Tradisi Pencak Jago dan Upayanya untuk Bertahan

Dalam ruang hidup masyarakat desa, ada ritus-ritus kebudayaan lama yang masih dipertahankan. Tak terkecuali tradisi pencak jago yang masih lestari di Desa Dermolemahbang. Salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sarirejo Kabupaten Lamongan. Desa terluas se-Kecamatan Sarirejo dan berjarak 17 km dari pusat Kota Lamongan.

Tradisi pencak jago merupakan tradisi yang biasa digelar pada saat acara temu manten (pernikahan). Ditampilkan setelah pengiringan mempelai putra berjalan menghampiri mempelai putri dengan diiringi tabuhan rebana serta lantunan sholawat Nabi yang dibawakan oleh komunitas ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia).

Pengantin Pria dalam Sebuah Pernikahan

Pencak jago ini merupakan pelengkap acara pernikahan, dilakukan oleh dua orang. Satu orang mewakili mempelai putra dan satunya lagi mewakili mempelai putri. Mereka berdua adu pencak dengan menggunakan gabungan dari dua belas jurus yang telah dipelajari dari nenek moyangnya atau bisa disebut “sesepuh”.

Perwakilan dari mempelai putra inilah yang membawa jago (ayam jantan) digendongannya. Bukan benar-benar jago yang masih hidup, jago ini dibuat dengan janur kuning yang diisi dengan parutan kelapa dan beras, dan dibungkus dengan kain merah. Tetapi seiring berkembangnya zaman, masyarakat tidak lagi menggunakan janur untuk membuat jago di setiap acara pernikahan, kini mereka mempunyai inisiatif untuk membuat jago dari kayu yang bisa di gunakan dalam jangka panjang.

Baca juga: Prinsip-prinsip Perkawinan Islami (1)

Jago yang digendong oleh perwakilan dari mempelai putra ini direbut oleh perwakilan dari mempelai putri. Hal ini dilakukan dengan menggunakan aksi gerakan pencak silat, jika dirasa susah untuk merebut si jago tersebut, mempelai putri menggunakan pisau untuk memudahkan dalam merebut si jago tersebut. Ketika jago tersebut sudah terebut, maka pertandingan pencak jago selesai dan pernikahan dikatakan lebih afdal.

Dahulu, jika perwakilan dari mempelai putri tidak bisa mendapatkan jago yang ada digendongan perwakilan mempelai putra walau sudah menggunakan pisau sekalipun, pernikahan mereka dikatakan kurang afdal.

Namun sekarang “ideologi” tersebut telah diubah, pencak jago hari ini menjadi arena masyarakat untuk bergembira-ria. Ritus-ritus yang kini dijadikan ruang silaturahim dan pertemuan. Pencak jago hari ini, hanya untuk pelestarian tradisi saja. Perwakilan mempelai putri dipastikan bisa menangkap jago yang ada digendongan perwakilan mempelai putra.

Bertahan di Tengah Kepungan

Di tengah gelombang modernisasi yang berakibat semakin dilupakannya tradisi lokal. Pencak jago masih tetap bertahan dan eksis. Daya tahan itu, karena selain keunikannya, tradisi ini juga dapat menjadi hiburan tersendiri untuk acara pernikahan. Aksi pertarungan pencak silat dengan membawa jago dengan diiringi tabuhan rebana dan jidor serta komentar dari pranoto adicoro (MC Jawa) yang khas mengiringi. Bah, Valentino Simanjuntak dengan “jebret”-nya dalam permainan sepak bola. Menjadi daya tarik tersendiri yang sangat disayangkan jika tradisi ini hilang tidak terlestarikan.

Baca juga: Prinsip-prinsip Perkawinan Islami (2)

Pertunjukan pencak jago merupakan bawaan dari komunitas ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia), dipertunjukkan setelah pembacaan sholawat Nabi, dan dilakukan oleh orang dewasa yang berumur yang dipandang mampu menguasai jurus-jurusnya. Tidak semua orang dalam komunitas ISHARI dapat melakukan pencak jago ini, hanya sekitar 3-4 orang saja. Tentunya para generasi muda harus melakukan latihan khusus terlebih dahulu, untuk menguasai dua belas jurus gabungan pencak jago, menjaga agar tradisi ini tidak sampai tinggal kenangan.

Tradisi ini hanya dapat ditemukan di Desa Dermolemahbang saja, merupakan ciri khas desa sekaligus anugrah yang harus selalu dijaga dan disyukuri. Budaya desa yang kental dengan kesantunan dan kekompakannya membuat tradisi desa lebih terjaga dibanding dengan keadaan kota yang mudah tergerus arus modernisasi, dengan tipe masyarakatnya yang lebih mementingkan materi dan cenderung individual ini membuat tradisi turun temurun akan sangat sulit dilestarikan. Sehingga tradisi turun temurun kini lebih banyak ditemukan di pedesaan yang konotasinya tertinggal zaman. Walaupun dunia sudah modern tapi desa tetap menyandang kata tradisional jika dibandingkan kota yang menyandang kata “modern”.

Walaupun seperti itu tamu-tamu dari desa tetangga atau dari kota saat menghadiri undangan pernikahan di Desa Dermolemahbang ikut terhibur dengan adanya pertunjukan pencak jago. mereka ikut menyaksikan bersama anak-anak kecil di desa sembari mendokumentasikan aksi pertandingan pencak jago tersebut. Mungkin bagi desa pemilik tradisi pencak jago sendiri sudah biasa melihatnya, akan tetapi jadi pertunjukan yang luar biasa bagi mereka yang baru pertama kali melihat pertunjukan pencak jago ini.

Baca juga: Peran Keluarga Mewarisi “Maja Labo Dahu” dalam Masyarakat

Masyarakat desa memang selalu dipandang unik dan mengesankan, karena selain kekayaan alamnya, kelestarian tradisi dan budaya menjadi sudut pandang yang tiada habis-habisnya untuk dipelajari. Selain memahami makna-makna yang tersirat dalam tradisi yang diturunkan, dapat juga membuat nilai kesolidaritasan antar masyarakatnya semakin tinggi. “Bedo deso, bedo coro, bedo boso” yang artinya di setiap desa memiliki cara yang unik dalam berbudaya sebagai ciri khas tersendiri, serta logat atau bahasa yang berbeda pula. Dari hal demikian, menunjukkan bahwa begitu beragamnya negara kita Indonesia. Yang jika dikaji secara mendalam akan dapat memberikan ilmu tentang keragaman budaya dan menumbuhkan kedaran akan pentingnya menjaga tradisi yang telah diwariskan.

Ilustrasi: Dok. Pribadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *