Sepenggal Kisah Afan Gaffar dan Mahfud MD

Ilustrasi: liputan6.com

ALMARHUM Afan Gaffar, guru besar di bidang politik dari Universitas Gajah Mada yang juga kelahiran Bima NTB adalah satu di antara tiga tokoh yang diakui oleh Mahfud MD sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup dan karirnya.

Mahfud MD termasuk sosok yang unik, komplit dan inspiratif. Di ranah akademik, dia mengawinkan antara ilmu hukum dan ilmu politik. Tak hanya berhenti sebagai akademisi yang bersemayam di menara gading teoritik, tapi juga terjun di pentas praktis, sebagai politisi, aktivis, hakim hingga menteri. 

Sang Guru Besar ini dikenal sebagai pejabat trias politica (eksekutif, legislatif, yudikatif). Di cabang eksekutif, saat ini Mahfud MD menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) era Jokowi-Makruf Amin. Mahfud merupakan Menko Polhukam pertama dari kalangan sipil sepanjang sejarah RI. Di era Gus Dur, pernah menjadi Menteri Pertahanan selama sekitar 11 bulan, lalu menjadi Menteri Hukum dan Perundang-Undangan sekitar 20 hari. 

Di cabang legislatif, Mahfud MD sempat mengisi kursi jabatan di DPR dari PKB. Sebelumnya, Mahfud tercatat sebagai salah satu pendiri PAN. Sedangkan di cabang kekuasaan yudikatif, ia bersinar terang sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi.

Biasanya tokoh-tokoh hebat itu tidak lahir dari ruang hampa. Sejumlah jabatan di berbagai cabang kekuasaan yang diraih Mahfud MD itu bukan sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit. Tentu saja berkat ketekunan belajar, kerja keras, jaringan yang dibentuk sekian lama, dukungan dan doa keluarga terdekat, iklim pergaulan yang kondusif dan mentoring dari sosok berpengaruh yang mewarnai perjalanan karirnya. 

Semula, Mahfud MD hanyalah seorang dosen di salah PTS di Yogyakarta. Singkat cerita, Mahfud yang lahir dari rahim pesantren itu kemudian terorbit di etalase perpolitikan nasional sejak dipilih oleh Gus Dur sebagai Menteri Pertahanan dengan segala dinamika yang menyertainya.

Karena itu, dalam tulisan bertajuk “Lebih Dekat dengan Mahfud MD; Profesor yang Lebih Suka Disebut Lulusan Pesantren” (Suara Merdeka, 27 Mei 2011) yang dimuat kembali dalam www.antikorupsi.org, bahwa Mahfud menganggap Gus Dur sebagai salah satu dari tiga orang yang ditakdirkan Tuhan sebagai sosok yang sangat berarti dan mempengaruhi perjalanan hidupnya. 

Dua orang berpengaruh lainnya adalah Kiai Mardhiyan, guru utama Mahfud di Ponpes Mardiyyah Pamekasan yang membekali moral keagamaannya, dan Prof. Afan Gaffar, dosen pembimbingnya di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Afan Gaffar menyuntikkan semangat hingga Mahfud yang sempat hilang percaya diri mampu menyelesaikan gelar doktor Ilmu Hukum di UGM dalam waktu 2,8 tahun. Itu gelar tercepat di UGM. Biasanya gelar itu tercapai dalam 6-8 tahun. Mahfud juga meraih gelar profesor termuda dalam usia 41 tahun.

Mengenai peran penting Afan Gaffar (alm.) dalam perjalanan akademik Mahfud MD hingga diutus ke Amerika Serikat atas rekomendasi Afan Gaffar termuat dalam Biografi Mahfud MD berjudul “Terus Mengalir” yang ditulis oleh Rita Triana Budiarti (2013, Konstitusi Press). Sebagai catatan, Prof. Afan Gaffar adalah pengamat politik nasional, Guru Besar FISIP UGM kelahiran Tente-Bima (NTB), 21 Juni 1947 – meninggal di Yogyakarta, 8 Januari 2003 pada umur 55 tahun. 

Perhatian Afan Gaffar terhadap Mahfud MD sampai urusan mencarikan bahan-bahan untuk disertasi Ilmu Politik Hukum tersebut. Setiap habis bepergian ke mana pun, Afan Gaffar selalu membawa pulang buku. “Ini bahan disertasimu”, katanya. Bahkan, secara lebih spesifik, Afan menyuruh Mahfud membaca halaman tertentu. (2013: 104-105).

Bahkan, Pak Afan Gaffar, dosennya, sibuk mencarikan Mahfud beasiswa. “Kamu ke New York, belajarlah di Perpustakaan Pusat Studi Asia di Colombia University”, begitu kata Afan Gaffar ketika itu. (2013: 105).

Sebagaimana diketahui, Afan Gaffar adalah doktor ilmu politik lulusan Northern Illinois University (NIU) Amerika Serikat.Walaupun Afan Gaffar kelahiran Bima, namun ia terpilih sebagai Ketua Penyusunan Rancangan Undang-undang tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kala itu, makanya dijuluki “Orang Bima yang Sangat nJawani”. 

Atas jasa Afan, pada 1990, Mahfud dikirim ke Amerika Serikat selama setahun khusus untuk menulis disertasi. Di sana ada Pusat Studi Asia yang menyimpan koleksi buku tentang Indonesia dengan lengkap. Tapi Mahfud MD hanya 8 bulan di sana. Sisa waktunya dihabiskan di Northern Illinois University (NIU) di DelKab. (2013: 106).

Lebih dari itu, Mahfud MD dulunya pernah jadi perokok lalu berhenti berkat Afan Gaffar. Mahfud MD asal Madura yang terbiasa merokok sejak kecil itu berhenti menghisap rokok sejak 1990. Pada waktu itu, gara-garanya ditakut-takuti oleh Profesor Afan Gaffar sebelum Mahfud MD berangkat ke Amerika Serikat.

“Tapi saat akan ke Amerika tahun 1990 saya ditakut-takuti oleh Prof. Afan Gaffar bahwa orang yang merokok di Amerika dikucilkan, sejak itu saya berhenti merokok, sepulang dari Amerika terus tak ingin merokok lagi,” tulis Mahfud MD dalam akun Twitter-nya.

Abdul Gaffar Karim, dosen FISIP UGM dalam tulisannya berjudul “Nyawa Rangkap Mahfud MD” dalam portal islami.co, menyebut bahwa beberapa kali melihat Pak Mahfud datang ke ruang kerja Pak Afan. Pria asal Madura yang pernah jadi asisten Pak Afan itu mengungkap bahwa waktu Pak Afan dikukuhkan sebagai guru besar ilmu politik di UGM, Pak Mahfud turut membantu beberapa urusan, dan memberikan testimoni di media massa.

Akhirnya seperti kita saksikan sekarang, Mahfud MD masih terus eksis dalam lanskap politik nasional. Alumni HMI yang berasal dari tradisi peribadatan NU, namun berpikir Muhammadiyah. Begitulah ciri khas Mahfud MD. Dibesarkan secara politik oleh Gus Dur, diasuh secara spiritual dan moral keagamaan oleh Kiai Mardhiyan, dan dibimbing secara akademik-intelektual oleh Prof. Afan Gaffar. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *