OPINI

Negotiating Patriarchy: Relasi Kuasa, Kekerasan Epistemik, dan Agensi Perempuan

Relasi kuasa merupakan salah satu fondasi utama yang menopang kekerasan terhadap perempuan dalam kehidupan keluarga. Kekerasan dalam konteks ini tidak selalu hadir dalam bentuk luka fisik atau agresi yang kasatmata, melainkan juga bekerja secara sunyi melalui sistem, kontrol, pembatasan, pengawasan, dan ekspektasi gender yang menekan perempuan untuk taat serta menormalisasi penderitaan mereka. Dalam bentuk ini, […]

Negotiating Patriarchy: Relasi Kuasa, Kekerasan Epistemik, dan Agensi Perempuan Read More »

Kapolres dan Narkoba: Siapa Yang Mengawasi “Sang Pengawas”?

*Haikal Akram (Lulusan S1 Kehutanan Universitas Mataram)Masih luar biasa bahwa kasus serupa, kasus dugaan keterlibatan Kapolres dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba, bisa terjadi beberapa kali. Kasus itu bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, tetapi adalah ironi yang menampar kesadaran publik. Di tengah gencarnya perang terhadap narkotika, di mana aparat ditempatkan sebagai penegak yang berdiri di garis

Kapolres dan Narkoba: Siapa Yang Mengawasi “Sang Pengawas”? Read More »

Di Mana Letak Budaya Mbojo Sekarang?

Ujung timur Pulau Sumbawa, terdapat dua daerah dengan kekuatan budaya yang begitu terikat dengan masyarakat sehingga disebut sebagai dana ma mbari. Kota Bima dan Kabupaten Bima hidup dalam pusaran perubahan yang begitu signifikan. Jalan aspal, jaringan internet, dan ekonomi pasar datang untuk memberi janji kemajuan.Janji-janji kemajuan ini juga membawa kegelisahan yang pelan-pelan melumatkan fondasi moral

Di Mana Letak Budaya Mbojo Sekarang? Read More »

Kontribusi

Akhir-akhir ini, pertanyaan yang seperti judul di atas semakin banyak terlontar di ruang maya kita. Apa kontribusimu untuk negara atau rencana kontribusimu untuk negara bagaimana. Begitu kira-kira pertanyaan yang terlontar itu. Bagi Anda yang pernah mendaftar beasiswa LPDP, sudah paham betul bagaimana menjawab pertanyaan ini.Pertanyaan ini mencuat dengan polemik seorang alumni beasiswa berplat merah khas

Kontribusi Read More »

Menyapu Debu, Menjaga Doa: Gotong Royong NMC dan Perjuangan Masjid At-Taqwa di Tanah Diaspora

Sabtu, 7 Februari 2026, bukan sekadar tanggal dalam kalender komunitas Nusantara Muslim California (NMC). Pagi itu menjadi ruang pertemuan antara tradisi, iman, dan sejarah perjuangan. Di Masjid At-Taqwa, para anggota komunitas berkumpul untuk gotong royong membersihkan masjid dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan.Di permukaan, kegiatan itu tampak sederhana: memvakum karpet, merapikan lemari sajadah dan mukena,

Menyapu Debu, Menjaga Doa: Gotong Royong NMC dan Perjuangan Masjid At-Taqwa di Tanah Diaspora Read More »

Mengikat Harapan, Merawat yang Telah Tumbuh: Refleksi 19 Bulan Program WE NEXUS

Program We Nexus yang diinisiasi oleh Wahid Foundation dengan dukungan UN Women dan KOICA telah diimplementasikan selama 19 bulan di empat desa di Kabupaten Bima. Pada Senin, 16 Februari 2026, program ini secara administratif menandai akhir pelaksanaannya melalui Forum Rekomendasi Multistakeholders dan penutupan resmi di Hotel Marina Inn, Kota Bima.Namun berakhirnya sebuah proyek tidak serta-merta

Mengikat Harapan, Merawat yang Telah Tumbuh: Refleksi 19 Bulan Program WE NEXUS Read More »

Bullshit Job: Sibuk yang Menguras Hidup, Tapi Kosong Makna, dan Sebuah Tawaran untuk NTB

ADA kerusakan yang tidak berisik. Ia tidak meledak seperti krisis. Tidak memicu demo. Tidak muncul sebagai angka pengangguran. Ia hadir setiap pagi, rapi berpakaian, membawa tas kerja, membuka laptop, lalu menghabiskan hidupnya—untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ada.Inilah kerusakan paling sunyi di negeri ini: pekerjaan ada, tapi tidak bermakna. Orang berangkat pagi, pulang malam. Rapat

Bullshit Job: Sibuk yang Menguras Hidup, Tapi Kosong Makna, dan Sebuah Tawaran untuk NTB Read More »

ISLAM DAN KEKACAUAN (?): Menimbang Ulang Cara Pandang, Membongkar Inferioritas, dan Mengembalikan Martabat Nalar Islam

Tulisan ini menyorot karya Wangsyah berjudul “Kekacauan dalam Agama, Mengapa Terjadi?” yang dimuat alamtara.co (19 Juli 2020):https://alamtara.co/2020/07/19/kekacauan-dalam-agama-new-normal-dan-titik-balik-spritualitas-masyarakat-modern/Tulisan itu sejak awal telah memikul problem epistemik yang serius. Bukan karena pertanyaannya tidak penting—justru pertanyaan tentang kekacauan adalah pertanyaan peradaban—melainkan karena kerangka berpikir, asumsi dasar, dan rujukan intelektualnya sejak judul sudah keliru arah.Jika yang dimaksud “agama” dalam tulisan

ISLAM DAN KEKACAUAN (?): Menimbang Ulang Cara Pandang, Membongkar Inferioritas, dan Mengembalikan Martabat Nalar Islam Read More »

KURIKULUM BERBASIS CINTA: Tepatkah Penamaannya? Menimbang Substansi, Menjernihkan Makna, Menjaga Martabat Islam

Kementerian Agama Republik Indonesia memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai sebuah terobosan dalam pendidikan agama di madrasah. Ia diperkenalkan dengan niat baik: menghadirkan wajah Islam yang lebih ramah, humanis, inklusif, dan penuh kasih sayang.Baca Dulu: Kurikulum Berbasis Cinta: Revolusi Sunyi Pendidikan KemanusiaanSekilas, gagasan ini terdengar indah. Bahkan memesona. Siapa yang menolak cinta? Siapa yang menentang

KURIKULUM BERBASIS CINTA: Tepatkah Penamaannya? Menimbang Substansi, Menjernihkan Makna, Menjaga Martabat Islam Read More »

Masihkah ini Disebut Republik?

Hari demi hari masalah yang nampak semakin menjadi-jadi sehingga banyak rakyat yang muak dengan berita-berita yang menunjukkan bahwa pemerintah sangat tidak layak untuk memerintah negara ini, terlebih banyak pernyataan-pernyataan dari pejabat publik yang sungguh tidak masuk akal bagi realitas saat ini.Indonesia disebut sebagai negara “Republik”, yang menjadi pertanyaan utama adalah, “apakah ini masih disebut republik”.

Masihkah ini Disebut Republik? Read More »