A Vindication of The Right of Woman: Relevansinya dengan Perempuan Era Sekarang

Pemikiran Marry Wollstonecraft yang mengkritik Rousseau terhadap proyeksi Shopie sebagai perempuan, bahwa Wollstonecraft berpendapat bahwa asupan novel, puisi, musik, dan perhatian kepada penampilan terus-menerus, akan menjadikan Shopie sebagai kelemahan, bukan sebagai pelengkap suaminya. Dia—Shopie—akan menjadi makhluk dengan daya pikir yang lemah, dan bukan mempunyai penalaran yang baik. Hormonnya akan semakin meluap, hasratnya meledak-ledak dan emosinya akan mengalami pasang-surut yang cepat.

Dampaknya kemudian, maka Shopie akan kesulitan atau bahkan tidak bisa menjalankan tugas kesehariannya sebagai seorang istri, dan terutama sebagai ibu. Penawaran yang diberikan kepada Shopie agar bisa seperti Emile adalah dengan mendapatkan pendidikan yang memungkinkan dirinya untuk mengembangkan kapasitas rasional dan moral, yang mampu untuk menggali potensinya sebagai manusia yang lengkap. Terkadang, Wollstonecraft menyampaikan argumentasinya yang lebih berfokus kepada kesetaraan pendidikan dalam istilah utilitarian.

Dirinya mengkalim bahwa, tidak seperti perempuan lain yang cenderung lebih emosional dan bergantung pada orang lain, yang mana mereka terbiasa untuk mengindari tugas-tugas domestik dan lebih memilih untuk memanjakan hasrat tubuhnya. Perempuan yang cenderung emosional seperti itu lebih identik menjadi anak perempuan yang pengamat, saudara perempuan yang penuh kasih sayang, istri yang setia dan ibu yang berakal.

Bagaimanapun juga, tidak semua argumentasi Wollstonecraft dalam konsep pendidikan adalah utiliter. Wollstonecraft menegaskan, jika nalar adalah poin untuk membedakan antara manusia dengan binatang, maka perempuan dan laki-laki keduanya mempunyai kapasitas ini. Maka dari itu, masyarakat harus mampu menyediakan sistem pendidikan yang sama kepada perempuan, seperti juga yang diberikan kepada laki-laki, sebab semua manusia berhak atas pendidikan yang sama. Semua manusia berhak atas peningkatan kapasitas nalar dan moralnya. Sehingga mereka sungguh-sungguh dapat menjadi manusia yang utuh.

Setiap jengkal dalam A Vindication of the Right of Woman, Wollstonecraft mendorong perempuan untuk menjadi pengambil keputusan yang otonom. Sementara, untuk mencapai itu, langkah utama yang harus diberikan adalah melalui pendidikan. Meskipun Wollstonecraft menganggap bahwa otonomi perempuan tidak lepas dari pengaruh ekonomi dan politis laki-laki, dia mengatakan bahwa perempuan yang sangat terdidik tidak harus mandiri secara ekonomi, taau aktif secara politis untuk menjadi manusia yang otonom.

Bahkan Wollstonecraft mengabaikan gerakan perempuan untuk memperoleh banyak suara sebagai sesuatu yang membuang-buang waktu, karena anggapannya, seluruh representasi hukum semata-mata adalah cara penanganan yang nyaman untuk mencari suaka sebuah despotisme atau tirani.

Membaca Wollstonecraft, mampu mendapati bahwa keinginan Wollstonecraft adalah personhood—manusia yang utuh. Perempuan bukan mainan atau lonceng laki-laki yang harus berbunyi pada telinganya. Dalam arti lain, perempuan bukanlah alat atau instrumen bagi laki-laki untuk sekadar menjadi objek kenikmatan, kebahagiaan, dan kepuasaan belaka saja. Tapi, perempuan adalah tujuan, agen penghasil pikiran, yang harga dirinya ada dalam kemampuannya untuk menentukan nasibnya sendiri.

Memperlakukan perempuan hanya sebagai alat itu sama halnya menganggap perempuan bukanlah sebagai manusia. Dia ada bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Misalnya, bila seorang suami memperlakukan istrinya seperti tanaman hias yang dipajang di setiap sudut rumah, istri itu nggak lebih hanya sebagai objek kenikmatan dan kebahagiaan inderawi saja. Juga bila memperlakukan perempuan hanya sekadar sebagai objek, itu berarti membiarkan perempuan diperlakukan secara sewenang-wenang sebagai target dan bukan menganggap dirinya sebagai suatu entitas yang utuh.

Alih-alih mengatakan untuk mengambil tanggung jawab untuk megembangkan perempuan menjadi pohon beringing yang besar, di saat yang sama, laki-laki juga membentuk perempuan menjadi pohon bonsai yang justru lebih kecil bentuknya. Yang biasa dilakukan dengan manifestasi kekerasan, pengekangan, dan dominasi kekuasaan yang otoriter. Tidak satu wujud perempuan pun, menurut Wollstonecraft, yang membiarkan kekerasan itu dilayangkan untuk dirinya.

Kiranya cukup dianjurkan bila perempuan pada masa ini mendalami kritik akademis dari Marry Wollstonecraft tersebut. Sebab masih menjadi ciri umum bahwa perempuan sekarang masih kerap menggadaikan keutuhannya hanya demi sebuah prestise yang palsu. Misalnya, perempuan menggadaikan (atau bahkan menjual) kehormatannya hanya demi mendapatkan uang. Atau menjalin hubungan dengan seorang laki-laki di mana dia tidak pernah mencintainya sama sekali, sebab harus dituntut oleh keluarganya dengan alasan menjamin masa depan.

Kebiasaan semacam itu adalah kebiasaan kultural. Di mana kebiasaan kultural ini tidak mampu mengimbangi progres peradaban yang semakin maju. Kita tidak pernah tahu jaminan masa depan seperti apa yang dijanjikan oleh orang lain (laki-laki) kepada perempuan, kekayaan apa yang akan diguyur oleh orang lain kepada kita (perempuan), toh masa depan itu hanya asumsi subjektif belaka. Semua itu masih belum pasti, jadi cukup naif bila terlalu mendahului takdir dengan mengatakan bisa menjamin masa depan yang baik.

Perempuan bukan alat yang bisa dipermainkan atau dimanfaatkan secara ketubuhannya saja, perempuan ialah manusia yang utuh, manusia yang mempunyai kombinasi intelektual  yang sempurna; kestailan rasional dan perasaan. Sebagai rasa hormat terhadap seluruh gerakan aktivis perempuan yang menyemarakkan keutuhan subjek dari perempuan, kiranya mulai dicicil idealisme ini, sehingga dengan idealisme itulah perempuan—sebagai subjek—tidak gampang diintervensi, baik secara moral, dan secara rasional.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *