Falsafah Tidur Panjang

ASHABUL Kahfi tidak asing di telinga orang Muslim. Mereka adalah sekelompok pemuda yang konon dimasukkan ke dalam golongan yang menentang kezhaliman penguasa pada zamannya. Mereka lari meninggalkan konspirasi kezhaliman pemimpin negerinya menuju suatu tempat yang tenang dan tersembunyi, yakni gua (kahfi).

Di gua situlah mereka melepas kepenatan dan kelelahan pisik dan psikis, merebahkan badan untuk rileksasi setelah sekian panjang perjalanan yang ditempuh, sampai akhirnya mereka tertidur pulas selama 309 tahun menurut penuturan al-Qur’an. Setelah tidur panjang telah dijalani, mereka terbangun dan masing-masing merasa baru tertidur setengah hari.

Tiga ratus sembilan tahun di dalam gua, Tuhan anugerahi mereka rasa dengan menukar rotasi waktu mereka dengan rotasi waktu di sisi-Nya menjadi terasa setengah hari.

Pernahkan kita bayangkan, gerangan apa yang ingin Tuhan komunikasikan kepada kita dengan adanya peristiwa tertukarnya rotasi waktu di sisi manusia dengan rotasi waktu di sisi Tuhan?

Tuhan ingin katakan kepada kita bahwa 309 tahun rotasi waktu di dunia sama dengan setengah hari rotasi waktu di sisi-Nya. Itulah gambaran bahwa rotasi waktu yang dijalani manusia setelah lepas dari kehidupan dunia, tiga ratus sembilan tahun tertidur menurut ukuran waktu di dunia sama dengan setengah hari di kehidupan barzakh sebagaimana rasa yang dialami oleh Ashabul Kahfi.

Jadi apa yang kita bayangkan tentang lamanya tertidur di alam barzakh (kubur) tidaklah sama dengan kenyataan yang teralami oleh penghuni-penghuni barzakh. Artinya kalau manusia baru meninggal seratus tahun ukuran waktu dunia, maka ukuran waktu di alam barzakh belum seperempat hari kalau kita gunakan skala rasa yang dialami Ashabul Kahfi.

Tidur di alam barzakh memang tidur yang amat sangat panjang, belum ada satu statemen dari tesis keagamaan yang menerangkan berapa lama manusia tertidur di sana hingga datangnya masa untuk dibangkitkan. Sehingga dalam bayangan semua manusia bahwa tidur panjang di alam barzakh itu adalah tidur yang tak berujung dan tak bertepi, tidak ada kepastian tentang ujungnya dan tidak ada pula kepastian tepinya.

Nabi hanya menggunakan satu frase yang diplomatis untuk mengobati rasa trauma waktu umatnya “Kullu atin qarib. Setiap yang akan datang adalah dekat. Dengan kalimat itu semua manusia yang yakin terhadap kerasulan dan kenabian beliau memiliki prediksi bahwa hari kebangkitan itu dekat sekalipun dekatnya tidak bisa diukur oleh detik dan masa.

Trauma waktu panjang dalam memandang proses menuju kematian harus kita ubah dengan optimisme bahwa waktu di barzakh akan kita rasakan amat singkat karena begitu perpindahan telah kita lakukan dari satu alam ke alam lain, maka waktu dan rasa pun akan berubah. Tuhan pasti tidak tega menoreh rasa bosan dalam asa hamba-Nya dalam menghuni setiap fase alam yang dialami manusia.  

Masa tidur yang amat panjang di alam barzakh menjadi salah satu penyebab manusia enggan untuk menyambut proses kematian dengan optimis. Terbayang betapa menderitanya badan ini, betapa lamanya penantian untuk bangkit lagi, betapa lamanya harus terbujur, dan segala macam bayangan hidup di dunia digunakan untuk membanding apa yang ada di barzakh.

Mari kita gunakan teropong Socrates yang begitu optimis memandang kematian sebagai tidur yang menyenangkan. Beliau mengatakan “Tidur setelah kelelahan walau hanya setengah jam begitu membuat fisik dan psikis menjadi fresh, apalagi nanti setelah tidur panjang kematian, alangkah lebih freshnya fisik dan psikis ini tatkala bangun dari tidur yang amat sangat panjang”. 

Socrates ingin mengatakan bahwa tidur yang dialami manusia selama kematiannya adalah tidur dan istirahat yang membahagiakan dan menyenangkan, karena kelelahan akibat panjangnya masa dan waktu digunakan untuk segala macam energi dalam menyangga dan memperjuangkan segala macam kebutuhan hidup, sehingga tidur kematian adalah istirahat panjang yang oleh Socrates dikatakan tidur yang membuat manusia fresh secara fisik dan psikis.

Rasul SAW dalam salah satu hadits mengatakan bahwa “Kematian adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang yang beriman.” Lepas dari pandangan ajaran agama tentang balasan amal baik dan buruk, dari sisi rasa jasadi yang dialami fisik kita bahwa kematian adalah suatu istirahat terakhir yang amat panjang dalam selimut kedamaian. Itulah mungkin yang melatari adanya tulisan di beberapa batu nisan orang yang telah mati “rest in peace (RIP)”.

Kematian adalah suatu peristirahatan menuju kedamaian. Damai adalah kelanjutan dan padanan dari mati, karena kematian akan menuju kebebasan dari hiruk pikuk kesibukan, tuntutan, dan beban dunia. Apalagi kedamaian itu menjadi dambaan setiap orang – damai dalam pemikiran dan perasaan orang hidup di dunia adalah obsesi semua manusia, dan bagaimana hal yang sama ingin pula dinikmati dalam tidurnya yang sangat panjang di barzakh selepas dari hiruk pikuk kehidupan dunia.

Itulah mungkin yang mendorong tetesan tinta dari ujung pena filosof Socrates yang melahirkan goresan optimisme bahwa “tidur beberapa menit membuat fresh, apalagi tidur yang panjang.”[]

Ilustrasi: harakah.id

3 komentar untuk “Falsafah Tidur Panjang”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Smoga kita semua bisa optimis dlm menyambut kematian,,, sebagai tidur panjang yg membahagikan dan nenyenangkan,,,,
    *kutipan * TUHAN tidak tega menoreh rasa bosan dlm asa hambaNya dlm menghuni setiap fase yg dialami manusia,,, manttaaap, alhmdulillah

  2. Msya Allah Tidur Panjang Pemuda Ashabul Kahfi merupakan hadiah dari Allah atas perjuangannya mempertahankan Kalimah Tauhid lailahaillallah sehingga 309 tahun seperti setengah hari Namun bagaimana dengan Kematian dan di Alam barzah nanti … sementara ada proses Pertanggung jawaban Amal kita Bisakah kita tidur sementara Malaikat Mungkar Wanakir menanyakan perihal keimanan kita …dan Alam barzah merupakan penentu Keberhasilan kita di Akhirat …Wallahu Aqlam…. Tunas maaf Kalw salah tiang menanggapi

  3. Subhanallah Tidur panjang Pemuda Ashabul Kahfi merupakan hadiah dari Allah SWT yang telah berjuang mempertahankan Kalimah Tauhid lailahaillallah…. Namun bagaimana dengan Kematian kita apakah kita bisa tidur panjang sementara kita mempertanggung jawabkan Amal perbuatan kita dan mampukah kita menjawab Pertanyaan Malaikat Mungkar Wanakir….semoga kita kembali kepada Allah SWT dengan Husnul khatimah amiiin ya Allah ya rabbal alamiiin?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *