Mikir Itu Pakai Hati, Bukan Pakai Otak

DALAM sebuah khutbah yang saya ikuti, seorang khatib berkata bahwa bencana banjir yang menimpa Luwu Utara beberapa waktu lalu merupakan azab yang ditimpakan Tuhan kepada umat Islam karena sudah banyak yang meninggalkan shalat.

Apa yang disampaikan itu sangat menarik. Sebab, kita diajari gagasan cemerlang bahwa, sepanjang umat Islam rajin shalat, maka malaikat akan mencoret daftar bencana yang telah ditulis oleh Tuhan.

Apa yang disampaikan khatib di atas bukanlah penemuan baru yang patut membuat siapa pun terkaget-kaget. Hidup di Indonesia tidak akan lengkap dan terasa sia-sia bila Anda belum mengetahui kalau seorang tokoh agama-politik pernah merespon bencana letusan gunung merapi dan tsunami yang terjadi di Mentawai 2010, satu dekade lalu sebagai “kutukan Tuhan karena kekafiran mereka.” (Wibowo, 2011)

Bagi tokoh kita itu, orang kafir adalah golongan yang layak ditimpakan bencana. Tentu saja orang kafir yang dia maksud adalah para korban yang sedang menderita. Sebagai seorang pejabat negara sekelas menteri waktu itu, apa yang disampaikan tokoh kita itu mencerminkan sebuah hadis yang amat terkenal, “Sampaikanlah walaupun itu pahit.” Dan kalimatnya itu terbukti sangat pahit.

Tentu saja, sekelas orang berpendidikan macam tokoh kita itu tahu betul kalau yang namanya bencana pasti menyakitkan. Para korban menjadi serba susah, kehilangan keluarga, mata pencaharian, hingga harapan. Tapi sebagai seorang agamawan, tokoh kita seperti dipaksa untuk mengatakan yang pahit-pahit saja.

Dalam konteks bencana, pelajaran paling berharga dari para agamawan yang selalu kita peroleh bukanlah obat penahan nyeri semacam doa-doa agar mereka senantiasa dikuatkan menghadapi cobaan, bukan pula kalimat berbunga yang memotivasi para korban untuk bertahan dan menolak binasa cuma-cuma, apalagi semacam aksi langsung untuk turun menolong para korban.

Para agamawan semacam tokoh kita di atas, memilih menyasar langsung ke akar persoalan dan menyebutkan obat paling mujarab untuk menolong orang-orang dari bencana. Sebab, mereka tahu betul, persoalannya adalah semata-mata urusan iman, dan obat untuk menyembuhkannya hanyalah dengan jalan ketakwaan. Titik!

Logika itu pula yang digunakan khatib yang saya ceritakan. Tidak benar kalau bencana banjir di Luwu diakibatkan oleh perusakan hutan lewat pembukaan lahan perkebunan dan pertanian. Yang namanya bencana, ya semata-mata urusan shalat. Jangan dikait-kaitkan lagi dengan urusan ekologi seperti kata orang-orang yang lemah imannya.

Hanya orang-orang yang telah mencapai derajat ketakwaan tertentu yang mampu memahami rahasia di balik bencana. Itu pula yang membuat hanya mereka yang bisa membedakan mana bencana alam dan mana yang merupakan azab dari Tuhan.

***

Gejala alam pertama yang kita jumpai pada permulaan tahun 2021 tidak lain dan tidak bukan adalah banjir. Banyak yang menyesalkan minimnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. Tentu saja keluhan masyarakat ini bertentangan dengan konsep beragama seperti di atas.

Bukan apa-apa, memang sih dalam al-Qur’an dijelaskan kalau gejala alam disebabkan oleh kelakuan manusia dan bukan azab akibat kemurkaan Tuhan. Tapi kan kita tahu sendiri, hal-hal semacam itu tidak pernah diterangkan oleh para pemuka agama. Kalau umat Islam yang awam soal agama sembarangan mendiagnosa akar persoalan, apalagi bertentangan dengan para penceramah agama, bisa-bisa apa yang kita percakapkan justru menjerumuskan umat dalam kesesatan.

Bukannya Bima dicoret dari daftar bencana oleh malaikat, yang ada justru bencananya bertambah-tambah saja.

Sudah benar kalau para pemuka agama yang punya privilege dalam konstelasi politik itu diam saja melihat betapa rentan masyarakat tertimpa banjir. Tak ada yang keliru bila para ulama mengait-ngaitkan bencana alam dengan urusan shalat semata. Coba kalau mereka ikut-ikutan kesembronoan masyarakat dalam memahami azab sebagai bencana ekologis, kan urusannya jadi rumit.

Bayangkan saja susahnya Pemerintah Daerah lantaran harus repot-repot mengurusi bagaimana cara agar orang-orang yang membuka lahan demi menafkahi ekonomi keluarga itu harus dibukakan lapangan pekerjaan sebagai pengganti sumber pendapatan mereka.

Apa ya ngefek?

Ngefek sih. Tapi kan anggarannya besar. Ketimbang mengalokasikan anggaran untuk mengurusi hal semacam itu, bukankah hal yang lebih mendesak yang perlu dilakukan Pemda saat ini adalah memasang lampu hias di tiga jembatan untuk menghiasi kota dengan anggaran Rp 1,4 milyar?

Loh, itu bukan perkara remeh loh. Coba Anda pikir apa kata orang-orang di luar sana kalau Bima tidak punya lampu kerlap-kerlip begitu? Kan bisa malu kita karena dikira tidak ada pembangunan yang tampak. Dari mana logikanya anggaran daerah dipakai untuk hal-hal di luar pembangunan? Di mana-mana, prioritas negara itu bukan melindungi warganya dari bencana, tapi mempercantik jembatan meski di bawahnya terjadi banjir bandang. Lagipula, kan kita tahu sendiri, dunia ini sedang dilanda krisis iklim.

Banjir yang rajin datang setelah hujan itu sebetulnya diperparah oleh krisis iklim. Maka, cara mengatasinya tidak lain yakni dengan sabar dan shalat. Setidaknya, itu lebih membantu ketimbang mengurusi penggundulan hutan, pembukaan lahan, dan pembalakan liar.

“Mudahkanlah, jangan mempersulit….” Begitu kata hadis. Jadi kalau ada banjir, maka bersabarlah lalu shalat sebanyak-banyaknya. Jangan mempersulit dengan berpikir yang macam-macam. Meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan mendesak pemerintah mengurusinya, tidak ada kaitannya dengan mengatasi banjir. Sebab banjir itu azab akibat dosa-dosa individual seperti meninggalkan shalat. Itulah pentingnya berpikir menggunakan hati.

Karena kalau pakai otak, bisa-bisa kita sadar perihal dosa sosial, seperti merusak lingkungan dan ketidakpedulian kita. Kalau sudah begitu, rumit, rumit, rumit![]

Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *