Ada banyak pengetahuan yang hilang bukan karena salah, melainkan karena zaman tidak lagi menyediakan ruang untuk mengingatnya. Ia tidak terbakar oleh api, tidak pula dihancurkan oleh perang, tetapi perlahan menguap dari ingatan kolektif ketika masyarakat memutuskan bahwa sesuatu terlalu memalukan untuk dibicarakan. Gowok adalah salah satunya. Sebuah tradisi yang pernah hidup dalam masyarakat Jawa, namun kini lebih sering hadir sebagai bisik-bisik sejarah, fragmen cerita rakyat, atau potongan ingatan yang nyaris terputus dari akar kebudayaannya.
Ketika mendengar kata gowok, sebagian orang mungkin langsung mengaitkannya dengan hal-hal yang bersifat seksual. Padahal, pemaknaan semacam itu sering kali terlalu sempit untuk memahami praktik yang sesungguhnya. Gowok tidak lahir dari hasrat semata, melainkan dari sebuah cara pandang yang menganggap keintiman sebagai bagian dari pengetahuan hidup.
Dalam dunia yang belum mengenal buku panduan rumah tangga, seminar hubungan, atau konselor pernikahan, masyarakat menciptakan mekanisme budaya untuk mempersiapkan seseorang memasuki fase baru kehidupan. Di sanalah peran gowok menemukan tempatnya. Tradisi ini hidup dalam ruang yang unik. Ia berada di antara pendidikan, ritual, dan pengalaman.
Dalam masyarakat Jawa masa lalu, pernikahan tidak hanya dipandang sebagai penyatuan dua individu, tetapi juga pertemuan dua keluarga, dua tanggung jawab, dan dua dunia yang sebelumnya terpisah. Karena itu, memasuki kehidupan rumah tangga dianggap memerlukan kesiapan yang lebih dari sekadar kesiapan ekonomi atau sosial. Ada kesiapan emosional, kesiapan batin, dan pemahaman mengenai relasi antarmanusia yang harus dipelajari. Menariknya, penjaga pengetahuan tersebut justru adalah para perempuan.
Dalam banyak catatan budaya, sejarah sering ditulis melalui tokoh-tokoh besar, raja, pejabat, atau pemuka agama. Namun, sejarah keseharian hampir selalu dirawat oleh perempuan. Mereka menyimpan resep, merawat tradisi lisan, menjaga ritus keluarga, dan meneruskan kebijaksanaan yang tidak pernah masuk ke dalam arsip resmi. Gowok menjadi salah satu contoh bagaimana perempuan berperan sebagai penjaga pengetahuan yang bekerja dalam keheningan.
Mereka bukan guru dalam pengertian formal. Mereka tidak memiliki gelar akademik atau ruang kelas. Namun mereka memahami sesuatu yang sangat penting tentang manusia: bahwa kehidupan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diketahui oleh kepala, tetapi juga oleh apa yang dipahami oleh tubuh dan perasaan. Pengetahuan semacam ini sulit dituliskan dalam buku. Ia diturunkan melalui percakapan, kedekatan, pengamatan, dan pengalaman yang dibagikan secara langsung.
Di situlah gowok menjadi menarik untuk direnungkan hari ini. Ia mengingatkan bahwa tidak semua pengetahuan lahir dari institusi. Ada pengetahuan yang tumbuh dari kehidupan itu sendiri. Ada kebijaksanaan yang tidak tercatat dalam kurikulum, tetapi hidup dalam praktik-praktik sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Modernitas sering membuat kita percaya bahwa semua hal harus dapat dijelaskan secara rasional, terukur, dan terdokumentasi. Sesuatu dianggap sah ketika memiliki sertifikat, modul, atau landasan ilmiah yang jelas. Cara pandang ini tentu membawa banyak manfaat. Namun pada saat yang sama, ia juga membuat kita kehilangan kemampuan untuk menghargai bentuk-bentuk pengetahuan lain yang tumbuh dari pengalaman manusia yang panjang.
Akibatnya, banyak tradisi lama direduksi hanya menjadi sensasi atau kontroversi. Kita lebih tertarik pada aspek yang mengundang kehebohan daripada mencoba memahami konteks sosial dan filosofis yang melahirkannya. Gowok kemudian sering dibicarakan dengan nada yang ambigu: antara rasa ingin tahu, rasa malu, dan penilaian moral. Padahal, jika kita menyingkirkan prasangka sejenak, kita mungkin akan menemukan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar cerita tentang masa lalu.
Yang kita temukan adalah sebuah masyarakat yang pernah memandang keintiman sebagai bagian dari pendidikan manusia. Hari ini, kita hidup di era yang paradoksal. Informasi tentang hubungan antarmanusia tersedia di mana-mana. Internet menawarkan jutaan artikel, video, dan nasihat. Pada saat yang sama, banyak orang merasa semakin kesepian, semakin sulit membangun kedekatan yang sehat, dan semakin canggung membicarakan hal-hal yang menyangkut emosi maupun relasi personal.
Kita memiliki akses yang melimpah terhadap informasi, tetapi tidak selalu memiliki ruang untuk memahami maknanya. Mungkin karena itulah kisah tentang gowok terasa relevan kembali. Bukan untuk dihidupkan secara literal, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada dimensi manusia yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan data dan teori. Ada kebutuhan untuk belajar tentang empati, penghormatan, komunikasi, dan kepekaan terhadap orang lain.
Semua itu merupakan bentuk pengetahuan yang sama pentingnya dengan kemampuan membaca atau berhitung. Ketika masyarakat masa lalu menciptakan ritual-ritual tertentu, sesungguhnya mereka sedang berusaha menjawab pertanyaan yang sama dengan kita hari ini: bagaimana manusia dapat hidup bersama secara lebih baik? Bentuk jawabannya mungkin berbeda, tetapi kegelisahannya tetap serupa.
Hal lain yang sering terlupakan adalah bahwa tradisi seperti gowok memperlihatkan bagaimana perempuan memiliki otoritas budaya yang cukup besar dalam ruang-ruang tertentu. Di tengah struktur sosial yang sering didominasi laki-laki, terdapat wilayah pengetahuan yang justru dijaga dan diwariskan oleh perempuan. Mereka menjadi penghubung antar generasi, penjaga pengalaman kolektif, sekaligus penafsir nilai-nilai kehidupan yang tidak selalu terlihat oleh sejarah resmi.
Sayangnya, peran semacam ini sering menghilang dari narasi besar bangsa. Kita mengenang para pemimpin, tetapi lupa pada para penjaga ingatan. Kita mengabadikan bangunan dan dokumen, tetapi jarang memberi perhatian pada orang-orang yang selama berabad-abad merawat kebudayaan melalui tindakan-tindakan kecil yang nyaris tak terlihat.
Karena itu, mengenang gowok juga berarti mengenang para perempuan yang berdiri di baliknya. Mereka mungkin tidak pernah menulis buku. Nama mereka mungkin tidak tercatat dalam arsip negara. Namun tanpa mereka, sebagian pengetahuan tentang kehidupan manusia mungkin telah hilang jauh lebih cepat.
Refleksi tentang gowok bukanlah ajakan untuk bernostalgia secara buta. Tidak semua tradisi masa lalu harus dipertahankan, dan tidak semua praktik lama cocok diterapkan pada masa kini. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk membaca warisan budaya dengan pikiran terbuka. Tradisi dapat menjadi cermin yang membantu kita memahami bagaimana masyarakat terdahulu memandang tubuh, relasi, keluarga, dan proses menjadi manusia.
Dari sana kita belajar bahwa kebudayaan tidak hanya terdiri atas tarian, pakaian adat, atau bangunan bersejarah. Kebudayaan juga hidup dalam cara sebuah masyarakat memahami cinta, kedekatan, tanggung jawab, dan hubungan antarsesama. Ia hidup dalam ritual-ritual yang tampak sederhana tetapi menyimpan pandangan dunia yang kompleks.
Maka ketika mengingat gowok, mungkin yang patut kita kenang bukan semata praktiknya, melainkan gagasan yang tersembunyi di baliknya: bahwa keintiman pernah dipahami sebagai bentuk pengetahuan. Sebuah pengetahuan yang tidak sekadar mengajarkan bagaimana hidup bersama orang lain, tetapi juga bagaimana memahami diri sendiri. Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, ingatan tentang pengetahuan semacam itu terasa semakin berharga.
Dalam keheningan sejarah, para perempuan yang merawat tradisi tersebut mungkin telah lama pergi. Namun jejak mereka masih tersisa sebagai pengingat bahwa ada kebijaksanaan yang lahir dari kedekatan, ada pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman, dan ada pelajaran hidup yang hanya dapat diwariskan melalui hubungan antarmanusia. Barangkali, justru di situlah letak kesakralannya.[]

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol


