SEPANJANG sejarah filsafat, hanya sedikit filsuf yang menjadi sasaran kritik lebih banyak daripada Epicurus. Ini karena Epicurus adalah seorang hedonis dalam arti tradisional, yang mengajarkan kesenangan (pleasure) sebagai kebaikan mutlak dan sebagai eksistensi. Baginya, tujuan utama hidup adalah mencapai kesenangan. Filsafat ini menjadi perdebatan di kalangan filsuf sebab ‘hedonisme’ seringkali disinonimkan dengan keegoisan, kerusakan, dan kebobrokan moral. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah hedonisme jenis apa yang diajarkan Epicurus.
Epicurus telah memperjelas definisinya mengenai “kesenangan”, yakni kebebasan dari penderitaan dan ketakutan. Hedonisme versi Epicurus bukanlah pemuasan berlebihan terhadap kesenangan jasmani. Konsepsi populer mengenai hedonisme, dalam ajaran Epicurus, mengedepankan kesederhanaan dan moderasi, serta pemenuhan terbatas terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Lebih penting lagi, Epicurus memberi kita pelajaran-pelajaran praktis dan relevan untuk hidup bahagia dimana materialisme dan konsumerisme merajalela sekarang ini.
Siapa Epicurus? Ia seorang filsuf Yunani Kuno yang hidup pada waktu yang sama dengan Plato. Ia mempelajari filsafat di Athens, pusat peradaban dan filsafat dunia era itu. Ia kemudian mengajarkan aliran pemikiran filsafat Epicureanisme, dan sebagai impelemntasinya menjalani hidup yang sederhana dikelilingi sahabat dan para pengikutnya hingga akhir hayat.
Sesuai tradisi zaman saat itu, filsafat Epicurus berusaha menjawab pertanyaan mengenai apa dan bagaimana kehidupan yang baik. Salah satu fokus utama Epicurureanisme adalah bagaimana manusia dapat hidup bahagia dan tenteram. Inti filsafat ini, kebahagiaan (eudaimonia) adalah tujuan kehidupan, dan kunci kebahagian adalah kesenangan.
Kebanyakan orang salah paham terhadap esensi dasar paham Epicureanisme, yang memahami Epicureanisme sebagai sebuah paham yang merusak moralitas. Maka untuk tidak jatuh kepada salah paham itu, kita perlu memahami jalan pikirannya, yaitu dengan bertanya lebih dalam lagi—dalam gaya khas Socrates—apa itu kesenangan yang dimaksud oleh Epicurus?
Apa itu kesenangan?
Epicurus membagi konsep kesenangan dalam dua dimensi: mental dan fisik. Kesenangan mental adalah kebebasan dari ketakutan, penyesalan, dan kecemasan yang disebutnya ataraxia. Sementara kesenangan fisik adalah kebebasan dari penderitaan jasmani yang disebutnya aponia. Gabungan dari ataraxia dan aponia—dengan ataraxia sebagai unsur yang jauh lebih penting—menurut Epicurus, adalah puncak kebahagiaan.
Dari sini, dapat dipahami bahwa kesenangan menurut Epicurus merupakan kondisi ketenangan psikis dan fisik. Ia berkata bahwa ketiadaan penderitaan merupakan batas kesenangan. Jadi, hidup bahagia bukanlah soal memaksimalkan stimulasi yang menimbulkan kenikmatan, tapi meminimalkan penderitaan.
Epicurus menekankan pentingnya kesederhanaan dan moderasi dalam menjalani hidup. Ia menentang kehidupan yang berpusat pada kesenangan materi karena hal tersebut dapat mengorupsi pikiran dan akibatnya mengurangi kebahagiaan. Selanjutnya, Epicurus mengatakan bahwa semua kesenangan baik, tetapi tidak semuanya layak dipilih, dan semua penderitaan (pain) itu buruk, tetapi tidak semuanya perlu dihindari. Maka dari itu, kita perlu memikirkan konsekuensi jangka panjang dalam memilih kesenangan dan penderitaan. Sebagai contoh: mengonsumsi narkoba terasa nikmat tetapi sangat buruk untuk kesehatan, dan rasa sakit ketika mendapatkan suntikan vaksin perlu untuk menjamin kesehatan.
Lalu, bagaimana cara hidup bahagia?
Pada dasarnya, filsafat Epicurus merupakan sebuah filsafat komunal. Untuk mengamalkan filsafatnya, Epicurus membeli sebuah rumah yang memiliki taman di luar kota Athens dan menjadikannya sebuah komunitas dimana Epicurus dan sahabat-sahabatnya hidup berdasarkan asas-asas Epicureanisme. Komunitas ini menyediakan wadah untuk berinteraksi dengan teman-teman dekat, belajar filsafat, bahkan menyembah para dewa. Komunitas ini bernama The Garden (Ho Kēpos), menjadi pusat ajaran Epicureanisme bahkan jauh setelah wafatnya Epicurus pada 270 SM. Komunitas-komunitas serupa yang terinspirasi oleh Ho Kepos berdiri di berbagai wilayah di Yunani.
Meski lebih dari 2000 tahun sudah lewat sejak kematian Epicurus, ajarannya masih tetap relevan hingga sekarang. Bahkan dapat dikatakan bahwa ajaran Epicurus lebih relevan sekarang dibandingkan pada masanya sendiri. Bagaimanakah hidup bahagia ala Epicurus? Berikut caranya.
Hidup sederhana. Kehidupan dalam komunitas-komunitas Epicureanisme sebagian besar terdiri oleh interaksi dengan teman-teman dekat, belajar filsafat, dan bahkan menyembah para dewa. Makanan sehari-hari mereka adalah roti dan ikan. Kebanyakan orang mungkin melihat gaya hidup dalam komunitas ini menganggapnya sebagai kehidupan yang menjemukan, tapi, kata Epicurus, itu karena kebanyakan orang jiwanya telah korup. Seseorang yang telah membatasi keinginannya akan mendapatkan segala yang diinginkannya melalui hidup sederhana, dan ia akan merasa puas.
Manusia paling bahagia bukanlah ia yang memiliki paling banyak, sebab semakin banyak manusia memiliki, semakin banyak pula yang ia inginkan. Manusia bahagia adalah ia yang membatasi keinginannya dan hidup dengan sederhana. Inti kebahagiaan adalah mencintai dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki.
Bina persahabatan. Filsafat Epicureanisme sangat menjunjung tinggi persahabatan. Epicurus menyebut persahabatan sebagai “kebaikan abadi”. Komunitas-komunitas Epicurean seperti The Garden menerima wanita dan bahkan budak—sebuah praktek yang tidak umum pada masa itu.
Alasan utama pentingnya persahabatan bagi pengikut Epicurus adalah bahwa persahabatan menyediakan rasa aman. Sahabat saling mengayomi dari bahaya dan saling membantu di saat dibutuhkan. Memiliki sebuah jaringan persahabatan yang kuat adalah cara terbaik untuk mencapai ketenangan. Model persahabatan seperti inilah yang diamalkan dalam komunitas-komunitas Epicurean.
Bebaskan diri dari rasa takut. Kebanyakan dari rasa takut kita adalah ketakutan yang tidak berdasar. Ketakutan akan kematian misalnya. Bukan sebuah pengetahuan baru bahwa kita semua pasti merasakan mati. Pengetahuan ini seharusnya tidak mengecilkan hati; tapi justru membebaskan kita dari ketakutan terhadap yang pasti terjadi, dan memungkinkan kita untuk fokus mencapai kebahagiaan hidup. Alih-alih dihantui oleh ketakutan, kita harus belajar untuk menerimanya sebagai bagian kehidupan. Lagi pula, bukankah tidak ada rasa aman tanpa ketakutan?
Kaji filsafat. Mengkaji filsafat adalah aspek yang sentral dalam komunitas Epicurean. Epicurus mengumpamakan filsafat seperti obat: jika obat menyembuhkan jasmani, filsafat menyembuhkan jiwa.
Mengkaji filsafat esensial dalam mencapai kebahagiaan merupakan tali penghubung yang mengikat setiap aspek kebahagiaan. Melalui filsafat, kita belajar kesederhanaan, memperjelas keinginan, menghilangkan rasa takut, dan menjamin ketentraman. Filsafat berlaku sebagai cahaya penuntun untuk mencapai kebahagiaan sejati.
Diperlukan sebuah pikiran yang bijak untuk benar-benar melihat keindahan dalam hidup. Meski, kebahagiaan dalam kacamata Epicureanisme adalah ketiadaan penderitaan, Epicurus mengakui kedudukan penderitaan sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari sepenuhnya, bahkan terkadang esensial. Kita hanya tahu kebahagiaan karena ada penderitaan. Manusia membutuhkan penderitaan sebagai kontras untuk merasakan keindahan hidup.
Bernostalgia. Terakhir, hidup bahagia dengan bernostalgia. Ya benar, mengingat kembali kenangan masa lalu dapat membawa kembali kesenangan yang dialami saat itu. Kesenangan mental atau ataraxia tidak dibatasi oleh waktu dan mencakup masa kini, masa depan, dan masa lalu, maka manusia perlu melatih diri sendiri mengingat kenangan manis sehingga kesenangan dapat selalu tersedia bagi mereka.
Konon, ketika sekarat Epicurus mampu menahan rasa sakitnya batu ginjal dengan mengenang percakapan-percakapan filosofis lampau dengan para sahabatnya.
Demikinalah, banyak sekarang kita temukan Epicurean-Pepicurean yang memilih gaya hidup sederhana, tidak riuh-rendah oleh hingar-bingar modernitas. Kita kdang salah paham, bahwa cara hidup mereka itu hanyalah lari saja dari kekalahan terhadap kekejaman zaman. Mungkin bukan begitu, cara hidup sedemikian adalah sebuah kesadaran filosofis. Di dalamnya ada pilihan untuk memberikan makna lain bagi kehidupan, juga memberi pengajaran tentang kesejatian. Pilihan ini memang tidak populer, namun di situlah Epicurenisme relevan dengan zaman.[]

Siswa Kelas XI MAN Insan Cendekia Pekalongan dan Alumni Madrasah Sayang Ibu, Lombok





