Ke Mana Arah Pendidikan Kita?

Judul Buku: Menuju Pendidikan Yang Memerdekakan
Penulis: Abdul Rahim
Penerbit: Sanabil, Juni 2020
Tebal: viii + 228 Halaman

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya lebih tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali” – Tan Malaka.

BEGITU kutipan dari Tan Malaka menjadi pembuka buku ini. Cerita lainnya yang disajikan disadur dari sebuah cerpen dan menjadi sub bab dengan judul Ikan Kaleng dan Pendidikan Kita (hal. 7). Seorang sarjana ikatan dinas yang ditugaskan mengajar ke salah satu pelosok negeri didatangi salah satu wali murid yang membawa ikan kaleng ke kelasnya. Pada hari sebelumnya, Wali murid yang menjadi nelayan itu terkaget ketika belanja ke salah satu swalayan di kota dan menemukan ikan kaleng yang isinya hanya dua tiga ikan kecil, tetapi harganya sama dengan 1 kilogram ikan mentah.

Sang wali murid pun tertarik dengan ikan kaleng itu, lalu menanyakan kepada guru itu apa bisa mengajarkan anak-anak mereka cara membuat itu. Tentu saja guru muda itu terperangah, di sekolah tidak ada yang bisa mengajarkan itu. Wali murid yang kecewa pun berpikir untuk apa mengirim anak-anak mereka ikut belajar kalau tidak bisa diajarkan membuat itu di saat tangkapan mereka sedang naik deras. Cerita ini disajikan dalam cerpen yang dimuat Kompas dengan judul Ikan Kaleng Karya Eko Triono (2010). Kritik atas kurikulum pendidikan kita yang mengajarkan hal-hal dasar tersdandar untuk seluruh negeri.

Pendidikan itu memupuk kehausan dahaga keingintahuan yang muncul dari rasa penasaran atas hal-hal yang menjadi minat individu, meski tidak semua bisa didapatkan di dalam kelas. Setidaknya keingintahuan yang dipupuk itu bisa menjadi pemicu untuk terus merasa bodoh di dalam pendidikan hingga sekolahpun tak lagi bisa membodohi individu-individu itu. Dan orang-orang yang sudah bergelut di pendidikan itu hendaknya menjadi pribadi yang berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Begitu yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer.

Jika pendidikan hanya menjadi arena untuk mencari gengsi, genaplah yang dinyatakan Pierre Bourdieu bahwa sekolah adalah salah satu penyumbang munculnya kelas-kelas sosial. Pun jika pendidikan hanya sekedar memenuhi kebutuhan pekerja industri, kenapa bukan industri itu sendiri yang membuka pelatihan untuk pekerjanya agar lebih tepat sasaran. Penulis buku ini mencoba melihat keterkaitan antara industri dan dunia pendidikan justru mengkerdilkan esensi pendidikan itu sendiri.

Apakah tujuan pendidikan sekedar memenuhi angkatan kerja?, ataukah semata mencari gengsi dengan privilese sebagai kaum terdidik. Begitu juga ketika lulus, apakah membuat individu semakin merunduk, tawadhu’, ataukah semakin menampilkan kesombongan-kesombongan intelektual, menggunakan neologisme-neologisme yang membingungkan, dengan sematan pakar, ahli atau sebutan lainnya sebagai ajang panjat sosial (social climb).

Pendidikan yang memerdekakan bukan sekedar mengenyam bangku formal, dengan paksaan disiplin-disiplin yang kadang mengikis sisi humanis. Justru sebaliknya, membentuk karakter-karakter humanis yang penuh kepedulian, membela yang tertindas, bukan malah tertindas dengan kapitalisme di dalam pendidikan itu sendiri.

Pendidikan itu memang berbiaya, tetapi tidak berbahaya. Namun ketika biaya-biaya itu pun semakin tinggi, apalah guna pendidikan ketika itu juga menjadi ajang meraup keuntungan semakin besar bagi institusi. Memang dalam tradisi masyarakat Sasak misalnya, ada istilah untuk penuntut ilmu itu mesti di dalamnya ada 3B, Bedoe, artinya berpunya, dalam hal ini Ekonomi, Bedeye, yang artinya mencari, baik itu Ilmu yang dicari, atau ada yang bertugas mencari untuk kebutuhan ekonomi, dan Bedo’e, yang artinya berdoa, tidak hanya doa dari si penuntut ilmu, tetapi dari orang tua, terlebih doa guru.

Di masa pandemi saat ini, ketika kita terpaksa menjadikan rumah sebagai tempat belajar dengan konsep swa kelola lingkungan pembelajaran (Self Organized Learning Environment), tetapi peserta didik kita masih dipaksa mengikuti model-model pembelajaran seperti biasa, bedanya sekarang di bawah pengawasan orang tua. Buku ini menelisik penilaian terstandar, kurikulum terstandar untuk semua, meski tak semua bisa mengikuti pemaksaan konsep-konsep sesuai yang diinginkan kurikulum pukul rata itu (hal. 12).

Pendidikan juga bukan sekedar rutinitas pergi pagi pulang sore, atau sekedar supaya bisa berpakaian rapi. Lebih dari itu bagaimana membentuk pribadi-pribadi terdidik itu semakin membumi. Semakin sadar bahwa kesombongan intelektual itu tak pantas diumbar, apalagi untuk menyalahkan atau membodohi orang lain.

Pendidikan yang memerdekakan adalah juga yang semakin memupuk keingintahuan (curiousity), yang tak terbatas hanya pada standar-standar linearitas yang disyaratkan ketika ingin menjadi pegawai, misalnya. Mendobrak ketabuan adalah bagian dari memerdekakan individu itu melepaskan keterbelengguan mereka pada satu titik. Kemudian membentuk titik-titik penghubung hingga menjadi simpul-simpul bermakna dan bermanfaat untuk semua.

Dalam pendidikan itu ada sesuatu yang kompleks sebagai wujud memerdekan individu, membentuk humanisme universal, yang berpijak pada keadilan dan spirit membela kemanusiaan di atas segalanya. Penulis mencoba membangun kesadaran kita bahwa Pendidikan yang menjadi basis perlawanan melawan ketimpangan, ketidakadilan adalah arena merebut kembali apa yang selama ini hilang dalam konteks kehidupan kita (hal. 20).

Ungkapan bahwa pendidikan menjadi pencipta kelas sosial baru sudah semestinya diejawantahkan dengan kerja-kerja nyata intelektual yang berpihak pada kebenaran bukan pada kesempatan. Melalui pendidikan itu bisa tercipta intelektual kolektif (Bourdieu, 1989) yang menjadi garda terdepan membela kepentingan publik yang selama ini dimonopoli elit-elit kuasa demi kepentingan pribadi ataupun kelompoknya.

Tulisan-tulisan di dalam buku ini merupakan fragmen-fragmen kegelisahan penulis melihat realitas di pendidikan kita, pun realitas sosial sehari-hari, yang lebih mementingkan gengsi daripada hal-hal substansial dari sesuatu. Bagaimana sebenarnya pendidikan itu bisa memerdekakan, terletak pada komitmen semua pihak, terlebih Negara yang menjadi penjamin atas terselenggaranya upaya mencerdaskan bangsa. Upaya-upaya itu bukan pula proyek 5 tahunan yang setiap ganti menteri ganti kurikulum. Tetapi pendidikan adalah proyek sepanjang hayat, yang tak terikat standar-standar kelulusan yang menjadi kuasa Negara.

Lebih jauh buku ini menawarkan sudut pandang pendidikan yang memerdekakan itu yang lekat dengan lokalitas, keseharian individu-individu yang menjadi bagian dari pendidikan itu sendiri. Agenda-agenda lokalitas semestinya mendapatkan tempat juga dalam kurikulum pendidikan kita. Refleksi atas itu menjadi pemikiran bersama untuk membawa pendidikan kita ke arah yang lebih sesuai dengan amanat undang-undang dasar negara. Pendidikan yang memerdekakan atau membiarkan pendidikan kita sebagaimana adanya, meski visi itu bisa saja berbeda-beda di masing-masing institusi.[]

Ilustrasi: dakwatuna.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *