Jilbabisasi Bulan Ramadan

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan fenomena di sekitar kita mengenai tren hijab dan jilbab yang digunakan kaum perempuan untuk menutup kepala hingga ke leher, dada hingga pusar yang saat ini sebagai bahan aksesoris penutup kepala dengan beragam gaya yang tren di kalangan masyarakat Indonesia. Sehingga seorang budayawan yang tidak asing lagi yakni Emha Ainun Najib menyebutnya dengan istilah “lautan jilbab”.

Jilbab bukan barang baru dalam kehidupan masyarakat, karena jilbab sudah menjadi bagian dari ajaran agama yang kemudian kita temukan dalam tradisi keagamaan yang sangat populer saat ini adalah menggukan jilbab pada waktu tertentu dan mengikuti tren kehidupaan yang disebut milenial atau yang bersifat kekiniaan.

Setiap orang mempunyai niat dan motivasi yang berbeda-beda dalam menggunakan jilbab atau hijab. Meskipum dalam agama sendiri sudah jelas mengenai perintah menutup aurat. “wahai Nabi katakanlah kepada istri-istri mu, anak-anak wanita mu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka keseluruh tubuh mereka”(QS. Al-Ahzab:59).

Baca juga: Jilbab dan Simbolisasi Agama di Ruang Publik

Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan rahmat dan kenikmatan, bulan yang disucikan dan bulan pembuka pintu taubat dan tempat mudah terkabulnya doa-doa yang disampaikan manusia kepada Tuhannya. Sehingga pada bulan ini dijadikan ajang memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan beranekaragam spiritual yang dilakukan manusia.   

Dapat kita saksikan di bulan Ramadan manusia melalukan bermacam ibadah untuk mendapatkan ridanya Tuhan. Mulai dari berbagi rizki, hingga merubah penampilan yang dijadikan simbol identitas agama dan menojolkan ketaatan atas agamanya. Misalnya di bulan Ramadan tidak dapat kita nafikan lagi perubahan derastis pada diri manusia, sering terjadi secara tiba-tiba,  yang awalnya tidak dermawan menjadi dermawan, yang awalnya tidak berbusana muslimah  kini berbusana muslimah, yang diposting di media social. Hal ini sering terjadi di kalangan selebritis meskipun tidak menutup kemungkian untuk kalangan nonselebritis.

Perilaku manusia mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sains dan teknologi yang membawa kepada kehidupan modern. Agama dituntut berperan aktif dalam arus globalisasi kehidupan keagamaan manusia di dunia modern yang sering membanggakan kehidupan yang bersifat kebendaan dan formalisme semu.

Pasca bulan Ramadan, fenomena jilbab  yang terjadi di kalangan selebritis tidak bertahan lama, atau hanya bersifat sesaat bulan Ramadan saja, dan berakhir ketika bulan Ramadan berakhir. Peristiwa ini sering terjadi secara berulang-ulang dari tahun ketahun. Hal ini dapat kita lihat bersama di televisi para pemain sinetron acap kali menggunakan jilbab selama bulan Ramadan dan kembali kepada busana sebelumnya tanpa jilbab setelah Ramadan berlalu.

Berdasarkan fenomena tren jibab bulan Ramadan ini menurut saya melahirkan pergeseran makna jilbab dari penutup aurat menuju penutup kepala, hingga menjadi formalitas semata sebagai ajang menyambut bulan Ramadan. Kenapa saya beranggap demikian, karena faktanya jilbab rata-rata digunakan oleh pemain senetron di televisi, jilbab digunakan pada bulan Ramadan dan di lupakan setelah bulan Ramadan berlalu kemudian diingat kembali, dan  digunakan lagi ketika bulan Ramadan tiba.

Baca juga: Daya Ramadan

Coba kita perhatikan tampilan para sinetron di televisi, di bulan Ramadan dan sebelum bulan Ramadan. Mereka berbondong-bondong menggunakan hijab seolah-olah bulan Ramadan adalah bulan  musim hijab dan musim penggunan busana muslimah. Mereka sebagai publik figur yang menjadi tontonan masyarakat, bahkan menjadi idola para penonton kini memberikan contoh  bagi masyarakat untuk mengikutinya.

Ketika jilbab menjadi tren di bulan Ramadan yang ditampilkan oleh para figur media maka akan menarik perhatian masyarakat untuk menggunakan jilbab. Sebenarnya hal ini sangat bagus bagi saya dengan artis menggunakan jilbab mendorong penguna jilbab yang lebih banyak. Namun sayang sekali hal ini tidak bertahan lama, karena sering kali artis hijabnya hanya pada bulan  Ramadan saja sehingga ketika idola mereka melepas jilbab mereka pun ikut-ikutan.

Pernahkah kita berpikir sebenarnya apa yang terjadi  di bulan   Ramadan, sehingga pada bulan tersebut kaum perempuan sering tampil dengan busana muslimah. Apakah karena di bulan ramdhan mereka berusaha memelihara kesuciaannya, karena bulan Ramadan identik dengan bulan suci. Atau karena bulan  Ramadan adalah bulan untuk mereka bertaubat dan mensucikan diri. Sehingga mereka berusaha tampil dengan tren muslimah dengan tren hijab bervariasi untuk menemani aktivitas ibadah mereka di bulan Ramadan.

Pengguna hijab di bulan Ramadan mempunyai beragam motivasi, mulai dari ikut-ikutan karena melihat idolanya di media menggunaka hijab, berpenampilan cantik dan menawan di bulan Ramadan hingga memang benar-benar niat karena Allah SWT yang membawa mereka kepada kenyamaan, ketentraman dalam menjalan ibadah di bulan suci Ramadan yang penuh dengan keistimewaan dan membawa keberkahan atas hambanya.


Ilustrasi: Cak Nun.com

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *