Puasa: Resonansi “Aku”, “Kamu”, “Dia”, “Kami” dan “Kita”

Sahabat beriman! Hidup ini sederhana. Kita adalah mesin waktu yang akan memaknainya dalam bingkai sedih atau bahagia. Pilihan hidup yang salah akan mengubah semua kemudahan menjadi kesulitan, nikmat menjadi petaka; kawan menjadi lawan; mitra menjadi pesaing; banyak terasa tidak cukup; atau bahkan kurang menjadi penderitaan.

Ketika rasa bahagia adalah pilihan, maka qalbu kita menjadi penentunya. Qalbu kita menjadi cetak birunya (blue print). Qalbu kita akan mewarnainya. Qalbu kita setia menghibur kita di saat sedih; qalbu kita akan setia menemani untuk keluar dari segala nestapa. Bahagiakanlah qalbu dalam bingkai empati, cinta dan kasih sayang (rahmah) dalam spirit “kekitaan”.

Memilih bahagia berarti kita mengikuti perputaran waktu dan rela beradaptasi dengan keadaan. Kenapa? karena hidup ini dinamis, terus bergerak, berevolusi menuju kesempurnaan dalam spirit keseimbangan, resonansi. Karenanya, berhenti adalah awal kematian, yang akan mengubur harapan terpendam dalam impian.

Dalam dinamika, terkadang dialektika, kata Albert Einstein hidup itu seperti ketrampilan mengendarai sebuah sepeda. Untuk menjaga keseimbangan saat bersepeda, kita harus terus bergerak. Berhenti mengharuskanmu mencari tumpuan agar dapat terus tegak. Kehati-hatian dan tetap fokus memudahkan kita mempertahankan keseimbangan.

Dalam bingkai bijak narasi Albert Einstein, puasa mengajarkan keseimbangan, resonansi hidup; keseimbangan dalam pemujaan spirit aku, kamu, dia, kami, mereka, dan kita. Spirit memanjakan “aku” akan melambungkan ego superioritas aku dalam langkah maju sendiri, dengan meninggalkan “kamu”, “dia”, “kami” dan “mereka” tertahan di satu titik, yang terpisah dengan aku.

Spirit “aku” akan menjebakku dalam kesendirian, karena gerak spasial dan mobilitas sosial majuku, membuat aku berada di satu titik terpisah, meninggalkan “kamu”, “dia”, dan “mereka”. Menyedihkan! Aku dalam penjara gerak maju sendiri menyekat kita di bilik-bilik kehidupan, kesepian.

Sahabat beriman! Puasa mengajarkan empati (rasa kasih) dalam gerak bersama menuju kesempurnaan. Dalam spirit empati puasa, saat kita senang, seharusnya kita menyadari dan merasakan bahwa banyak orang di sekitar kita yang tidak seberuntung nasib kita.

Di saat kita susah, serba kekurangan, puasa mengajarkan kepada kita bahwa masih banyak saudara kita yang justru lebih lama telah menderita dibandingkan kita, tetapi mereka masih dapat tersenyum, karena mereka yakin bahwa suatu saat, cepat atau lambat, penderitaan akan berakhir. Optimisme dan keyakinan terhadap kebaikan Tuhan menjadi kekuatan yang membuat banyak orang kuat bertahan dalam ujian.

Puasa dalam spirit kekitaan mengajarkan keindahan berbagi; yaitu rasa bahagia saat ada tangan yang mengulurkan bantuan untuk merangkulmu dalam kebersamaan; menyapamu di saat sendiri. Spirit puasa meleburmu dalam hidup tanpa batas keakuan, kekamuan, kediaan, kemerekaan (others), dan kekamian”.

Puasa mengajarkan keindahan hidupan kekitaan. Dalam spirit kekitaan, kamu, dia, dan mereka adalah aku dalam wujud lain. Maka, membiarkan “kamu”, “dia” dan “mereka” sendiri dalam susah berarti aku menyiksa diriku dalam wujud “kamu”, “dia”, dan “mereka.

Dalam spirit kekitaan, sedikit terasa cukup untuk modal berbagi, karena berbagi itu sendiri adalah kebahagiaan. Kata akhirnya, berbagi adalah satu ekspresi eksistensial tentang makna kehadiran aku dalam wujud “kamu”, “dia”, “mereka” dan “kita”.

Selamat berbahagia bersama dalam spirit puasa yang meretas batas ego-superioritas subjektivitas aku, dan objektivikasi kamu, dia, dan mereka. Puasa adalah wadah kita untuk maju dan sukses bersama. Bukankah keberkahan mewujud dalam entitas kebersamaan.

Pamulang, 8 Ramadhan 1442 H

Ilustrasi: steemit.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *