Pergantian Tahun: Momen Menemukan Titik Sadar

Dalam satu riwayat diceritakan, bahwa ada seorang hamba yang telah berjanji dengan dirinya sendiri untuk menjadi orang baik sepanjang masa hidupnya, untuk memenuhi janji itu dia melakukan evaluasi terhadap aktivitasnya setiap hari mulai dari pagi hingga petang. Caranya dia mengantongi beberapa batu kecil (kerikil) dalam satu wadah berbentuk kantong dari kain, begitu dia melakukan sebuah kebaikan—dia mengambil satu biji batu dari wadah kantong itu dan menaruhnya di kantong baju sebelah kanan, sebaliknya begitu melakukan satu hal yang negatif pada hari itu—dia mengambil satu biji batu dari wadah kantong itu dan menaruhnya di kantong baju sebelah kiri.

Setelah petang tergulung oleh malam, hamba itu menghitung masing-masing isi kantong bajunya yang sebelah kanan dan sebelah kiri. Jika jumlah isi kantong bajunya yang sebelah kanan lebih banyak daripada sebelah kiri, maka dia memberikan hadiah untuk tubuhnya berupa makanan yang enak dan membolehkan badannya beristirahat menikmati malam, sebaliknya jika jumlah isi kantong bajunya yang sebelah kiri lebih banyak daripada sebelah kanan, maka dia menghukum badannya untuk tidak makan, tidak tidur, dan beristigfar sepanjang malam. 

Baca juga: Pergantian Tahun: Membaca Ke Dalam Diri

Kisah seorang hamba di atas dapat menjadi i’tibar bagi kita yang mau mengambil pelajaran. Bahwa dalam menjalani hidup sebagai anugerah indah dari Tuhan, didalamnya ada tanggung jawab dan akan melewati suatu masa untuk evaluasi, apakah bentangan waktu yang kita jalani selama ini telah kita manfaatkan untuk menebar kebaikan atau sebaliknya.

Seorang sahabat menguntai kata bijak untuk kita renungkan, “Hasibu anfusakum qobla antuhasabu”, hisablah dirimu sendiri sebelum sampai kepada hari hisab yang sesungguhnya.

Tuhan telah memperlihatkan secara terang dan gamblang kepada kita bahwa detik demi detik itu berganti, jam demi jam berputar, waktu demi waktu tergulung, siang dan malam silih berganti, hari demi hari dipergilir, minggu demi minggu, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun pun diganti dan dipergilir. Dan semua rotasi pergantian itu tidak ada yang terulang sedetik pun. Kita ingat pernyataan Filosof Romawi: “Even god can not change the past”. Bahkan Tuhan pun tidak bisa mengubah masa lalu.

Baca juga: Nalar Sufi Malamatiyah untuk Perdamaian

Gejala yang ditampakkan Tuhan dalam seluruh pergantian dan perubahan masa hendaknya menjadi bahan perenungan buat kita, bahwa seluruh etape kehidupan kita sesungguhnya kita alami hanya satu kali, tidak ada etape remidi atau pun pengulangan.

Tuhan telah membekali kita dengan sebaik-baik penciptaan, tentunya dalam etape-etape kehidupan yang kita jalani tidak boleh lepas dari proses menimbang dan proses berpikir. Jangan sampai ada satu etape yang lebih dominan aktivitas burukannya ketimbang artivitas baiknya.

Beberapa hari lagi kita akan menyongsong pergantian tahun dari tahun 1442 ke tahun 1443 hijriyah. Artinya tahun ini akan tergulung dan diganti dengan hamparan tahun yang baru. Pergantian ini momen terbaik untuk menemukan titik kesadaran diri, bahwa 360 hari kesempatan berkiprah dalam rentangan usia kita telah usai, tidak ada yang bisa kita rubah dan tidak ada kesempatan untuk meremidi.

Rencana-rencana kebaikan dan kebenaran yang terukir di awal tahun 1442 yang dulu kita gagas, kitalah yang tahu, dan ingatlah di penghujung titik perjalanan panjang hidup ini, telah disiapkan momen pertanggung jawaban untuk menguji dominasi aksi-aksi kebenaran dan dominasi masa bodo dalam hidup kita. 

Hidup ini hanyalah percikan dari pilihan-pilihan, dan Tuhan telah memilah obyek pilihan itu dalam kategori yang berpasangan antara positif dan negatif. Tuhan menyuruh kita menggunakan akal dan pikiran sebagai anugerah terindahNya, untuk kita gunakan dalam memilih salah satu dari dua kutub tersebut.

Sebagai orang yang sehat akalnya pasti akan mendominasi pilihan pada kutub positif. Maka di penghujung tahun ini adalah saat yang tepat untuk menerawang ke belakang dari perjalanan hidup kita, apakah selama ini kantong kiri ataukah kantong kanan yang lebih banyak isi krikilnya seperti kisah yang terurai di atas, itulah diri kita di tahun 1442 hijriyah, kesadaran tentang diri kita ini hendaknya menjadi bahan baku dari rancangan terbaik kita dalam menyongsong tahun 1443 hijriyah.

Baca juga: Absurditas dan Obrolan Tahun Baru Islam

Ingat pesan mulia yang disampikan oleh Nabi SAW tentang prinsip dalam menjalani hidup, “Man kana yaumuhu khairan min amsihi fahua rabihun, wa man kana yaumuhu sawa’an min amsihi fahua khasirun, wa man kana yaumuhu syarran min amsihi fahua mal’unun.” Barang siapa yang pada hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia beruntung, apabila pada hari ini sama dengan kemarin maka dia merugi, dan barangsiapa yang hari ini keadaanya sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang tertipu (celaka).

Untuk mendapatkan komitmen diri terhadap pesan moral nabi di atas, berdialoglah dengan hati, apa yang dikatakan hati itulah petuah terbaik dalam mengambil keputusan dari serpihan obyek pilihan hidup yang kita hadapi. “Qod aflaha man zakkaha, Wa qod khoba man dassaha”, Beruntunglah orang yang membersihkan hati (jiwa) nya dan ruguilah orang yang mengotorinya.       

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *