Kematian: Keniscayaan yang Alamiah

AKHIR-AKHIR ini berita kematian saudara-sudara kita sering berseliuran di corong masjid dan media sosial, entah karena terpapar covid-19 atau karena sakit yang diderita.

Dengan ramainya berita kematian hendaknya menjadikan kita sadar bahwa kematian bukanlah kejadian luar biasa, namun kejadian yang niscaya bagi makhluk yang diberi kehidupan, karena Tuhan telah memberitakan jauh sebelum kehadiran kita di bumi, bahwa kelahiran kita di bumi adalah awal dari perjalanan menuju kematian. Hanya saja perjalanan selama kematian itu masih teka teki, karena tidak ada kilas balik dari saudara-sudara kita yang sudah mendahului kita, hanya kisah-kisah sufistik dari hamba yang ma’rifat kepada Tuhan. 

Ada satu kejadian yang mungkin semua kita pernah mengalaminya. Satu saat kita kadang kebingungan saat dibangunkan dari tidur siang yang sudah agak kesorean. Begitu kita dibangunkan, kita merasa antara sadar dan tidak, bahwa saat itu kita dibangunkan untuk shalat subuh, padahal nyatanya kita dibangunkan karena sudah menjelang tibanya waktu magrib. Kita akan tersadar setelah beberapa detik  merunut perjalanan tidur yang baru kita nikmati—dan ternyata kita barusan menikmati tidur sore. 

Pengalaman itu Tuhan berikan kepada kita hanya sekilas, beberapa detik setelah ruh kita digenggamNya tatkala tertidur pulas. Mungkinkah pengalaman tidur yang tak kita sadari itu bagian dari pengalaman kematian?.

Ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa proses kematian yang akan kita jalani disekenariokan oleh Tuhan sebagaimana orang bermimpi saat tertidur pulas. Sejak mengalami sakaratul maut hingga nyawa dipisahkan dari jasad, akan kita lalui seperti proses bermimpi. Semua kejadian yang menyangkut tentang diri kita saat itu, kita saksikan seperti didalam mimpi. Kita lihat dalam mimpi bahwa diri kita terbujur diatas kasur. Kita lihat orang-orang, sanak saudara, famili, dan sahabat dekat yang menanganisi kita. Kita lihat orang-orang yang memandikan kita, mengafani, dan menshalatkan kita. Kita lihat orang mengusung keranda kita ke kuburan. Semuanya terlewatkan terasa dalam suasana bermimpi.

Dalam riwayat tersebut dijelaskan lebih lanjut, kita akan tersadar bahwa kita sebenarnya sudah mati tatkala Tuhan memberikan kemampuan pada ruh kita untuk mencium bau tanah di dalam kuburan. Di saat itulah kita mulai merunut perjalanan mimpi yang baru saja kita alami, dan kita mulai tersadar bahwa kita sudah meninggalkan dunia yang fana ini.

Proses perjalanan kematian sebenarnya sudah Tuhan latihkan pada masing-masing kita, agar kita siap mental, yakni melalui proses tertidur dan bangun kembali setiap hari-setiap malam. Dengan mengalami proses tertidur dan bangun kembali sebenarnya tidaklah terlalu sulit bagi kita untuk memahami proses kematian yang sesungguhnya. Nabi menguatkan alasan itu melalui sabdanya yang memerintahkan kita untuk menguntai doa sebelum tidur dengan bacaan “Bismika Allaahumma ahyaa wa amuutu”. Dengan menyebut nama-Mu ya Tuhan, aku hidup dan mati.

Selanjutnya begitu bangun dari tidur, kita disunnahkan membaca “Alhamdulillahilladzi ahyaana ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur.” Segala puji bagi Tuhan yang telah menghidupkan kami sesudah mematikan kami, dan hanya kepada-Nyalah (kami) dikembalikan.

Dalam doa itu ada kalimat kematian dan kehidupan kembali setelah kematian. Bukankah seperti itu proses yang akan kita jalani, bahwa setelah kita dimatikan, kemudian kita akan dihidupkan kembali setelah sampai di alam barzakh?.

Jadi proses kematian itu sebenarnya proses alamiah yang akan kita jalani secara bergilir sebagai konsekwensi hidup yang kita jalani. Dan pergiliran itu hanya berkaitan dengan waktu. Tuhan sudah menjelaskan hal ini di surah ke 3 ayat 185, “Kullu nafsin żā`iqatul maụt”. Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan mati.

Sebagai orang beriman, ayat ini mengingatkan kita bahwa di penghujung kehidupan kita akan ada kematian. Dan itu sebuah kepastian imani yang mesti kita temui, hanya saja yang perlu kita sikapi dengan hati-hati adalah penyebab dari kematian yang sangat beragam, dan sulit bagi makhluk nisbi untuk mengetahuinya.

Jadi dengan memahami perjalanan alamiah dari kehidupan kita ini, paling tidak kita harus menyadari bahwa sebenarnya silih bergantinya hari dan waktu dalam kehidupan kita adalah proses menuju titik ujung dari kehidupan kita. Dan hari-hari yang kita lalui pada hakekatnya mengerat usia kita detik demi detik untuk semakin mendekat pada titik akhir dari kehidupan kita yakni kematian.

Dengan kesadaran itu, idealnya semakin hari kita akan semakin bijak dalam menyikapi segala hal dalam hidup ini, akan semakin taat dalam melaksanakan ajaran agama, dan akan semakin tawaddu’ dalam berprilaku. Kata alim ulama, jika ingin melihat seperti apa manusia di alam kematiannya, maka lihatlah prilaku di penghujung hidupnya.

Karena waktu kematian adalah teka teki, maka berikanlah kesan terbaik pada semua orang yang menyaksikan perjalanan hidup kita, karena persaksian orang-orang tentang kita akan menjadi rujukan Tuhan dalam memfonis baik dan buruknya kita. Kata Tuhan dalam hadis qudsiNya, “Antum syuhada Allah fil ardhi”. Kamu semua adalah saksi Tuhan (atas saudaramu) di atas bumi.

1 komentar untuk “Kematian: Keniscayaan yang Alamiah”

  1. Bismillahirrahmanirrahim…..
    Innalillahi wainna ilaihiraajiun…
    Setiap yg bernyawa pasti akan mati…
    Ya Allah… Manusiawi jika rasa takut akan kematian itu datang, semoga kita semua dlm kerhidoan Allah, sehat dan umur panjang yang barokah…. Aamiin Allahumma aamiin… 🤲

    Baik2 disana ayahanda,😇😇😇 bnyak terimaksih untuk setiap goresan 🙏🙏🙏

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *