Menjadi Relawan, Menjadi Pancasilais

SUATU HARI di tahun 2018. Dingin mulai terasa, burung-burung melintas kembali ke peraduannya. Pertanda senja telah tiba. Debu masih berterbangan disapu angin dari sela-sela reruntuhan. Sekumpulan anak berbondong-bondong menuju sebuah tenda yang cukup besar. Pakaian mereka tergolong sangat sederhana, bahkan dapat dikatakan compang-camping. Raut wajah mereka tidak seperti yang dibayangkan dari raut anak yang telah terdampak gempa dahsyat yang meluluhlantahkan Lombok, khususnya Lombok Utara, beberapa waku silam. Raut wajah mereka yang penuh semangat memberikan kesan seakan-akan mereka tidak sedang berada di tengah-tengah reruntuhan dan bahkan tidak pernah terjadi suatu hal pun.

Tenda yang terbuat dari bambu dan terpal itu berukuran 6 x 12 meter. Di depan tenda terpampang dengan jelas sebuah spanduk bertuliskan “Sekolah Kalikuma untuk Lombok Bangkit”. Kalikuma adalah sebuah komunitas pemuda yang dicetuskan oleh ayah saya. Kalikuma yang memiliki tagline Literacy and Humanity memang selalu terlibat dalam kegiatan memajukan literasi dan peduli kemanusiaan. Sekolah darurat ini adalah salah satu contoh kegiatan tersebut. Sekolah Kalikuma untuk Lombok Bangkit dibuat demi membantu anak-anak Dusun Pansor Lauk, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara dalam mengatasi trauma akibat gempa yang meruntuhkan rumah dan mungkin juga jiwa mereka.

Ketika ditawari oleh ayah saya untuk menjadi relawan di sekolah darurat ini, saya langsung mencalonkan diri. Seperti asal katanya, relawan adalah seseorang yang melakukan suatu kegiatan bermanfaat bagi banyak orang dengan sukarela. Itu pulalah tujuan saya menjadi seorang relawan. Melakukan suatu kebaikan agar dapat bermanfaat bagi orang lain tanpa pamrih ataupun berharap-harap akan imbalan. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang dapat bermanfaat bagi sesama.

Baca Juga: Hijrah: Menghimpun Ilmu untuk Masyarakat

Melakukan kebaikan dan bermanfaat bagi sesama merupakan kualitas dari perbuatan yang ikhlas. Sebuah perbuatan baik yang di dalamnya mengandung pamrih sama saja dengan perbuatan sia-sia. Oleh karena itu ketulusan adalah hal penting dalam melakukan kebaikan. Cerita menarik berikut ini memberikan pelajaran bahwa perbuatan baik yang kecil tetapi tulus akan membawa pelakunya ke surga. 

Suatu hari terdapat sebuah anjing yang sedang sangat kehausan. Anjing ini menempuh jarak jauh demi mencari sumber air. Akhirnya, anjing itu menemukan sebuah sumur. Namun, timbul suatu masalah lagi. Bagaimana ia bisa mendapatkan air di dalam sumur itu? Sementara tidak ada suatu hal pun di sekitar situ yang dapat membantunya. Sang anjing mengelilingi sumur penuh harapan akan mendapatkan air. Harapan yang hampa. Sebab tidak setetes airpun didapatkan oleh si anjing.

Seorang pelacur lewat dan melihat kejadian itu. Karena iba, ia melepas sepatunya dan segera menuruni sumur untuk mengambil air bagi si anjing. Karena perbuatan baik yang kecil itu si pelacur akhirnya dinyatakan sebagai penghuni surga. Padahal jika dipikirkan, perbuatan baik yang kecil itu sangat tidak seimbang dengan dosa-dosa yang ia perbuat dengan pekerjaannya sebagai seorang pelacur. Pekerjaan sebagai pelacur dianggap amat rendah. Pelacur dipandang sebagai sampah masyarakat. Tapi jangan pernah meremehkan kebaikan kecil.

Seseorang tidak perlu menjadi kaya untuk dapat melakukan kebaikan. Kebaikan kecil yang kita anggap remeh pun belum tentu akan berdampak kecil. Sebuah hutan pohon Ek yang sangat luas awalnya hanya berasal dari satu biji pohon Ek. Sebuah bangunan megah dan besar dimulai oleh sebutir pasir.

Di dunia ini terdapat sebuah hukum bernama hukum Karma. Secara sederhana, hukum karma adalah hukum sebab-akibat. Sebuah aksi akan diiringi oleh reaksi. Perbuatan baik akan mendatangkan kebaikan. Jadi tidak ada ruginya berbuat kebaikan. Toh, akhirnya juga kembali ke diri sendiri. Benar saja, pada minggu terakhir sekaligus penutupan dan perpisahan Sekolah Kalikuma untuk Lombok Bangkit, saya diberikan honor yang lumayan, walaupun saya tidak mengharapkannya. Tapi bukan berarti kebaikan selalu akan mendatangkan materi. Soal itu Tuhan yang mengatur. Yang terpenting adalah Kalikuma untuk Lombok Bangkit di mana saya menjadi relawan telah membuat sorot mata anak-anak itu lebih berbinar menatap masa depan. Itulah honor yang paling berharga.

Menjadi Pancasilais
Perbuatan baik juga adalah pengamalan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia. Pada tanggal 29 Juni hingga 1 Juli 1945, berlangsung sidang BPUPKI yang akhirnya melahirkan Pancasila. Sebagai dasar negara, Pancasila harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, sudah seharusnya kita mengamalkan butir-butir pengamalan Pancasila. Melakukan kebaikan sebagaimana menjadi relawan Kalikuma tersebut juga merupakan bentuk pengamalan Pancasila

Pancasila adalah pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila juga merupakan jiwa dan kepribadian khas bangsa Indonesia. Soekarno, sebagai perancang Pancasila, berkata “Aku tidak mengatakan bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri. Dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah.” Perkataan Soekarno itu berarti bahwa Pancasila sesungguhnya merupakan nilai-nilai yang tersirat dalam tradisi dan budaya bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut kemudian dirangkum menjadi lima asas yang sungguh bermakna, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Permusyawaratan, dan Keadilan.

Jika diamati, pengamalan Pancasila semuanya berbentuk perbuatan baik, entah terhadap sesama, Tuhan, lingkungan, bangsa, maupun agama. Gotong royong, misalnya, dapat berarti bekerjasama untuk mencapai sebuah tujuan bersama. Tanpa memandangi ras, suku, agama, dan lainnya. Bentuk gotong royong yang paling sering ditemukan adalah bergotong royong membersihkan lingkungan. Ini juga merupakan bentuk kebaikan terhadap sesama maupun Tuhan, karena bersama-sama menciptakan suasana hidup yang bersih dan nyaman serta menjalankan perintah agama bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Dalam satu contoh ini, terdapat banyak sekali pengamalan nilai-nilai Pancasila. Contoh lainnya adalah kegiatan saya menjadi seorang relawan. Kegiatan ini merupakan suatu kegiatan kemanusiaan. Nilai kemanusiaan terdapat pada sila kedua yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kegiatan kerelawanan juga dapat dikatakan sebagai bentuk pengamalan sila ketiga, Persatuan Indonesia dan sila kelima, Keadilan Sosial untuk Seluruh Rakyat Indonesia.

Jelaslah, antara berbuat baik dan mengamalkan Pancasila ada sebuah hubungan yang erat. Pancasila dibuat bukan sebagai formalitas saja. Pancasila dibuat agar diamalkan sebagai dasar untuk menata negara yang merdeka dan berdaulat. Berbuat baik adalah usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Maka berbuat baiklah dan jadilah generasi bangsa Indonesia yang berkarakter Pancasila. Sebab di situlah letak cita-cita dan harapan bangsa.[]
Foto: Kalikuma

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *