umat Islam berkomitmen hanya menuhankan Allah SWT dan meyakini Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Umat Islam berkomitmen tidak menuhankan tuhan-tuhan lain berupa manusia (penguasa, pengusaha, pemimpin agama dan seterusnya), atau berupa kekuasaan, harta, ideologi, kemampuan akal, partai politik, organisasi, suku, dan sebagainya. Tauhid adalah penghambaan diri hanya kepada Allah SWT dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh rasa pasrah, cinta, harap dan takut hanya kepada-Nya.

Memahami tauhid dengan benar akan mengantarkan kita kepada prinsip kesetaraan manusia. Tauhid dengan tegas mengajarkan, hanya ada satu Tuhan, selain Dia semuanya hanyalah makhluk. Berarti semua manusia adalah setara, yaitu setara sebagai makhluk Tuhan. Prinsip kesetaraan manusia tidak menghendaki adanya pembedaan dan diskriminasi terhadap manusia, apa pun alasannya. Semua manusia harus dihormati karena martabat kemanusiaannya (dignity).

Tauhid juga membawa kepada pengakuan prinsip kebebasan. Semua manusia diberi kebebasan untuk memilih sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya. Manusia bebas memilih untuk beragama dan tidak beragama, menjadi beriman atau tidak beriman, manusia bebas memilih untuk melaksanakan amal saleh atau tidak. Namun, manusia yang bijak pasti memilih amal saleh, bukan sebaliknya. Karena itu tidak boleh ada pemaksaan dalam bentuk apa pun terhadap manusia terkait agama dan kepercayaannya. Sebagai manusia, tugas kita hanyalah mengingatkan dengan cara yang damai dan bijak, bukan memaksa apalagi bermain hakim sendiri.

Kebebasan manusia untuk memilih mendapatkan apresiasi dari Sang Pencipta. Semua pilihan bebas manusia yang mengarah kepada kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula, demikian sebaliknya. Jadi, manusia memiliki kebebasan, namun kebebasan itu bukanlah kebebasan mutlak, melainkan kebebasan yang dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di kelak di akhirat.

Tauhid juga membawa kepada prinsip keadilan. Dengan tauhid kita yakin hanya ada satu Tuhan, dan kita semua manusia adalah ciptaan-Nya. Salah satu sifat Tuhan adalah Maha Adil. Sebagai hamba, kita yakin Tuhan akan selalu berlaku adil kepada semua hamba-Nya, tanpa kecuali. Karena Tuhan Maha Adil, kita manusia juga dituntut untuk mengikuti sifat-sifat Tuhan yang baik (asma’ul husna).

Sifat Tuhan yang paling sentral adalah adil, dan keadilan menjadi landasan kerja kita sehari-hari dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk itu, sebagai manusia kita patut memperjuangkan keadilan, untuk semua manusia, khususnya mereka yang berada dalam kondisi marjinal dan teraniaya.

Produk Tauhid: Keadilan dan Kesetaraan

Tauhid melahirkan prinsip keadilan dan sesetaraan, dimana keyakinan bahwa tidak ada manusia yang setara dengan Allah dan tidak ada anak dan titisan Tuhan, pada gilirannya melahirkan pandangan kesetaraan manusia sebagai sesama makhluk Allah. Tidak ada manusia nomor satu dan manusia nomor dua. Tidak ada manusia yang boleh dipertuhankan dalam arti dijadikan tujuan hidup dan tempat bergantung, ditakuti, disembah, dan seluruh tindakannya dianggap benar tanpa syarat.

Raja bukanlah tuhan bagi rakyat, suami bukanlah tuhan bagi istri, orang kaya bukanlah tuhan bagi orang miskin. Oleh karena mereka bukan tuhan, maka rakyat tidak boleh mempertuhankan rajanya dan pemimpinnya, bawahan tidak boleh mempertuhankan atasannya dan istri tidak boleh mempertuhankan suaminya atau sebaliknya. Ketakutan dan ketaatan tanpa syarat kepada raja, pemimpin, atasan atau suami yang melebihi ketaatan dan ketakutan kepada Allah merupakan pengingkaran terhadap tauhid.

Pada tataran sosial, kekuatan tauhid pada diri Rasulullah SAW. membuatnya berani membela mereka yang direndahkan, teraniaya dan terlemahkan secara struktural dan sistemik (mustadh’afîn), seperti kaum perempuan, budak, anak-anak, dan kelompok rentan lain yang diperlakukan secara zalim oleh para penguasa dan pembesar masyarakat yang menutupi kezalimannya di balik nama Tuhan.

Dengan demikian, tampak bahwa tauhid tidak sekadar doktrin keagamaan yang statis. Ia adalah energi aktif yang membuat manusia mampu menempatkan Tuhan sebagai Tuhan, dan manusia sebagai manusia. Penjiwaan terhadap makna tauhid tidak saja membawa kemaslahatan dan keselamatan individual, melainkan juga melahirkan tatanan masyarakat yang bermoral, santun, manusiawi, bebas dari diskriminasi, ketidakadilan, kezaliman, rasa takut, penindasan individu atau kelompok yang lebih kuat, dan sebagainya. Itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw.![]

Ilustrasi: umma.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *