Nalar Sufi Malamatiyah untuk Perdamaian

KONFLIK, teror, dan kekerasan adalah lubang hitam kebudayaan yang berpangkal dari watak egosentris. Keinginan dan kepentingan antarpihak yang gagal dinegosiasikan memantik konflik. Teror menjadi sarana untuk memusnahkan orang lain. Kekerasan berubah jadi semacam berhala baru yang melumpuhkan nalar.

Lebih berbahaya lagi ketika konflik kekerasan mendapat justifikasi dari agama dan konstruksi budaya yang ditafsir secara keliru. Merasa diri suci, lalu memandang orang lain hina, suka mengkafir-kafirkan (takfiri). Juga menganggap identitas kelompok, etnis dan kampungnya superior, lalu memprasangkai kelompok lain sebagai sasaran objek untuk dihancurkan.

Maskulinitas juga dimaknai secara salah kaprah. Ketika berhasil memukul orang lain, lantas dipuji sebagai jagoan yang jantan, maka terseretlah ia ke dalam jebakan opium kekerasan. Belum lagi amuk terorisme yang berangkat dari kesadaran palsu. Lahirlah penampakan wajah sadisme (sabu’iyah) yang sebenarnya produk dari jiwa-jiwa yang gelisah.

Pelaku kekerasan atas nama agama, konflik komunal, vandalisme dan aksi terorisme pada hakikatnya mengalami krisis spiritual. Kegelisahan bergelayut dalam diri akibat watak egosentris yang berskala stadium berat. Karena itu, perlu dijawab dengan praktik berspiritual berupa tradisi malamatiyah yang memantulkan kejernihan pikiran dan ketenangan hati.

Malamatiyah. Ketika banyak orang tergila-gila dengan pujian, sejatinya ada orang-orang yang menikmati celaan. Itulah ajaran malamatiyah, penempuh ‘jalan pencelaan’ yang disebarkan oleh Syaikh Hamdun al-Qashar. Malamatiyah menekankan penempuhnya (salikin) agar tidak merasa suci dan benar. Malamatiyah justru fokus menyalahkan diri sendiri, dan tidak menyalahkan orang lain.

Sungguh berkebalikan dengan praktik keberagamaan dewasa ini yang suka menyesatkan orang lain dan menganggap diri terbaik. Ketika sufi malamatiyah dihina dan dicaci-maki, justru mereka menyambutnya dengan setangkai senyuman. Dalam batas tertentu, bahkan mereka enggan memamerkan ibadahnya, takut tergelincir riya’.

Namun perlu digarisbawahi, bahwa mengamalkan malamatiyah tidak boleh sembarangan. Yang namanya bertarekat tentu butuh bimbingan mursyid, tetap berlandaskan syari’at yang benar. Malamatiyah bukan berarti memberikan justifikasi untuk berbuat dosa, lalu meninggalkan ibadah secara vulgar. Malamatiyah agak ‘nyerempet bahaya’ jika gagal paham.

Esensi dari malamatiyah itu berjihad melawan egosentris. Outputnya adalah tidak mudah tersinggung, jauh dari iri hati, dengki, marah, sombong, tidak menyakiti orang lain, dan cinta damai. Esensi lebih diutamakan daripada simbol. 

Altruisme. Bila diringkas, amalan malamatiyah mengerucut dalam satu kosakata: ikhlas. Dari sini mental pelayan terbentuk, lebih mementingkan kepentingan orang banyak ketimbang diri sendiri, atau yang dikenal sebagai altruisme. Pokok dari altruisme adalah semangat berbagi, materil maupun moril, fisik dan non-fisik, harta benda atau pun ilmu pengetahuan.

Bila altruisme itu tulangnya, maka malamatiyah adalah dagingnya. Tarian malamatiyah mempercantik ayunan altruisnya. Semuanya pun tampak enteng-enteng saja. Semesta terasa sedap dipandang dari segala arah mata angin. Jauh dari parade kebencian dan senantiasa berbaik sangka kepada siapa pun.

Jalaluddin Rumi berkata, “di tengah tumpukan sampah, dia (sufi) dapat melihat intisarinya”. Perjumpaan antara malamatiyah dengan altruisme menghasilkan sintesis yang dahsyat berupa kepribadian yang berkarakter. Inilah tipe manusia ideal di tengah haru-biru abad digital kini, yaitu tak silau dengan tepuk-tangan publik, sekaligus tidak roboh karena cacian khayalak ramai.

Dalam ruang publik akan penuh dengan percikan damai. Jauh dari saling hujat-menghujat, online maupun offline. Kesalehan personal dan kesalehan sosial beriringan. Malamatiyah mengajarkan tawadhu’, membela kaum marginal. Mereka juga anti kekerasan dengan dalih apa pun. Yang bermekaran justru humor untuk menghilangkan jarak dan mencairkan ketegangan.

Bagi sufi malamatiyah yang ber-maqom tertinggi, mereka tergolong waliyullah. Bahkan mereka cenderung menutup identitas kewaliannya, lalu menyamar jadi apa saja di pelbagai lapangan kehidupan. Jangankan mengaku wali, menyebut dirinya ulama saja mereka merasa malu. Itulah wali mastur (tersembunyi) yang gemar menyembunyikan jati diri.

Bila kelompok wali mastur itu terdeteksi kewaliannya, maka segera mereka melontarkan pernyataan kontroversial, bertindak melawan arus, dan mengantagoniskan dirinya. Tujuannya agar tidak dikultus, sekaligus membersihkan hati dari rasa congkak. Berkebalikan dengan semarak jalan popular, berebut panggung dan narsistik saat ini.

Merajut Perdamaian. Di tengah konflik kekerasan yang terus berkecamuk, termasuk terorisme, maka nalar sufi malamatiyah sangat relevan untuk diaktualisasikan sebagai gaya berspiritual alternatif.  Aktualisasinya bisa berbentuk falsafah dan nilai-nilai aplikatif. Malamatiyah dengan skala yang moderat bisa menjadi sumber etika dan akhlak di ruang publik.

Nilai-nilai yang bisa diterapkan adalah tidak merasa suci, paling benar atau paling baik. Saat yang sama, pantang menyalahkan dan menyesatkan orang lain. Ego sektarian sebagai sumber pertikaian dikesampingkan. Akhirnya terbentuk sikap beragama yang inklusif dan toleran.

Nilai selanjutnya adalah ikhlas beramal dan terus berbagi hal-hal yang inspiratif. Sabar dan tabah ketika dihina, serta berjiwa pemaaf, sebab dendam membara adalah sebuah kesia-siaan. Rupa konflik komunal yang bermotifkan egoisme kelompok dapat diredam melalui musyawarah dan mufakat. Perundingan akan menghasilkan konsensus ‘win-win solution’ manakala terdapat sikap rendah hati, bijaksana, non-ego, dan menerima keputusan bersama.

Begitu pula maskulinitas diterjemahkan ulang, bukan dengan sok jago mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan ego diri sendiri. Bukan pula berbuat kekerasan, tapi mengikat tali-temali persaudaraan secara erat. Pengkotak-kotakan kelas dan identitas akhirnya melebur dalam semesta kemanusiaan universal.

Malamatiyah juga bisa membentuk pribadi yang progresif dan berani mengekspresikan pikiran, perkataan dan tindakan apa adanya. Tidak takut dihina dan dicela, karena jiwa sudah terlatih untuk menghinakan diri. Celaan justru dirayakan, bukan diratapi. Tidak terlena juga dengan pujian, sebab nanti bisa membuat lupa daratan.

Lautan hikmah malamatiyah juga dibutuhkan oleh ‘pembaharu’ sebagai agen pencerahan dan pembebasan di tengah zaman pasca-kebenaran (post-truth). Sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah teladan dalam soal pribadi berkarakter. Ada anggapan bahwa ‘Bapak Pluralisme’ itu sufi malamatiyah, bahkan wali.

Tatkala ada hinaan dari rivalnya, cukup enteng kyai humoris itu berkata “gitu aja koq repot”.

Nah, ngapain berkelahi. Damai-damai saja. Kalau diajak berantam, katakan saja lagi sibuk ngopi. Gitu aja koq repot![]

Ilustrasi: rumahkitab.com

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *