Saatnya Percaya Diri Menjadi Orang Saleh

PROFESIONAL adalah salah satu label dalam dunia kerja yang menunjukkan keahlian dalam suatu pekerjaan, dan bagi para pekerja tidak canggung alias sangat percaya diri untuk mengatakan dirinya profesional.

Ada pula istilah expert bagi ilmuan pada bidang tertentu, karena merasa telah sempurna pengetahuan dan keahliannya pada bidang yang ditekuni. Demikian juga dengan istilah master pada bidang olah raga yang diberikan kepada olahragawan yang cekatan dan ahli dalam cabang olah raga tertentu. Dan masih banyak label-label keahlian lainnya yang disandang oleh seseorang dengan sangat percaya diri.

Profesional, expert, master, dan gelar-gelar lainnya adalah sebuah pengakuan yang didasari atas keahlian dalam memahami dan mempraktekkan indikator-indikator dari label keahlian tersebut—tentunya dengan praktek yang hampir sempurna.

Dalam tataran praktek keagamaan, ada satu diksi yang selevel dengan label di atas yakni “saleh” yang dapat diklaim sebagai label bagi ahli agama yang mempraktekkan ritual agama dengan istiqomah dan hampir smpurna. Tetapi label tersebut tidak begitu banyak yang percaya diri untuk menggunakannya seperti label profesional, expert, dan master.

Mungkinkah keengganan kita menggunakan label shaleh karena kita memang “tidak saleh” atau “belum saleh”? atau kita rendah hati di hadapan Tuhan? Bukankah ada salah satu hadits Qudsi yang berbunyi, “Ana ‘Inda Dzonni Abdi bi”, Sesungguhnya Aku (Tuhan) sesuai dengan prasangka hambaKu…”. Tidakkah kita takut memprasangkakan diri kita “tidak saleh” dan “belum saleh”?
Lalu kapankah kita akan percaya diri mengaku diri saleh di tengah khalayak seperti pengakuan orang-orang profesional, expert, dan master?

Semestinya kita tidak perlu ragu dan enggan untuk menyandang label saleh, di samping kita memang layak menyandangnya, juga sekaligus akan menjadi prisai yang dapat menjaga dan membentengi diri dari prilaku buruk.  Apabila kita dapat melaksanakan dan menghidupkan kebiasaan orang-orang saleh yang sudah dijalankan semenjak masa Nabi, maka kita pantas untuk menyandang label shaleh tersebut.

Ketahuilah bahwa orang saleh itu memulai harinya sebelum subuh, yakni menghidupkan malam dengan shalat di saat orang lain sedang tertidur lelap dengan “qiyamullail” shalat di ujung malam. Mereka membiasakan itu sesuai petuah Nabi SAW dalam hadisnya; “Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian….” 
Orang saleh senantiasa memperhatikan shalat malam mereka, bahkan orang shaleh menjadikan shalat malam sebagai garansi kondisi keimanan mereka—jika tidak bisa menjalankan shalat malam di suatu malam, maka pertanda imannya lemah saat itu.

Kemudian orang saleh selalu salat di awal waktu. Di kalangan orang saleh dikenal bahwa salat yang dijalankan di awal waktu menjadi barometer kedekatannya kepada Tuhan, di mana pada saat menyegerakan salat di awal waktu, berarti seorang hamba bergegas memenuhi panggilan Rabb-nya. Nabi SAW pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdal?, Kata Rasul, “Ashhalatu fi awwali waktiha”, Shalat di awal waktunya.

Berikutnya orang saleh selalu menyempatkan diri untuk salat Dhuha. Bagi orang shaleh perlu adanya peregangan secara fisik dan emosional di waktu pagi di tengah-tengah kesibukannya, salah satu medianya adalah melaksanakan shalat Dhuha. Kata Nabi, “Shalat Dhuha itu shalat orang yang kembali kepada Tuhan, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja…”
Selanjutnya orang saleh selalu menyempatkan diri membaca al-qur’an. Prinsip yang dipegang oleh orang saleh bahwa al-qur’an akan menjadi pembela bagi siapa saja yang selalu membacanya. Dengan membaca Al-qur’an akan membawa kedamaian dan membawa ketenangan bagi tubuh, pikiran, dan jiwa. Orang sholeh berkeyakinan bahwa hati dan jiwa akan dipupuk oleh ayat-ayat al-quran, sehingga dengan budaya membaca al qur’an, akan menemukan hati yang lebih damai dari pada yang pernah dirasakan sebelum membaca al qur’an.”

Kebiasaan orang saleh berikutnya adalah berpuasa sunnah. Orang shaleh sangat yakin dengan janji dalam hadits Nabi SAW, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya.” Ternyata hadis tersebut berbanding lurus dengan penemuan hasil riset bagi pelaku puasa, bahwa orang yang berpuasa akan memperoleh hormon kebahagiaan atau endorfin saat berbuka. Dan orang-orang shaleh meyakininya dan merasakan bahwa hari-harinya diliputi kebahagiaan, karena terus memproduksi hormon endorfin dengan berpuasa Senin dan Kamis.

Yang terakhir, kebiasaan orang saleh selalu melaksanakan shalat fardhu dengan berjama’ah. Prinsip orang shaleh bahwa shalat berjamaah adalah salah satu simbol kebersamaan kaum muslimin, selain mendapat pahala dua puluh tujuh derajat lebih baik daripada shalat sendirian, juga sebagai bentuk aktifitas sosial dengan masyarakat sekitar dimana seseorang bertempat tinggal.

Itulah indikator kebiasaan orang shaleh, konsisten dalam mengindahkan syariat agamanya. Jika kita-kita ini telah mempu melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut secara istiqomah, maka kita sudah pantas menyandang label sebagai orang shaleh, harus percaya diri tanpa keraguan sebagaimana para pekerja profesi menyebut dirinya sebagai profesional, expert, dan master.

Ilustrasi: TV Tarekat

2 komentar untuk “Saatnya Percaya Diri Menjadi Orang Saleh”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Allahu Akbar….
    Jazakallahu khairan katsirr bpk ,motivasi n pencerah fii yaumul jum’at berkahh,,,aamiin 🤲 semoga kita semua dimudahkan Jalan menuju RidhoNya,, dimampukan untuk mnjadi insan yang pantas mendapat predikat insan yg “Shaleh” .aamiin Allahumma aamiin…🤲🤲😇

    **sehat2 disana bapak….😊🙏🙏

  2. Nanda Zahratu Raudah

    Allahu Akbar….
    Jazakallahu khairan katsirr bpk ,motivasi n pencerah fii yaumul jum’at berkahh,,,aamiin 🤲 semoga kita semua dimudahkan Jalan menuju RidhoNya,, dimampukan untuk mnjadi insan yang pantas mendapat predikat insan yg “Shaleh” .aamiin Allahumma aamiin…🤲🤲😇

    **sehat2 disana bapak….😊🙏

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *