Tersembunyi di Bumi, Tersohor di Langit

KHUMUL, salah satu istilah yang populer pada zaman Rasul Saw dan zaman sahabat, yakni satu istilah sederhana bagi kaum muslimin kala itu yang rela dirinya tidak nampak dalam melaksanakan aktivitas keagamaan. Dia sangat taat—tetapi ketaatannya tersembunyi, dia dekat dengan Tuhan dan Nabi—tetapi kedekatannya hening, dia yakin dengan seluruh ajaran Tuhan yang disampaikan oleh Nabi—tetapi dia malu memperlihatkan keyakinannya di tengah-tengah dinamika aktivitas manusia. Itulah Khumul, label buat generasi yang keberadaannya tersembunyi, label sederhana namun bernilai tinggi di hadapan Tuhan. Mereka memegang satu prinsip, “Rahasiakanlah amal ibadahmu, sebagaimana engkau merahasiakan semua aib-aibmu”.

Di dalam ajaran Islam, kita dididik untuk tawaddu’ dan rendah hati. Selama ini hampir tidak ada dari kaum muslimin yang tidak paham makna dari konsep tawaddu’ dan rendah hati, namun pada tataran aplikatif tidak berbanding lurus dengan pemahaman kosepnya. Pemahaman tentang tawaddu’ dan rendah hati tidak teraplikasi dalam prilaku sehari-hari.

Tawaddu’ dan rendah hati itu aplikasinya adalah khumul, yakni tersembunyi dari pandangan dan pujian makhluk bumi dalam melakukan aktivitas ibadah kepada Tuhan. Tidak ingin untuk dilihat—apalagi memperlihatkan diri, tidak mau diketahui bagaimana dia mendekat dengan Tuahnnya—apalagi memberitahukan kepada orang-orang, tidak suka disebut-sebut sebagai orang taat—apalagi dengan sengaja memerkan ketaatan. 

Tuhan sangat suka dengan orang-orang yang tersembunyi, Dia senang bermesraan dengan hambaNya di tengah kesunyian dan keheningan, Dia puji hambaNya yang mampu marahasiakan hubungan eratnya dengan diri-Nya.

Lihat saja beberapa firman dan syariat yang diberikan kepada Nabi-Nya, ada nilai kemuliaan untuk hal-hal yang tersembunyi jika kita mau dan sabar menelusurinya.

Salah satu firmannya yang mengindikasikan kesunyian diri seorang hamba yang sangat disukai Tuhan, bahkan dengan tegas Tuhan katakan akan mengangkat derajat seorang hamba ke tempat terpuji, yakni pada surah ke 17 ayat 79, ”Wa minal laili fatahajjad bihi naafilatan laka `asaa an yab`atsaka rabbuka maqaaman mahmuudan”. Dan pada sebagian malam, shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Baca juga: Empat Puluh Jam Tanpa HP, Sungguh Menyenangkan

Sebegitu banyaknya salat yang disyariatkan, baik yang fardhu maupun yang sunah, hanya salat dalam keheningan yang Tuhan janjikan sebuah kemuliaan, itu tidak lain karena Tuhan suka dengan hambanya yang tersembunyi.

Kemudian di surat ke-3 ayat 17 “wal mustaghfiriina bil ashar”. Dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sebelum fajar. Ini juga mengindikasikan bahwa pergumulan manusia dengan kekhilafan dan dosanya akan diistimewakan Tuhan jika mengadu kepadaNya dalam keheningan sebelum fajar, artinya firman Tuhan itu menunjukkan keutamaan istghfar di waktu sahur—bersembunyi dalam keheningan dan kesunyian penghujung malam.

Nabi memberi penegasan yang senada tentang mulianya orang-orang yang tersembunyi, beliau menitip pesan bahwa “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Tuhan dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan selain naunganNya. Di antaranya, seseorang yang mengeluarkan suatu sedekah, tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.”

Simbol aktivitas tangan kanan tidak diketahui oleh tangan kiri dalam memberi, merupakan isyarat amalan tersembunyi yang begitu tinggi nilainya di hadapan Tuhan, bukan karena volumenya akan tetapi karena proses menunaikannya yang tersembunyi, sehingga Tuhan hargai dengan naungan di yaumil akhir.

Setelah kita memahami betapa amalan orang-orang yang tersembunyi dan rahasia itu begitu tinggi nilainya, masihkah kita ingin menampakkan diri dalam semua aktivitas ibadah dengan Tuhan? Tidak tetarikkah kita dengan khumul—tersembunyi dalam beberapa atau sebagian dari aktivitas yang kita lakukan, sehingga di samping ada yang terang-terangan, juga ada yang kita sembunyikan khusus dengan Tuhan?

Baca juga: Islam, Ideologi dan Tafsir Kesetaraan Pancasila

Dalam kesempurnaan amalan, di dalamnya harus ada nilai keikhlasan, dan nilai itu tidak akan didapatkan melainkan dengan sembunyi dan dirahasiakan. Kemampuan dan kesungguh-sungguhan dalam menyembunyikan diri pada setiap aktivitas kebaikan dan kebenaran yang kita lakukan, menjadi point penting untuk memperoleh nilai kemuliaan di sisi Tuhan. Dan sebaliknya, kegirangan dan kegandrungan kita untuk harus tampak dalam semua pergumulan hidup, terutama dalam hubungan ibadah dengan Tuhan, akan menemui fatamorgana yang menipu dan menyesalkan di sisi-Nya.

Di kalangan sahabat ada untaian atsar yang cukup indah untuk kita renungkan. Dari al-Husain bin al-Hasan al-Marwazi diriwayatkan bahwa ia berkata, Abdullah ibnu Mubarok pernah berkata: “Jadilah orang yang menyukai status khumul (status tersembunyi dan tidak dikenal) dan membenci popularitas. Namun, jangan engkau tampakkan bahwa engkau menyukai status rendah itu sehingga menjadi tinggi hati. Sesungguhnya mengklaim diri sendiri sebagai orang zuhud justru mengeluarkan dirimu dari kezuhudan karena cara itu, kamu telah menarik pujian dan sanjungan untuk dirimu.” (Shifatu ash-Shafwah, 2/325)

Andai kita rela dan ikhlas untuk tidak terlihat, untuk sembunyi, untuk tidak dikenal, dan untuk tidak diceritakan dalam aktivitas kebaikan dan kebenaran yang berhubungan dengan Tuhan (khumul), maka kita akan menjadi hamba yang tidak dikenal oleh penduduk bumi, namun dikenal oleh penduduk langit. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *