Ramadhan: Gerakan Revolusi Mental

RAMADHAN menjadi salah satu bulan yang sangat penting bagi kita kaum beriman, kehadirannya tidak boleh dianggap biasa-biasa, tetapi harus disikapi dengan luar basa, karena Tuhan mensyariatkan puasa itu tidak hanya sekedar untuk malatih kemampuan melaparkan diri, kemampuan menahan hawa nafsu, dan kemampuan untuk menahan diri dari materi yang berlebih, tetapi lebih dari itu, ia membawa pesan revolusi menyeluruh bagi pelakunya.

Ibarat seorang guru atau dosen yang memberi tugas kepada siswa atau mahasiswanya untuk membuat proyek atau makalah ilmiah, semata-mata ingin agar siswa atau mahasiswanya benar-benar terlatih dan menjadi pandai dalam materi yang diajarkan dan menjadi penulis yang andal di kemudian hari. Begitulah puasa, begitu pentingnya muatan yang dikandung buat pelakunya, Tuhan membuatnya sebagai kewajiban, tidak lain agar benar-benar dikerjakan dengan serius, karena efek yang luar biasa pasti akan dirasakan oleh pelakunya secara jasmani dan rohani.

Kemudian untuk meyakinkan kita betapa puasa itu sangat besar manfaatnya buat pelaku puasa, Tuhan tidak sekadar mewajibkan, tetapi ditunjukkan pula bukti bahwa puasa itu juga diperintahkan kepada umat atau generasi sebelum kita agar kita benar-benar yakin bahwa Tuhan benar-benar serius dengan perintah puasa tersebut.

Setelah kita renungkan secara mendalam, puasa memang benar-benar merevolusi pelakunya. Dalam kehidupan kita selama di luar bulan Ramadhan, bisa dikatakan kita sering berlaku tidak patuh terhadap konsep-konsep kebenaran yang Tuhan syariatkan lewat nabiNya, sering kita lalaikan atau bahkan sering kita abaikan. Hitung saja jumlah waktu dalam sehari dua puluh empat jam, tidak ada separuh waktu dari dua puluh empat jam kita gunakan khusus untuk Tuhan. Maka dengan puasa ini Tuhan merevolusi mental kita untuk harus patuh dan tunduk. Kita harus rela lapar demi karena Tuhan selama dua belas jam sehari semalam dalam waktu tiga puluh hari.

Kemudian kaitannya dengan disiplin, kalau kita jujur dan tidak enggan mengaku bahwa kita sebenarnya makhluk yang sulit untuk hidup dengan budaya disiplin. Demikian juga hidup tertib, kita salah satu dari makhluk yang sulit untuk tertib. Begitu pula dengan hidup yang teratur, kita termasuk makhluk yang enggan untuk hidup teratur.

Mari kita coba telisik kebiasaan-kebiasaan keseharian kita di luar Ramadhan, makan misalnya—kita hampir tidak memiliki jadwal makan yang konsisten, kapan saja kita mau makan tidak pernah ada pertimbangan, apalagi untuk mengikuti saran Nabi bahwa makanlah tatkala lapar—sering kita langgar. Dalam hal ibadah sering kita abai dan lengah baik volume maupun waktu pelaksanaannya. Bangun di pertengahan malam pun juga sering terlewat begitu saja—hening hingga subuh berkumandang. Tilawah al-qur’an seakan-akan tidak menarik untuk dilakukan. Dan banyak lagi kegiatan lain yang tidak teratur dan tidak tertib.

Begitu Ramadhan tiba, sepanjang ramadhan semua unsur yang sering kita abaikan dan sering kita lalaikan direvolusi secara dramatis. Kita mulai makan dengan teratur, ada batas-batas waktu kita harus makan, ada pula waktu kita harus berhenti makan, dan ada waktu untuk kita harus tidak makan dalam waktu yang cukup panjang. Tidur menjadi teratur dengan sendirinya, karena di pertengahan malam tanpa paksaan kita harus dan mesti bangun dengan waktu-waktu yang sangat teratur. Shalat yang tadinya kita merasa cukup dengan rotasi lima kali dalam sehari semalam, menjadi kita patuh untuk menghabiskan awal-awal malam dengan shalat yang jumlah raka’atnya spektakuler. Membaca al-qur’an menjadi harus dengan penuh kedamaian dan kepatuhan total tanpa ada unsur dipaksa.

Ternyata ramdhan merovolusi kita untuk patuh sebagai hamba, untuk menjadi makhluk paling tertib dalam menyikapi hidup, menjadi hamba Tuhan yang harus disiplin dengan mentaati waktu-waktu yang boleh dan tidak boleh, menjadi manusia yang hidup secara teratur dan tunduk pada aturan-aturan yang digariskan Tuhan. Secara tidak sadar kita mengakui diri sebagai hamba yang sesungguhnya, sebagaimana label yang dicelupkan Tuhan, “Nahnu lana abidun”, bahwa kita benar-benar menjadi hamba yang patuh dan tunduk hanya kepadaNya.

Ketundukan dan kepatuhan kita dalam bulan Ramadhan adalah ciri dari revolusi mental secara total yang akan berefek pada diri kita sendiri sebagai pelaku puasa yakni kita akan mampu membentengi diri lahir maupun batin. Wajar jika nabi dengan tegas mengatakan “As Shaumu Junnatun”, Puasa itu akan menjadi benteng pertahanan diri (secara lahir dan batin).

Dengan menerapkan pola hidup yang serba teratur, disiplin dan tertib akan membuat pelaku puasa menjadi sehat secara pisik. Dengan hidup yang patuh, tunduk dan taat tanpa paksaan akan membuat pelakunya tawakkal, berserah diri, rendah hati, dan pada akhirnya akan sehat secara psikis. Wajar jika Nabi menjamin para shoimin dan shoimat yang menjalankan puasa sesuai aturan yang digariskan agama pasti sehat, “Shumu Tashihhu”, Berpuasalah kamu, pasti akan sehat (secara lahir maupun batin).[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *