Wacana Lain Pendidikan Karakter di Indonesia

Pendidikan dalam arti sederhana sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar anak menjadi dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha membuat seseorang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.

Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989, pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Perkembangan berikutnya menurut UU No. 20 tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Urgensi Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah  suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan  untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.

Munculnya kebijakan pendidikan karakter di sekolah lebih didorong oleh keprihatinan atas maraknya perilaku tidak terpuji di hampir semua lini kehidupan. Mulai dari tawuran anak sekolah di jalanan sampai tawuran antar kampung yang memakan korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Berbagai kasus lain yang seolah membalikkan logika, seolah bangsa ini tidak memiliki cukup peradaban dan moral-etik yang mampu menjadi penangkal bagi perilaku buruk dan destruktif.

Baca juga: Ke Mana Arah Pendidikan Kita?

Nilai-nilai luhur seperti kejujuran, santun dan keramahan, kebersamaan, dan perilaku religius seolah hilang terkikis oleh “budaya baru” yang hedonistik, materialistik, dan individualistik. Walhasil, bangsa ini seolah tidak pernah mendapatkannpendidikan bagaimana menjadi warga negara dan masyarakat yang baik.

Padahal senyatanya mereka telah mendapatkan pendidikan moral dan pendidikan agama mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Keadaan tersebut terjadi antara lain karena adanya pergeseran tata kehidupan sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada pengabaian dan pengasingan nilai-nilai luhur dan transendental.

Industrialisasi, modernisasi berbagai fasilitas kehidupan, globalisasi dalam bidang politik, ekonomi dan budaya telah membawa praktik pendidikan kita pada sebuah kondisi pragmatisme jangka pendek. Yang terjadi, praktik pendidikan kurang diimbangi pembekalan peserta didik dengan sistem nilai kehidupan yang komprehensif.

Pada pendidikan formal kita (sistem persekolahan) terlalu berorientasi dan mengedepankan pengembangan intelektual-kognitif serta pengukuran tingkah laku yang bersifat akademis. Akibatnya sikap dan nilai yang berada pada wilayah afektif atau kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual peserta didik kurang teridentifikasi dan tergarap dengan baik.

Sebagai anak bangsa tentu kita tidak menginginkan keadaan itu terus terjadi dan berlangsung tanpa upaya untuk menghentikan dan memperbaikinya. Salah satu upaya yang cukup rasional adalah perlu dan pentingnya pembentukan karakter bangsa melalui pendidikan. Dengan harapan kekurangan yang terjadi selama ini bisa disempurnakan, dan kesalahan yang terjadi bisa dibenarkan. Jepang dan Korea adalah contoh negara yang berhasil secara sistematis membentuk nation building character dengan segala cara, termasuk dengan cara-cara yang represif.

Jepang dengan karakter budaya malu dan kerja kerasnya telah menghantarkan negara itu menjadi “raja” yang dengan teknologinya mampu menguasai dunia, demikian halnya dengan Korea. Semua itu bisa dicapai karena dua negara tersebut telah berhasil menanamkan nilai-nilai moral-etik menjadi karakter bangsa, seperti jujur, kerja keras, budaya malu, malu bila gagal/tidak berhasil, dan lain-lain.

Wacana Lain

Dengan demikian bahwa, pendidikan karakter sangat penting dan strategis dalam membangun kembali jati diri bangsa dan menggalang pembentukan masyarakat Indonesia baru. Tetapi penting untuk segera dikemukakan bahwa pendidikan karakter haruslah melibatkan semua pihak: rumah tangga dan keluarga, sekolah, dan lingkungan sekolah lebih luas, masyarakat.

Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyambung kembali hubungan dan educational networks yang nyaris terputus antara ketiga lingkungan pendidikan ini. Pembentukan watak dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara ketiga lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan harmonisasi.

Baca juga: Reaktualisasi Spirit Maja Labo Dahu dalam Bermasyarakat

Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa nilai-nilai semboyan maja labo dahu sesuai dengan nilai-nilai dalam pendidikan karakter, yaitu: nilai religius, jujur, disiplin, mandiri, menghargai prestasi, dan cinta tanah air. Implementasi semboyan maja labo dahu belum dirumuskan secara eksplisit atau dibakukan sebagai materi pelajaran. Semboyan maja labo dahu telah efektif memberikan pengetahuan moral tentang nilai-nilai semboyan maja labo dahu kepada siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama; Penerapan Nilai Religius Dalam Penguatan Karakter Masyarakat Yang berbasis Maja Labo Dahu dalam Perspektif Budaya Bima. Penerapan Nilai Nasionalis, Penerapan Nilai Integritas meliputi Penerapan Nilai Gotong Royog, Penerapan Nilai Mandiri dalam Penguatan Karakter Masyarakat yang berbasis Maja Labo Dahu dalam Perspektif Budaya Bima, di mana Penerapan nilai Mandiri dalam penguatan karakter yang berbasis maja labo dahu yang dilaksanakan di Kota Bima.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Nilai-nilai maja labo dahu sesuai dengan nilai-nilai dalam pendidikan karakter, yaitu: nilai religius, jujur, disiplin, mandiri, cinta tanah air, dan peduli lingkungan. Selain itu, aktualisasi nilai-nilai maja labo dahu telah efektif memberikan pengetahuan moral (moral knowing) terhadap peserta didik.

Kendala yang dialami sekolah dalam implementasi nilai-nilai maja labo dahu dalam pendidikan karakter adalah kurang konsistensinya orang tua peserta didik atau lingkungan sekitar dalam mendukung dan mengembangan nilai-nilai budaya maja labo dahu.

Pembinaan karakter religius berbasis nilai kearifan lokal maja labo dahu dalam pembelajaran, baik di kelas maupun di lingkungan sekolah, dilaksanakan dengar cara: Pertama, membangun percakapan antara guru dengan peserta didik melalui tanya jawab tentang sebuah topik, untuk mewujudkan suasana yang hangat dan akrab, sehingga peserta didik dapat memahami secara secara utuh konsep nilai yang disampaikan oleh guru. Kedua,  menceritakan kisah yang inspiratif untuk dihayati oleh peserta didik dengan tujuan untuk membina karakter religiusnya, karena dalam kisah-kisah terdapat berbagai keteladanan dan pendidikan nilai.

Ketiga, perumpamaan yang diberikan oleh guru pada saat pembelajaran dapat memotivasi peserta didik, untuk lebih baik lagi dari sebelumnya, terutama dalam membina karakter religius peserta didik melalui perumpamaan hal-hal yang akan terjadi dimasa mendatang apabila diri tidak diperbaiki hari ini. Keempat, guru menjadikan dirinya sebagai teladan bagi peserta didik untuk membina karakter religiusnya di sekolah, keteladanan yang diberikan oleh guru pada peserta didik pada umumnya meniru kepribadian guru. Karena kebiasaan peserta didik untuk selalu meniru hal-hal yang ada disekitarnya, dan tidak perduli baik atau buruknya. Kelima, pembiasan secara berulang-ulang, tentang konsep nilai dan gagasan yang berguna bagi pembinaan karakter religius peserta didik, agar hal baik yang dilakukan berulang-ulang dapat menjadi kebiasaan peserta didik.

Sumber Referensi:

1. Semboyan Maja Labo Dahu dalam Pendidikan Karakter, Mulyadin dan Amat Jaedun Universitas Negeri Yogyakarta, 2020.
2. Model Penguatan Karakter Masyarakat Berbasis Nilai Kearifan Lokal “Maja Labo Dahu” dalam Perspektif Budaya Bima, Tasrif dan Siti Komariah (STISIP) Mbojo Bima 2020.
3. Urgensi Nilai Maja Labo Dahu dalam Pendidikan Karakter: Studi Kasus di MTs Negeri Kota Bima Mulyadin Universitas Negeri Yogyakarta, 2020.

4. Implementasi Pembinaan Karakter Religius Berbasis Kearifan Local Maja Labo Dahu Pada Peserta Didik Sekolah Dasar di Kabupaten Bima, A Gafar Hidayat, Tati Haryati, 2020.

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *