Perilaku yang Mati Rasa

Ada satu aktivitas atau perilaku pada zaman sekarang yang dilakoni oleh orang-orang, menjadi satu kebiasaan dan bahkan menjadi profesi, yang dikerjakan secara sadar dan serius. Namun luput dari kesadaran bahwa aktivitasnya bertentangan dengan  kebenaran dan moral. Pekerjaan atau profesi dimaksud adalah mencari kesalahan dan kelemahan orang lain atau kelompok lain, atau lembaga lain untuk disebarluaskan, dengan tujuan bermacam-macam, bisa untuk mencari sensasi, bisa  untuk menjelekkan orang atau kelompok lain, bisa juga persaingan bisnis, dan sebagainya.

Pekerjaan ini menjadi trend saat ini, bukan saja dilakukan oleh orang per orang, tetapi bisa melembaga dan menjadi barang jualan dan pesanan yang sangat laku. Orientasinya tidak saja melihat kelemahan dari perilaku perseorangan, tetapi berkembang pada mencari kelemahan lembaga atau kelompok tertentu untuk dijadikan komoditi dalam keunggulan kompetitif.

Sebagai orang yang telah mencapai tingkat kedewasaan berpikir, pekerjaan itu tidaklah dewasa dan tidaklah sehat, karena seluruh pikiran dan panca indranya diisi oleh prasangka-prasangka buruk dan hasrat untuk menemukan keburukan dan kelemahan orang lain atau golongan lain. 

Ingatlah bahwa mencari kelemahan, baik perorangan, ataupun lembaga, kelompok, dan golongan, yang dilakukan oleh perorangan, atau lembaga dan komunitas – nilai keburukannya sama. Perkara itu dalam al-Qur’an dikenal dengan “tajassus”, yakni mencari-cari kesalahan orang lain (termasuk di dalamnya mencari kesalahan atau kelemahan kelompok lain, lembaga atau golongan lain), dan  perbuatan itu sepadan dengan berburuk sangka.

Baca juga: Waspada dengan Lima Penyakit Hati

Tuhan dalam surah al Hujurat ayat 12 mengkomunikasikannya dalam bentuk larangan, “wa lā tajassasụ wa lā yagtab ba’ḍukum ba’ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumụh...”. Terjemahannya “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain, adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”

Ayat ini menggambarkan begitu buruknya perilaku orang atau kelompok tertentu yang membuka atau mencari kesalahan siapapun, sehingga Tuhan memilih padanan makna dengan perbuatan menjijikkan, yakni semakna dengan memakan bangkai orang yang memiliki kesalahan. Tujuan dari pilihan diksi itu tidak lain agar kita senantiasa menjauhi perilaku itu.

Dulu, perilaku atau pekerjaan ini menjadi aib yang sangat cela bagi siapa saja yang melakukannya, karena sangat bertentangan dengan konsep kebenaran dan moral. Orang-orang dulu memandangnya sebagai aib, oleh karena mereka masih ketat dan konsisten dalam memegang konsep kebenaran dan moral dalam agama yang diyakininya. Berbeda dengan zaman sekarang, entah karena pergeseran masa atau karena kebanyakan dari orang-orang sudah tidak peduli terhadap nilai-nilai kebenaran dan moral, sehingga orang tidak lagi peduli apakah perbuatan itu bertentangan dengan kebenaran dan moral atau tidak?

Ataukah bagian dari efek perkembangan teknologi, di mana setiap diri lebih fokus pada gadget ketimbang pada lingkungan sekitar, sehingga berakibat pada perilaku dan hati yang mengalami mati rasa atau kehilangan sensitivitasnya.

Patut kita berhati-hati dengan gejala berupa kebiasaan mencari dan menemukan kesalahan orang lain, golongan lain, kelompok lain yang terjadi zaman ini. Jika kita dihinggapi oleh kebiasaan buruk tersebut, akan menjadikan hati kita keras dan cadas, sulit untuk lunak dalam menangkap datangnya percikan-percikan kebaikan dan kebenaran, yang pada akhirnya akan menghidupkan rasa congkak dan pengakuan diri lebih benar, sangat benar, dan paling benar. 

Baca juga: Hati-Hati, Jangan Sampai Jadi Fitnah

Kebiasaan mencari kesalahan orang lain sering kali tidak kita sadari. Kesalahan orang lain selalu tampak, tapi kesalahan diri sendiri seakan tertutupi dan tidak pernah ada. Kita harus takut dengan apa yang disampaikan Nabi saw dalam sabda beliau, “Barangsiapa mencari-cari kesalahan saudaranya, maka Tuhan akan menampakkan kejelekannya.”

Pernahkah kita menyadari bahwa semua orang sebenarnya memiliki aib atau kesalahan yang menjadi rahasia diri. Dan Tuhan dengan Maha Bijaksana-Nya menutupi kelemahan atau aib kita dengan sangat rapat agar tidak terkuak dan tidak membuat kita malu.

Bayangkan andai saja Tuhan membuka sedikit saja dari aib-aib yang kita miliki, sungguh itu akan sangat membuat kita malu. Dan hal itu tidak Tuhan lakukan walaupun Dia memiliki kekuasaan dan kemampuan. Artinya mencari dan apalagi menyebarluaskan kelemahan atau kesalahan dan aib siapa saja, dari golongan mana saja, dari bangsa mana saja, janganlah kita lakukan, karena Tuhan tidak suka dengan kebiasaan buruk seperti itu.

Baca juga: Mikir Itu Pakai Hati, Bukan Pakai Otak

Penting kita belajar untuk meneladani sifat bijaksana-Nya Tuhan dalam menutup aib-aib hamba-Nya, agar sedapat mungkin dapat kita contoh dan ikhtiarkan sebagai bagian dari aktivitas belajar, untuk memahami bahwa mencari dan menemukan kesalahan siapa saja adalah perilaku yang tidak pantas.

Bahkan Nabi saw memberi petuah, bahwa dari pada mencari kelemahan, kekurangan, atau aib orang lain, akan lebih mulia bila kita senantiasa melihat dan mencari aib diri sendiri, “Man nazhara fi aibin nafsihisytaghalla an aibi ghairihi”. Artinya, barang siapa yang melihat aibnya sendiri maka ia akan terpalingkan dari aib orang lain.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.