Keajaiban Tidur

BAHAN dasar penciptaan manusia terdiri dari beberapa elemen alam yang disatukan Tuhan, yakni tanah, air, api, dan angin. Demikian para Salafus Salaf memberikan penjelasan. Dengan modal bahan dasar tersebut tercipta berbagai sifat manusia yang melekat pada dirinya, seperti sabar, jujur, nerimo, keras, bantah-bantahan, berkeluh kesah, pemarah, dan sebagainya. Lalu Tuhan memberinya potensi untuk membedakannya dengan makhluk lain.

Manusia diberi potensi untuk cerdas supaya mampu memikirkan dan menganalisis secara mendalam ayat-ayat Tuhan yang terhampar maupun yang terurai dalam lembaran-lembaran firman-Nya. dan menerangkan ayat-ayat itu melalui tulisan dan retorika. Diberinya potensi berupa volume naluriah untuk mampu mengenal banyak ragam ciptaan Tuhan yang bermanfaat untuk dirinya.

Dengan potensi itu manusia memiliki segalanya, makan segalanya, minum segalanya, dan berhasrat kepada segala hal. Diberinya potensi berkarya untuk menjadi makhluk yang berbudaya, berkembang, berinovasi, berkreasi, dan terampil membuat perubahan-perubahan dalam hidupnya. Diberinya potensi bersosialisasi untuk saling mengenal, saling peduli, dan saling menghargai satu sama lain untuk kedamaian hidup.

Untuk keseimbangan potensi-potensi itu Tuhan menciptakan dua waktu yakni siang dan malam. Siang hari dipersiapkan untuk memaksimalkan perkembangan potensi-potensi yang diberikan Tuhan agar tidak mubadzir, sementara malam hari dipersiapkan untuk rileksasi dan merefleksi kembali perjalanan dan perkembangan potensi-potensi tersebut. Bahasa Tuhan “Aku jadikan siang untuk bekreasi dan aku jadikan malam untuk istirahatmu”.

Maksud Tuhan menyemai potensi-potensi itu dalam penciptaan manusia, agar manusia mampu mencapai tingkat kesempurnaan dari penciptaannya yakni menjadi makhluk yang pandai berterima kasih kepada penciptanya. Namun amat sedikit sekali yang mampu membaca maksud Tuhan itu, bahkan dengan potensi yang ada tidak sedikit dari kita yang lupa bahkan enggan berterima kasih atas anugerah Tuhan.

Dengan perkembangan potensi yang dimiliki, ada yang menyebabkannya sombong, takabbur, dan congkak, bahkan ada yang merasa dirinya pantas sebagai nabi, dan malah dengan lugunya memposisikan dirinya sebagai tandingan Tuhan. Semua gejala yang dipertontonkan oleh hambanya, Tuhan sikapi dengan pengakuan yang penuh damai “Faqalilun min ibadiasysyakur,” Amat sangat sedikit dari hamba-Ku yang pandai berterima kasih.

Manusia yang tidak masuk ke dalam “Ibadiasysyakur” adalah yang gagal mencapai tingkat kesempurnaan, namun kebanyakan dari manusia tidak menyadarinya. Andai manusia mau merenung agak dalam, sungguh akan malu dengan sikapnya sendiri, akan sadar dengan kelemahannya, dan akan sadar akan posisinya hanya sebagai “abidun” yang tidak memiliki kekuatan yang konstan.

Tuhan tidak perlu bersusah payah untuk membuat kita berada pada potensi nol, dan pada potensi nol itulah kita sesungguhnya sedang berada di titik kesempurnaan sebagai makhluk-Nya, yakni dengan membuat kita tertidur pulas. Dengan tertidur maka seluruh potensi yang membuat kita sombong, angkuh, congkak, dan melampaui batas itu tidak akan tampak.

Orang yang mengaku dirinya sangat cerdas—akan dungu tatkala sedang tidur, orang yang menganggap dirinya kuat—akan hilang kekuatannya saat tidur, orang yang menganggap dirinya paling berkuasa—akan hilang pamornya saat tidur, orang yang merasa dirinya berilmu—akan hilang kepintarannya saat tidur.

Jadi sangat pantaslah apabila ada kalimat bijak yang terdengar bahwa manusia akan berada pada posisinya sebagai makhluk yang sebenar-benarnya adalah tatkala sedang tidur. Dengan tertidur Tuhan tidak menjalankan pengawasannya, Tuhan tidak memberlakukan hukum-Nya, Tuhan tidak mencatat amalannya, Tuhan tidak menitahkan kewajiban, dan Tuhan tidak memberlakukan syariatnya.

Di posisi inilah manusia berada pada kepasrahan total atas dirinya dan berada pada kesmpurnaan penciptaannya. Dia tidak memiliki kekuatan untuk sombong, tidak memiliki kemampuan untuk congkak, tidak memiliki kesempatan untuk angkuh, bahkan tidak berdaya untuk membangkang.

Tuhan mencatat pengakuan manusia atas kondisi yang demikian itu dengan diksi yang pantas “Nahnu lana abidun,” sesungguhnya kami hanyalah seorang hamba. Hanya dengan tidur manusia dapat dibersihkan Tuhan dari sifat-sifat yang mencederai kedudukannya sebagai makhluk yang terbaik yang Tuhan ciptakan.  Maka wajar apabila syariat agama menuntun kita untuk membuat pengakuan diri atas kelemahan yang kita miliki dengan berucap terima kasih pada saat kita terjaga dari tidur.    

Sebagai catatan akhir, sungguh sangat mudah bagi Tuhan untuk menaruhkan kelebihan pada kita melebihi makhluk lain, dan betapa mudahnya bagi Tuhan untuk mengangkat kita pada posisi melebihi makhluk lain. Namun semudah itu pula bagi Tuhan untuk membuat kita tidak berdaya.

Mari kita renungkan sindiran Tuhan atas kelalaian dan kealpaan kita yang tercatat dalam firmannya yang santun di surah ke-7 ayat 179: “Lahum qulubun la yafqahuna biha, walahum a’yunun la yubshiruna biha walahum adzanun la yasma’una biha.” Aku berikan kamu hati, tetapi jarang engkau gunakan untuk berpikir. Aku anugerahi kamu pengelihatan, tetapi sedikit sekali kamu gunakan untuk mengamati kebesaran Tuhan. Aku bekali kamu dengan pendengaran, tetapi sering sekali kamu lalai dari suara-suara yang mengingatkanmu.[]    

Ilustrasi: laduni.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *