Empat Puluh Jam Tanpa HP, Sungguh Menyenangkan

Akhir minggu, 9-11 Juli 2021 kemarin, saya tidak ber-HP. Saya ingin coba saja. Bagaimana rasanya? Ternyata menyenangkan.

Awalnya saya lupa charger di rumah. Sedangkan baterai HP sudah menipis. Sebenarnya bisa kembali mengambil. Sebab teringat ketika baru saja keluar pintu gerbang rumah menuju kebun. Tapi saya kuatkan azam untuk tidak melakukannya. Kebetulan casan hp saya sedikit eksklusif. Pahamlah! Si merek itu tuh! Yang gak bisa sembarang pinjam punya HP merek lain.

Jum’at sore selepas Ashar kami meluncur ke kebun. Sempat mampir di pasar membeli bekal. Kami menginap di kebun dua hari. Saat itu baterai HP tinggal 15 porsen. Saya perkirakan jam 8 malam akan matot (mati total). Ternyata bertahan sampai jam 8.30. Setelah Isya’ saya sempat ngecek pesan WA, Facebook dan Instagram. Kalau-kalau ada pesan penting. Sy juga membalas beberapa pesan dan email yang butuh disegerakan.

Baca juga: Perempuan yang Menyuluh Obor: Tribute untuk Atun Wardatun

Saya tinggalkan pesan di status WA jam 8.15. “HP dan medsos off dari malam ini 8.30 sampai Ahad siang pukul 12.30.” Begitu bunyinya. Saya perkiraan 40 jam sy terbebas dari HP. Kenyataannya molor sampai pukul 14.00 Minggu siang.

Pengalaman jauh dari HP ini ternyata sangat menyenangkan. Walaupun ada sekilas kekhawatiran. Tetapi alasan untuk senang jauh lebih banyak dan sangat berarti.

Kekhawatiran saya satu saja. Jika ada pesan penting dari keluarga di kampung. Atau anak-anak di rantauan. Tetapi untuk hal ini saya pikir ada solusi. Kalau mereka tidak bisa menghubungi saya, pasti akan menghubungi nomor suami yang HPnya masih on. Dan tidak lupa charger. Serta masih bisa pinjam charger al Qalamnya ananda Nawa jikapun lupa.

Alasan senang yang pertama dan utama adalah kebebasan. Saya tiba-tiba merasa bebas-merdeka. Bebas dari kejaran pesan mahasiswa yang sering bertubi-tubi masuk. Tanpa tahu waktu. Tanpa tahu akhir pekan. Apalagi ini musim ujian skripsi dan tesis. Biasanya dosen banyak yang diintimidasi untuk segera mengakhiri dengan segera masa bimbingan. Segera meng-oke-kan untuk layak diujikan. Kebebasan itu ya kemerdekaan. Pastinya menyenangkan, bukan?

Saya merasa bebas dari godaan HP yang seakan-akan selalu memanggil untuk ditemani. Niat awal biasanya hanya ngecek sebentar. Lalu keterusan scroll berbagai info dan status orang. Bahkan sering terjebak pada berita lambe-lambean. Waktupun tersita tanpa sadar. Tanpa merasa sekian saat telah berlalu.

Ternyata HP telah merampas kebebasan saya selama ini. Kebebasan untuk ber’me time’. Saya sering menyalahkan pekerjaan atau kegiatan lain akan kurangnya waktu sendiri. Baru sadar betul, HP biang keladi utamanya.

Alasan kedua adalah Nawa jadi minim sekali meminta waktu bermain HP. Rengekan anak minta main HP ini sangat menggalaukan. Dikasih salah, dilarang nangis. Bikin imun menurun.

Dia sempat bertanya, “mama koq gak main HP, gak kerja HP, gak kuliah HP?” Tiga istilah yang saya perkenalkan padanya untuk memberikan pengertian bahwa HP berlama-lama di tangan ibunya bukan hanya untuk main. Tapi juga kerja dan belajar. Harus diakui bahwa istilah ini terkadang semacam pengalihan. Nyatanya di prosentase penggunaan HP yang terekam di aplikasi smartphone saya, waktu main hp yang tidak produktif selalu lebih banyak daripada yang produktif. Ini hanya pembenaran semata. Saya sadari itu. Tentu batasan produktif dan tidak produktifpun terbuka untuk diperdebatkan.

Baca juga: Perempuan dan Genggamannya

Kembali ke pertanyaan Nawa. Saya menjawab, “mama dua hari ini mau lebih banyak main sama Nawa.” Tampak matanya berbinar. Pertanda ia bahagia dan antusias. Lalu dari mulut polosnya terucap: “Nawa juga. Nawa gak mau main HP sekarang. Nawa mau bantu mama sama bapak kerja sambil main”.

Kejadian ini memberikan pelajaran bahwa seringnya Nawa minta main HP karena kurangnya waktu saya dengan dia. Juga saya tidak menjadi role model yang baik untuk dia. Dalam usianya yang baru kemarin masuk sekolah kelas TK B. Dia sebenarnya pingin banyak waktu dengan orang tuanya. Sesuatu yang sering tidak saya sadari. Mungkin juga oleh kebanyakan orang tua lain.

Nawa menghabiskan waktu akhir pekan dengan betul-betul kerja bantu bapaknya yang berkebun. Bantu mamanya yang menyediakan makanan bagi bapak. Dan semua. Tentu disela juga dengan main dan jalan-jalan kecil mengitari kebun. Sesederhana itu kita mulai kebaikan kecil untuk diteladani anak.

Minggu pagi ada sahabat yang silaturrahmi di kebun. Nawa meminta main HP bapaknya. Biasa saat begini dia merasa kami sibuk ngobrol ala orang dewasa. Mungkin untuk mengusir kebosanan . Atau karna tahu ibunya tak kuasa menolak. Bedanya kali ini saya mengizinkan dengan sedikit ikhlas. Karna toh dari hari Jumat dia tidak menyentuh HP sama sekali. Agar step by step lah proses intervensi pengurangan “HP time” ini.

Alasan ketiga, waktu saya terasa lebih produktif. Saya sempat masak (properly) beberapa menu dua hari itu . Saya sempat ikut berkebun. Saya sempat berlama-lama di depan cermin. Juga di kamar mandi. Mematut dan memanjakan diri dengan segarnya air pegunungan. Tentu bermain dan membacakan buku Nawa juga menjadi tidak terinterupsi.

Saya juga sempat membaca habis satu buku yang sangat menarik. Buku itu karangan Jhon C. Maxwell berjudul “Attitude: The Difference Maker.” Buku ini bagus sekali. Uraiannya lugas dan mudah dicerna. Bahasa Inggrisnya simpel dan tidak terlalu ilmiah. Inti argumen buku itu adalah attitude bukan segalanya untuk keberhasilan. Ia hanya membuat seseorang beda dari orang lain. Tiga faktor keberhasilan adalah competence (kemampuan), experience (pengalaman) dan confidence (percaya diri yang merupakan wujud attitude). Ketiganya harus ada bersamaan untuk keberhasilan seseorang. Jika ada dua orang, yang satu memiliki dua yang pertama saja. Sedangkan yang lain memiliki ketiganya. Maka orang kedua lah yang cenderung berhasil. Tetapi attitude sendiri tanpa ada kemampuan dan pengalaman juga tidak membuat orang sukses.

Buku setebal seratus lebih halaman itu memaknai attitude sebagai sesuatu yang ada dalam hati dan nampak lewat sikap dan perbuatan. Attitude adalah trade mark seseorang yang ditentukan oleh berbagai faktor: bawaan, bentukan lingkungan, persepsi diri, pengalaman, latar belakang keluarga, dan pendidikan. Attitude bisa diperbaiki dan harus terus dijaga.

Tiap kali keinginan main HP muncul saya ambil buku itu. Saya baca dengan konsentrasi penuh. Saya baru sadar betapa lebih banyaknya buku kertas yang saya baca jika HP bisa sering menjauh dari saya. Dan itu lebih menyenangkan. Pun lebih sejuk dirasa oleh mata. Tinimbang memelototi layar.

Lebih senang lagi ketika buku itu memberi inspirasi bagi saya menulis sebuah artikel lepas tentang “ Relasi Ideal Pasutri Untuk Ketahanan Keluarga”. Saya terdorong oleh beberapa kalimat di dalam buku itu. Artikel itu hampir selesai ketika saya membuat tulisan ini. Insya Allah segera tayang online juga.

Baca juga: Dewasa dan Inner Child: Sosok Kecil yang Tidak Termaafkan

Setelah 42 jam berlalu. Saya membuka lagi HP. Tidak ada hal yang tertinggal sebenarnya selama itu. Tidak ada juga pesan darurat yang masuk yang tidak bisa ditunda untuk direspon. Tidak ada yang merasa dighosting dengan sengaja. Juga tidak ada kerugian yang saya rasakan.

Saya justeru merasa sangat beruntung menghabiskan akhir pekan kali ini dengan menutup akses terhadap HP. Selayaknya ini menjadi kebiasaan akhir pekan saya ke depan. Tentu dengan lebih terencana. Antisipasi yang lebih terstruktur. Agar hasil yang didapat lebih masif dan berguna. Semoga ini tidak sekedar asa sementara.

Anda mau mencoba? Silahkan saja! Anda sungguh tidak akan menyesal.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *