SOSOK

Untuk Umbu Landu Paranggi

Catatan yang tergores beberapa jam menjelang 10 Agustus 1993 ini merupakan hadiah yang diperuntukkan di Hari Ulang Tahun Bang Umbu Landu Paranggi yang ke-50. Tentu sifatnya sangat personal, terpicu oleh pertemuan dan hasil perbincangan serius dan “dalam” dengan beliau saat duduk berdua suatu malam dalam ruangan tertutup di Denpasar: leluasa, sangat privacy dan bebas. Bang …

Untuk Umbu Landu Paranggi Selengkapnya »

Perpustakaan Kalikuma, Edu-Ekowisata dan Jihad Literasi

Ketika saya membuka kembali akun facebook/FB (artinya sesekali non-aktif), tetiba kata kunci ‘Kongres Luar Biasa (KLB)’ sebuah partai politik membanjiri linimasa FB. Saya memang kadang-kadang ‘puasa’ FB, ketika dihadapkan dengan urusan tertentu yang memerlukan KTT (konsentrasi tingkat tinggi), hehe.Setelah itu, FB dibuka lagi. Hal ini berkaitan juga dengan aktivitas media monitoring dan mengendus isu-isu aktual …

Perpustakaan Kalikuma, Edu-Ekowisata dan Jihad Literasi Selengkapnya »

Pak Din, Radikal, dan Hoax

DIN SYAMSUDDIN, tokoh Muhammadiyah itu dianggap radikal. Oleh karenanya beliau dilaporkan oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Gerakan Anti Radikalisme (GAR) – Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB).Benarkah pak Din – Panggilan akrab Din Syamsuddin – radikal? Apakah karena beliau beberapa kali mengkritisi kebijakan pemerintah lalu kemudian dianggap radikal?Jika beliau berpikiran radikal, apa salahnya? Sebagaimana, apa …

Pak Din, Radikal, dan Hoax Selengkapnya »

Mengenang Kang Jalal, Pejuang Keterbukaan

“SAYA tidak peduli dituduh Syiah” adalah pernyataan kunci Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) ketika saya melakukan wawancara panjang untuk tabloid mahasiswa “Washilah”, edisi Desember 1995.  Dia datang ke Ujung Pandang (kini Makassar) sebagai narasumber sebuah seminar tentang rekonsiliasi Sunni-Syiah di kampus saya, IAIN Alauddin.Sebagai wartawan kampus, saya memanfaatkan kunjungannya untuk mengulik informasi seputar isu pembaruan Islam …

Mengenang Kang Jalal, Pejuang Keterbukaan Selengkapnya »

Buku Itu Mahal Harganya: Tribute untuk Taufik Abdullah

SEPULANG KULIAH siang itu, saya mendapat informasi dari mading kampus, bahwa Pak Taufik Abdullah sedang berada di Yogyakarta. Teman-teman Angkatan Muda Muhammadiyah Yogyakarta sebagai sohibul hajat mengundang Pak Taufik untuk membicarakan bukunya yang berjudul Sekolah dan Politik Pergerakan Kaum Muda di Sumatera Barat 1927-1933 yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah tahun 2018 lalu.Kegiatan rutin Jum’at malam …

Buku Itu Mahal Harganya: Tribute untuk Taufik Abdullah Selengkapnya »

Terbitnya Guru Kampung

HAJI Harun adalah salah seorang perintis kampung Panggi di Kota Bima. Konon, kampung Panggi awalnya terletak di dataran tinggi sebelah timur Kota Bima, sekitar Oi Fo’o, Kadole, dan Nitu. Karena gerak bertani, orang-orangnya turun ke daerah lembah. Setelah menemukan tempat tinggal yang baik untuk kehidupan, maka penduduk yang masih tinggal di pegunungan dipanggil ke bawah …

Terbitnya Guru Kampung Selengkapnya »

Rakyat Pemimpin, kan? Ya, Traktir, Dong!

“Pemimpin terbaik adalah yang kehadirannya tidak dirasakan. Tetapi ketika ia selesai dengan tugasnya, orang berkata, ’kita telah bisa sendiri” (Lau Tze) SUDAH merupakan etiket masyarakat di negeri ini kalau makan-makan di suatu restoran atau di mana pun, pasti salah seorang menjadi bos. Tidak nafsi-nafsi seperti masyarakat kapitalis. Dan sang orang besar-lah yang pasti membayar. Jika …

Rakyat Pemimpin, kan? Ya, Traktir, Dong! Selengkapnya »

Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi yang Tidak Gentar Berdebat

ULAMA-ulama besar Nusantara memiliki kontribusi penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Di antara ulama yang memiliki kontribusi terhadap Indonesia, adalah Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Sejumlah nama besar ulama pernah berguru dan menimba ilmu padanya waktu di Mekah, mulai KH. Muhammad Dahlan, Agus Salim, hingga KH. Hasyim Asy’ari. Hal ini terjadi setelah ia diangkat sebagai Imam, dan …

Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi yang Tidak Gentar Berdebat Selengkapnya »

Merayakan Bulan Cak Nur, Menjadi Bintang Caknurian

SEMANGAT beragama yang membebaskan dalam konteks keindonesiaan tak bisa dilepaskan dari sumbangsih Prof. Nurcholish Madjid yang akrab disapa Cak Nur (lahir 17 Maret 1939 – meninggal 29 Agustus 2005). Saya tergerak untuk membuat catatan reflektif tentang cendekiawan besar itu ketika melihat semarak acara Bulan Cak Nur (Haul ke-15). Di kanal medsos juga terdapat acara webinar …

Merayakan Bulan Cak Nur, Menjadi Bintang Caknurian Selengkapnya »

Tuan Imam: Representasi Ulama-Umara di Bima

SALAH satu ulama Bima yang pernah belajar atau mengajar di Haramain selain Syaikh Abdul Ghani dan KH. Said Amin adalah TGH. Abdurrahman Idris. Nama TGH. Abdurrahman Idris – lebih populer dipanggil Tuan Imam – sedikit “tersisih” dari dua nama di atas dalam khazanah keilmuan ulama-ulama di Bima. Padahal jika kita menelisik lebih jauh, beliaulah representasi …

Tuan Imam: Representasi Ulama-Umara di Bima Selengkapnya »