Libasuttakwa: Busana Alumni Ramadan

PARA alumni Ramadan telah Tuhan persiapkan baginya satu kostum terindah untuk digunakan atas keberhasilannya menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah selama satu bulan, kostum tersebut dinamai “Libasuttaqwa” (Pakaian ketaqwaan).

Pernyataan tersebut dapat kita baca di dalam surah Al A’raf ayat 26, “Yā banī ādama qad anzalnā ‘alaikum libāsay yuwārī sau`ātikum warīsyā, wa libāsut-taqwā żālika khaīr, żālika min āyātillāhi la’allahum yażżakkarụn”. Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Pada ayat di atas, Tuhan mengabarkan bahwa bagi orang-orang beriman terutama yang telah selesai menjalankan ritual puasanya selama satu bulan, telah disiapkan pakaian takwa (libasuttakwa), yakni suatu pakaian yang dapat memperindah perilaku dan sikap hidup orang beriman, baik dalam kaitannya dengan amaliah kepada Tuhan maupun amaliah sosial yang berkaitan dengan sesama makhluk.

Baca juga: Tropi Taqwa untuk Alumni Ramadhan

Di samping memperindah perilaku, libasuttakwa itu juga berfungsi menjaga dan merawat identitas orang beriman agar senantiasa terpelihara akhlak dan budi pekertinya selama sebelas bulan pasca Ramadan.

Para ulama memberikan penjelasan bahwa libasuttakwa (pakaian takwa) itu sama maknanya dengan pakaian rohani, sementara baju takwa yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari hanyalah pakaian fisik yang menutupi badan dan berfungsi menutupi aurat secara fisik.

Libasuttakwa sebagai pakaian rohani berfungsi menutupi aurat secara rohani, sehingga kekhilafan yang berhubungan dengan pekerjaan rohani dapat tertutupi. Misalnya, kekhilafan yang disebabkan oleh kekeliruan pandangan, penglihatan, dan hati, dapat terhindarkan oleh karena adanya rajutan libasuttakwa yang dirajut selama satu bulan dalam pintalan yang bernama menahan diri.

Libasuttakwa sebagai buah dari rajutan menahan diri, dapat menjadi tirai yang menutupi dan menghalangi kegamangan pandangan, penglihatan, dan hati sehingga kesuciannya tetap terjaga selama sebelas bulan ke depan, tentunya kualitas tirai sesuai kadar dan kualitas rajutan yang kita hasilkan.

Semenjak terbit hilal 1 Ramadan yang menandakan awal dimulainya berpuasa, menjadi permulaan bagi kita untuk merajut benang-benang sebagai bahan dasar libasuttakwa. Semua event ibadah di bulan Ramadan adalah benang yang kita rajut; seperti puasa di siang hari, qiyamulail (tarawih dan tahajud), tadarus al-Qur’an, zakat, sedekah, dan amaliah sosial lainnya, menjadi benang-benang yang dipintal untuk dirajut menjadi libasuttakwa.

Begitu nampak hilal syawal, maka deadline waktu untuk memintal dan merajut benang-benang sebagai bahan dasar libasuttakwa telah berakhir dan tenunan libasuttakwa telah selesai, artinya siap untuk digunakan sebagai pakaian rohani.

Semakin maksimal kita menunaikan amalan-amalan Ramadan, maka semakin bagus dan indah rajutan libasuttakwa yang kita hasilkan, sebaliknya jika amalan Ramadan kita tunaikan dengan asal-asalan dan malas-malasan, maka kualitas rajutan libasuttakwa yang kita hasilkan akan sekenanya saja.

Baca juga: Ramadan; Bulan yang Memuliakan

Tuhan menjelaskan dalam firman-Nya dalam surat al Fathir ayat 32; bahwa ada tiga kelompok manusia berdasarkan kualitas tenunan dan rajutan benang-benang takwa yang dihasilkan:

Pertama, rajutan paling rendah nilainya adalah orang yang merajut amalan Ramadan dengan menzalimi dirinya sendiri (faminhum dzolimun linafsih), yakni yang menjalankan amaliah Ramadan paling minim, malas-malasan, dan asal-asalan, itulah orang yang menzalimi dirinya, karena melaksanakan amal yang keuntungannya akan kembali untuk dirinya sendiri saja, malas-malasan dan asal-asalan.

Kedua, rajutan yang sedang-sedang dan berkualitas pertengahan (minhum muqtashid), adalah orang yang merajut amal ibadah di bulan Ramadan tidak istikamah, ada saja amalan-amalan yang bolong-bolong, sehingga kualitas libasuttakwa yang dihasilkan tidak maksimal.

Ketiga, rajutan yang berkualitas tinggi (minhum sabiqun bil khairot), adalah orang yang merajut amalan Ramadan dengan maksimal, seluruh event ibadah Ramadan ia tunaikan dengan sungguh-sungguh dan istikamah.

Sungguh sangat beruntung orang yang merajut dan menenun benang-benang dengan maksimal dan istikamah, dan dialah yang sangat berbahagia dalam melantunkan pujian kesyukuran kepada Tuhannya.

wa litukabbirullāha ‘alā mā hadākum wa la’allakum tasykurụn” Dan hendaklah kamu mengagungkan kebesaran Tuhan atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Sementara bagi yang merajut dan menenun asal-asalan dan kurang maksimal, tidak ada gunanya penyesalan, deadline waktu telah berakhir, tidak ada yang bisa memutar kembali perjalanan waktu.

Baca juga: Ramadhan: Berdamai dengan Diri Sendiri

Maka sikap yang paling mungkin dan paling pantas kita lakukan adalah mengevaluasi diri masing-masing dengan evaluasi yang mendalam, kemudian beristigfar—memohon ampun atas kelalaian selama satu bulan di bulan Ramadan, yang menyebabkan kegagalan menghasilkan rajutan atau tenunan libasuttakwa yang indah dan berkualitas. Dan tidak lupa berdoa dengan penuh keyakinan dan ketulusan hati, agar dapat bertemu lagi dengan Ramadan 1444 H yang akan datang.

Doa terakhir pada saat terbitnya hilal Syawal sebagai pernyataan penyesalan atas kelalaian dan kekhilafan selama mengikuti event Ramadan, harus dirangkai dengan pernyataan sikap, bahwa jika Tuhan masih mengendaki untuk bertemu dengan Ramadan yang akan datang, akan mengikuti seluruh event Ramadan dengan maksimal dan istikamah, guna menghasilkan rajutan dan tenunan libasuttakwa yang indah dan berkualitas.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.