Sikap dan Perilaku sebagai Investasi

Sikap dan perilaku yang kita tebar dalam bentuk praktik nyata dalam kehidupan kita, merupakan investasi yang akan kita nikmati di masa-masa mendatang, semua yang kita lakukan saat ini adalah simpanan yang akan kita terima di suatu waktu. Tuhan telah merekam seluruh jejak dari praktik nyata dalam kehidupan kita, dan pada saat yang tepat nanti, Tuhan berlakukan kepada kita kondisi yang sepadan dengan perilaku dan sikap yang pernah kita investasikan.

Kita boleh saja melakukan apa yang kita kehendaki dalam bentuk perilaku dan sikap, tetapi ingatlah pada suatu hari nanti, sikap dan perilaku yang kita praktikkan terhadap siapa saja, menjadi simpanan yang akan kembali kepada kita sepadan dengan apa yang pernah kita praktikkan.

Di dalam diri manusia terdapat kemampuan mengurai seluruh permasalahan yang menimpa, menjadi butiran harapan yang mengkristal menjadi persangkaan, dalam bahasa Tuhan butiran dari harapan hamba-Nya itu di sebut dengan dzonni, yang memiliki makna persangkaan seorang hamba, sebagaimana dalam hadis qudsi Tuhan firmankan, “Ana ‘inda dzonni abdi bi” : Aku (Allah) berada (sama) dengan prasangka hamba-Ku.

Persangkaan kita sebagai seorang hamba merupakan butiran harapan yang Tuhan baca sebagai doa yang harus Tuhan wujudkan. Bukankah perilaku dan sikap yang kita terima dari seseorang, secara otomatis akan terurai dalam wujud harapan dan bahkan doa?

Bila seseorang berbuat zalim kepada kita, perbuatan dan sikap zalimnya itu biasanya terekam dalam hati dan terurai dalam rasa, menjadi harapan dan doa-doa yang disandarkan langsung kepada Tuhan. Muatan dari harapan serta doa itu pasti sepadan dengan kezaliman yang kita rasakan. Demikian sebaliknya apabila kita menerima satu kebaikan dari orang lain, seluruh jiwa raga akan merasakan kebahagiaan, dan kebahagiaan itu direkam oleh hati, kemudian diurai dalam rasa menjadi harapan dan doa-doa tulus kepada Tuhan.

Tuhan merekam kedua gejala di atas sebagai persangkaan seorang hamba. Dan ingatlah bahwa Tuhan memiliki kebijakan mengikuti apa yang diperpersangkakan oleh hamba-Nya.

Kita adalah makhluk sosial yang tidak mampu hidup sendiri. Bersosialisasi adalah keniscayaan yang kita lakukan setiap waktu. Nabi mengharapkan agar kita selalu menjadi yang terbaik dalam berperilaku, bersikap, berbicara, dan dalam meberikan pandangan di setiap ruang dan setiap waktu. “Ittaqillah haitsuma kunta”. Bertaqwalah kepada Tuhan di mana pun kamu saja berada. Artinya menjadi orang baiklah di mana pun dan kapanpun, karena perilaku, sikap, omongan, dan pandangan yang kita berikan, akan menjadi simpanan yang akan kita terima pada saat yang tepat nantinya dengan tunai dan sepadan.

Menyadari bahwa apa yang kita lakukan menjadi simpanan dan investasi yang akan kembali kepada kita di masa datang, maka ingatlah untuk selalu berbuat baik, berperilaku baik, berbuat baik, bersikap baik, berpikir baik, dan berkata baik. Tidak perlu memilih-memilih kepada siapa harus menjadi orang baik, namun berbuat baiklah kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Niscaya perlakuan baik akan mengalir kepada kita dari siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Sebaliknya hindari perbuatan zalim, perilaku buruk, perbuatan buruk, sikap buruk, dan perkataan tidak menyenangkan, kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Niscaya Tuhan akan menahan dan melindungi kita dari perlakuan negatif dan buruk yang bakal menimpa kita.

Rekaman perilaku kita yang menjadi simpanan dan investasi bukan saja yang kita praktikkan kepada orang lain, akan tetapi perilaku yang kita praktikkan kepada orang tua pada posisi kita sebagai anak, berlaku pula sebagai simpanan dan investasi. Bagaimana sikap yang kita lakukan terhadap orang tua, akan Tuhan bayar sepadan melalui perilaku anak kita sendiri saat kita berada pada posisi sebagai orang tua.

Bila kita santun kepada orang tua, merendahkan bicara di hadapannya, menahan emosi dalam bergaul bersamanya, dan tidak menggunakan kemampuan berbicara untuk mendebat mereka, maka Tuhan telah menyiapkan kondisi yang sama dari anak-anak kita untuk kita kelak. Sebaliknya jika kita kurang santun kepada orang tua, meninggikan nada bicara di hadapannya, emosi jika melihat perilaku dan mendengar nasehatnya, apalagi mendebatnya dengan kemampuan bicara yang kita miliki, maka Tuhan juga menyiapkan kondisi yang demikian dari anak-anak kita untuk kita.

Bila kita tulus memperhatikan orang tua tatkala beliau sudah tidak berdaya, mengunjunginya dengan rasa rindu dan kasih sayang, mendoakannya tatkala mereka sudah wafat, maka kelak Tuhan menyiapkan anak-anak kita untuk melakukan hal yang sama kepada kita. Demikian sebaliknya, jika kita kurang peduli kepadanya, jarang mengunjunginya tatkala lemah, enggan mendoakannya tatkala sudah wafat, maka tunggulah Tuhan telah menyiapkan waktu di mana anak-anak kita akan berlaku kurang tulus, kurang kasih sayang, enggan mengunjungi, dan bahkan enggan mendoakan kita.

Kata ulama yang bijak lagi arif, jika ingin merefleksi perilaku seseorang kepada orang tuanya, maka lihatlah bagaimana perilaku anaknya kepada dia saat menjadi orang tua. Rasul menjelaskannya dengan diksi yang indah, “Birru abaukum tabarrakum abnaukum’‘. Berbuat baiklah kamu terhadap ibu dan bapakmu, niscaya anak-anakmu akan berbuat baik terhadapmu.” (HR. Thabrani).   

1 komentar untuk “Sikap dan Perilaku sebagai Investasi”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    MasyaaAllah….tabarakallah ayahanda….
    Nasihat pagii yg sangat menggugah hati,,, lebih2 untuk seseorang yg begitu dekat dengan kita yaitu orang tua,dimanapun kapanpun dan dengan siapapun…..insyaaAllah khaiiir…..semoga Allah sllu memudahkan…..aamiin

    Sehat2 aayahanda….panjang umur mengalir kebaikan serta keberkahan untukmu wahai guruku….aamiin Allahumma aamiin :-):-):-)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.