Dua Pendengaran Manusia: Catatan untuk Dua Suara Tuhan

BUKU terbitan Alamtara Institute (Cetakan I, Mei 2020) ini tidak hanya desain sampul dan tata-letaknya yang peka terhadap detail, tapi juga kandungannya. Kita disuguhkan wacana kontemplatif berdasarkan detail-detail ayat yang seringkali terabaikan oleh banyak pengkaji al-Quran.

Saya langsung terkesima, begitu menerima buku setebal 229+xiv ini dari nune Abi, panggilan Aribal Waqy, putra penulis buku ini. Judul, warna sampul dan ukurannya sangat pas. Saya langsung membuka dan skening isinya. Subhanalloh. Woww!

Isinya menggelitik. Saya gatel ingin langsung membuat status medsos, tapi mencoba menahan diri. Mengapa? Sebab kalimat yang paling mungkin saya bisa tulis langsung adalah: “Buku yang keren.” Hanya itu. Dan pastinya penulis akan dengan mudah memasukkan saya ke dalam daftar orang yang tak pandai menghargai sebuah karya intelektual seperti ini L.

Alasan lain, saya merasa berada dalam resonansi yang sama. Tapi Abdul Wahid, sang penulis, membuat saya tarik nafas berkali-kali. “Sayangnya” bukan hape yang ingin saya ambil untuk membuat status, tapi kitab-kitab yang dirujuk penulis. Saya buka versi digitalnya, sambil menkonfirmasi pada versi cetakan yang saya miliki. Doktor sastra Arab ini, benar-benar mengajak saya ikut bergelut dengan problematika semantik nash.

Kepekaan—atau tepatnya kehalusan rasa—yang dimiliki penulis sangat terasa, misalnya, ketika menyimak penjelasannya tentang kedalaman makna wal-yatalatthaf dalam surat al-Kahfi dan hubungannya dengan kisah utama yang dimuat surat itu sendiri (h. 122-125). Menurut penulis, ungkapan wal-yatalatthaf tidak hanya menyuruh untuk bersikap lembut tapi juga shigah yang digunakan sangan halus: amar ghaib. Lalu ia mengaitkannya dengan kisah Ashabul Kahfi dari sisi metaforik. Tuhan sesungguhnya, jelas Wahid, ingin mengajarkan pembaca al-Quran agar mengutamakan sikap lembut dalam dakwah. Bahkan ketika menghadapi sekaligus menaklukkan kelaliman seorang penguasa sekalipun. Dan ini yang sumblim: menghadirkan kelembutan itu bisa terjadi ketika pisau analisa ilmu-ilmu sosial-antropologis digunakan. Tidak cukup dengan ilmu dakwah standar, telisik Wahid. Menarik bukan?

Contoh lainkepekaan penulis adalah ketika menguliti kata al-hayawân. Nampaknya kata yang disebut hanya sekali dalam al-Quran ini (al-Ankabut: 64) cukup mengganggu Wahid, sosok cendekiawan lokal dengan kepekaan universal (tak berlebihan agaknya kata-kata saya ini J). Kata yang jelas-jelas berasal dari kata hayy yang berarti kehidupan (akhirat), seperti yang dijelaskan oleh hampir semua mufassir, bagi Wahid adalah sebuah “keanehan.” Tidak seperti al-Asfahani, misalnya, yang menjelaskan bahwa kata al-hayawân adalah salah satu derivasi dari kata hayy yang berarti kekuatan hissiyyah (lihat Mufradât Alfâdz al-Quran) yang darinya hewan diberinama, Wahid malah mempertanyakan sebaliknya: mengapa untuk sebuah kehidupan yang begitu penting dan sentral dalam doktrin Islam digunakan kata al-hayawân pada ayat ini? (h. 138-142). Penulis mengabaikan penjelasan para ulama yang sudah sangat dia pahami, sambil tetap membiarkan dirinya berimajinasi dan menkonstruksi sebuah ibrah. Maka mengalirlah tadabbur penulis tentang “makna” di balik penggunakan kata al-hayawân untuk akhirat ini. Hmmm…, agaknya penulis terusik karena hayawân telah diserap menjadi kata ‘hewan’ dalam Bahasa Indonesia dengan konotasi berbeda. Benarkah? Hanya Allah dan penulis yang tahu J.

Selanjutnya tentang kata kerja (fi’l) dengan fa’il mahjub pada ayat 25, surat Yunus. Penulis bersikeras bahwa kata yad’uw (يَدْعُوْا) dengan alif menunjukan adanya fa’il jama’, bukan mufrad: bukan hanya Allah, tapi ada juga selain Allah—yaitu makluknya yang terlibat dalam proses menyeru (yad’uw dengan alif). Saya coba membuka al-Baidhawi, al-Munir dan Marah Labib Imam Nawawi yang disandari penulis. Ketiga mufassir ini ternyata sama dalam memandang Yunus ayat 25 ini: failnya tunggal, hanya Allah, meskipun dengan penulisan yad’uw+alif. Saya mencoba melacaknya lebih jauh pada tafsir-tafsir yang juga biasanya sangat peka terhadap persoalan semantik semacam ini, sepert al-Razi, al-Qurtubi bahkan al-Mizan. Namun hasilnya sama. Musthafa Darwisy yang secara khusus menulis aspek kebahasaan al-Quran ketika mengi’rab ayat ini juga tidak menyinggung adanya fa’il jama’ mahjub (lihat I’râb al-Qur’ân wa Bayânuh). Maka tambahan alif di sini sepertinya tak lebih sebagai ziyadah dalam penulisan rasm Usmani.

Namun memang ada sedikit penjelasan dalam al-Baidhawi yang menyinggung bahwa yang menyambut penghuni surga (baca: dâr as-salâm) nanti adalah Allah dan Malaikat. Nampaknya celah ini dijadikan pintu masuk oleh penulis untuk memberi makna bahwa yad’uw+alif dalam ayat ini berfa’il jama’ mahjub. Lalu apa pesannya? Nah silahkan beli dan baca buku yang penuh greget ini, ya J.

Demikian sedikit komen saya atas catatan “personal” ini. (Ya, saya merasa ini lebih seperti Catatan Harian Ahmad Wahib, yang dengan leluasa bertanya tentang—untuk menghindari kata mempertanyakan—ayat-ayat al-Quran yang, seperti kata penulis sendiri, seringkali menggunakan modus linguistik untuk menggoda potensi tadabbur pembacanya [h. 139]).

Tapi, sebentar, tulisan ini tidak hanya tentang catatan tadabbur al-Quran, dalam makna literalnya, tapi juga tentang catatan sosial budaya dan agama yang menjadi spesialisasi kajian penulis. Ada juga catatan mimpi bertemu sesosok tua berjenggot dengan baju putih dan muka bening bercahaya: Sang Nabi, yang berbisik pada penulis saat terlelap sejenak di Raudhah (h. 137):

Ya, aku, aku yang datang

Aku jangan kau sekap di dalam pikiranmu,

di dalam hatimu, apalagi dalam ruang sempit yang dijaga

Rumahku tidak berdinding

Aku bahkan tampa rumah

Karena aku cahaya

Jika engkau hendak mengunjungiku,

Sudah aku sambut engkau di langkah pertamamu

Aku yang datang menjengukmu

Aku Nabimu

Bukan rajamu.

(Maaf saya tuliskan ulang dengan gaya puitisasi)

(Setelah membaca bagian ini, rasanya saya ingin rebah. Kerinduan pada Sang Nabi merasuk. Saya bahkan hampir tak berani memejamkan mata… sepertinya ada gumpalan air dalam kelopaknya. Saya malu jika dilihat mengeluarkan air mata oleh orang di samping saya).

***

Spirit adanya makna tersirat di balik setiap kata dan kalimat Quran agaknya bergitu dalam menghunjami relung jiwa penulis, seolah ada laut terbentang luas dan kata-kata Quran bahkan huruf-hurufnya ibarat iringan perahu yang tak berkesudahan. Maka, pembaca harus bersiap-siap menerima kejutan-kejutan yang ditemukan penulis dalam proses kontemplasi beliau menyusuri setiap kata dan huruf dari kitab yang disebut oleh Imam al-Ghazali sebagai ‘samudra tak bertepi (bahr lâ sâhila lah)’ ini.

Jika Tuhan memiliki dua suara, meminjam istilah penulis, maka saya pikir ini juga berarti manusia setidaknya memiliki dua pendengaran. Bahkan lebih. Bukankah al-Quran sejatinya, seperti kata Sayidina Ali, dzû l-wujûh? Dan salah satu pendengaran itu adalah buku Dua Suara Tuhan ini. Wallahu a’lam.

Pejeruk, 5 Muharram 1442/23 Agustus 2020

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *