Mudik dan Pencarian Jati Diri yang Otentik

Peristiwa mudik, baik di tengah ancaman pandemi Covid-19 sekarang maupun dalam situasi normal, tetap tidak banyak menunjukkan perbedaan. Meski pemerintah secara resmi melarang mudik untuk mencegah penyebaran dan penularan virus mematikan tersebut, nyatanya hasrat untuk mudik tidak terbendung. Beragam cara dan modus dilakukan pemudik untuk mengelabui petugas: mulai dari menggunakan jasa angkutan bodong, melalui jalur tikus, menyamar sebagai ojek online, ngumpet dalam bak truk tertutup, mudik dengan roda dua, menggunakan sepeda ontel hingga nekad berjalan kaki satu keluarga.

Mudik merupakan satu peristiwa keagamaan dan budaya yang unik dan khas. Jika di negara-negara Timur Tengah misalnya, tradisi mudik sekadar diisi dengan mengunjungi tetangga dan kerabat maka mudik di Indonesia menggambarkan perkawinan yang indah antara agama dan berbagai varian tradisi dan budaya lokal yang unik. Hanya di Indonesia kita melihat pemandangan mudik yang khas: wajah-wajah penuh kelelahan di terminal, stasiun dan di bandara; jauh-jauh hari berburu tiket; berdesak-desakan di bis, kereta dan di kapal; menenteng barang bawaan yang cukup berat untuk kerabat di kampung; bahkan dengan menantang maut Semuanya dilakukan demi satu hal: mengobati kerinduan terhadap kampung halaman.

Tetapi semua kelelahan itu terbayar lunas seketika dan berganti dengan keceriaan tatkala sudah bertemu dengan kerabat dan handai tolan. Secanggih apapun teknologi komunikasi saat ini, tampaknya belum mampu menggantikan sensasi komunikasi secara offline. Energi ketulusan yang terpancar saat berjabat tangan atau berpelukan pada momen Lebaran, jelas sulit diperoleh melalui perantaraan teknologi.
Secara kebahasaan “mudik” konon berasal dari kata “udik” berarti desa; kampung halaman. Tapi entah mengapa “udik” kemudian mengandung makna konotasi yakni “kampungan”, “jadul”, “katro” atau sejenisnya yang melambangkan peradaban paling terkebelakang. “Udik” mengandung makna ‘hinaan’ atau bernada merendahkan.
Sebaliknya “udik” dilawankan dengan “kota” yang melambangkan kemajuan peradaban. Kota dianggap sebagai simbol kemajuan.

Baca juga: Ramadhan: Berdamai dengan Diri Sendiri

Citra kota sebagai lambang kemajuan tentu saja tidak sepenuhnya salah. Nabi Saw, setelah hijrah dari Mekkah ke Madinah, segera mengganti nama Yastrib menjadi Madinah. “Madinah” artinya “kota” atau disebut juga “madinatunnaby” (Kota Nabi). Secara implisit terminologi “kota” tidak hanya mengacu pada kemajuan fisik semata (kecanggihan teknologi, gaya arsitektur, kemajuan dunia seni, fasilitas publik, kebersihan kota, atau ketertiban warganya) tapi juga pada aspek nilai yang menghiasi kehidupan warganya, sebagaimana asal kata “peradaban” itu sendiri.

Tapi saya menduga, perubahan citra “udik” itu akibat kepongahan teori modernisasi yang memandang rendah hal-hal yang berkebalikan dari kota. Seperti dijelaskan Berger&Kellner (1994), modernitas tidak hanya memandang dirinya berbeda tapi juga lebih unggul daripada segala sesuatu yang mendahuluinya. Modernitas, karenanya, harus dimenangkan di atas semua tradisi dan agama. Dalam hal ini segala hal yang berbau ‘kekotaan’, sebagai lambang supremasi kemodernan, dipandang lebih unggul dari ‘kedesaan’.

Tradisi mudik secara antropologis menggambarkan kerinduan manusia untuk kembali pulang kepada akar, tradisi, budaya; kembali kepada kediriannya yang orisinil. Dan “pulang” lalu menjadi medan magnet yang paling dirindukan semua orang. Seorang anak yang ditinggal pergi oleh ibunya seharian, maka kepulangan sang bunda menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu. Sebagaimana “pulang” juga merupakan saat paling dinanti oleh sang anak tatkala seorang ayah pergi beberapa hari meninggalkan keluarganya.

Di sekolah, saat beban puncak pembelajaran di jam-jam terakhir dimana fisik dan batin didera oleh rasa penat yang amat sangat, “pulang” lagi-lagi merupakan detik-detik paling ditunggu. Bagi masyarakat kota, mudik tidak hanya menyediakan kanal-kanal antropologis semacam itu tapi sekaligus memberikan berkah sosiologis. Di sini, mudik menjadi medium untuk saling berbagi, meluruhkan egoisme dan keserakahan masyarakat urban ke dalam spirit solidaritas dan soliditas. Jebakan rutinitas kerja, semangat konsumerisme serta pola hidup kompetitif seringkali merampas hampir seluruh ruang batin mereka sehingga menjadi gersang dan tandus.

Dalam cerpennya berjudul “Pulang” (1994) Putu Wijaya dengan bagus sekali menggambarkan bagaimana modernisasi menggerus berbagai kearifan lokal kehidupan masyarakat desa, sehingga pulang menjadi sesuatu yang begitu sensasional. Mudik menjadi katarsis bagi masyarakat modern untuk memulihkan kembali orisinalitas kedirian mereka yang terkoyak.

Mudik secara demikian memungkinkan kita untuk merawat kembali kewarasan nalar dan nurani agar tetap utuh sebagai manusia.
Sebagai fenomena yang khas, di samping sebagai peristiwa budaya mudik juga merupakan peristiwa spiritual. Sementara secara sosiologis mudik juga dapat dipandang sebagai bentuk ‘protes’ dan koreksi terhadap realitas pembangunan dan kehidupan kota yang timpang, relasi sosial yang diskriminatif dan kompetitif. Mudik, di samping memungkinkan terjadinya redistribusi sumber-sumber ekonomi secara musiman khususnya di sektor konsumsi, juga akan meluruhkan sekat-sekat sosiologis diantara warga dari berbagai kasta dan kelas sosial. Mereka melebur dalam spirit Lebaran yang guyub, hangat dan penuh kesederhanaan.

Begitu pula, watak kehidupan kota yang kompetitif dan kebisingan mesin modernitas kerap melahirkan perasaan terasing (alienasi) dan gersang, sehingga di tengah limpahan materi orang merasakan kehilangan kediriannya yang otentik. Orang tidak hanya membutuhkan kehidupan yang serba kompetitif tapi juga merindukan kehidupan yang kolektif, tetap terikat dengan komunitas asal, serta tetap berada dalam lingkaran sebagaimana dalam narasi dan memori masa kecilnya.

Baca juga: Ramadhan: Relasi Harmonis dengan Tuhan

Kerinduan untuk mendapatkan kembali jati diri yang otentik itulah yang membuat mudik itu menjadi istimewa. Mudik adalah sebentuk rasa dan sensasi yang khas, membuncah serta membangkitkan gairah. Sejatinya orang bisa mudik kapan saja. Tapi spirit Ramadan membuat mudik menjadi tidak tergantikan. Waktu, tempat atau orang-orang yang ditemui saat mudik mungkin sama, tapi momentum Lebaran membuat segalanya terasa berbeda.

Sensasi mudik seperti itulah yang saya tangkap saat menjemput adik dan keponakan di bandara dua tahun lalu. Bertahun-tahun tinggal di Jakarta dan pernah pulang, tapi tetap merindukan mudik. Tak tanggung-tanggung, mudiknya kali ini cuma tiga hari dan harus balik ke Jakarta lagi karena sang keponakan sudah kembali masuk sekolah di Ponpes Gontor Putri, di Ponorogo.

Dari bandara pun tidak ingin dijemput dengan mobil, kendati sudah kami siapkan. Mereka minta dijemput dengan motor, entah apa alasannya. Tapi dugaan saya, orang-orang Jakarta itu mungkin sudah terlalu lelah dengan kendaraan dan kemacetan. Mereka tiap hari berjubel dan berdesak-desakan di jalanan sehingga memerlukan suasana lain sebagai katarsis psikologisnya. Maka, menempuh perjalanan 64 kilometer dari Bima ke Dompu, dengan kontur jalan yang berkelok-kelok, menurun dan menanjak di bukit yang rimbun, akhirnya benar-benar mengasyikkan.
Mudik, pada hemat saya, akhirnya tidak hanya sensasional tapi juga bisa merawat kewarasan.
Ayo mudik!

Ilustrasi: CNBC Indonesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *