Menemukan Oase di Tengah Panas Riverside, Amerika

Riverside adalah sebuah kota kecil di California bagian Selatan, sekitar satu jam perjalanan dari Los Angeles. Di sinilah saya tinggal selama mengikuti short course di University of California, Riverside (UCR).

Kesan pertama saya tentang kota ini? Panas. Kering. Dan terang benderang hampir sepanjang hari. Bayangkan saja: langit biru tanpa awan, matahari bersinar seolah tak mau istirahat, dan di kejauhan tampak pegunungan batu yang tandus tanpa pepohonan hijau. Semua itu membuat saya benar-benar merasa berada di wilayah gurun.

Namun, seiring waktu, saya mulai memahami bahwa panas di Riverside bukan berlangsung sepanjang tahun. Panas itu hanya khas pada musim panas dan awal musim gugur (fall). Setelah itu, suhu perlahan turun dan udara menjadi sejuk — bahkan dingin. Menjelang musim dingin (winter), suhu malam bisa merosot tajam, jauh lebih dingin dari musim hujan di Indonesia. Udara kering membuat rasa dinginnya menembus tulang, terutama bagi kami yang terbiasa dengan udara tropis yang lembap.

Perubahan ekstrem antara panas dan dingin ini membuat saya semakin menghargai bagaimana alam di sini bekerja dengan ritme yang begitu tegas. Setiap musim datang membawa suasana dan tantangan yang berbeda. Di saat panas, kita diajak bertahan; di saat dingin, kita diajak merenung dan mencari kehangatan, baik secara fisik maupun batin.

Di tengah kontras inilah, saya mulai menemukan makna baru tentang keseimbangan: bahwa kehidupan memang selalu bergerak antara panas dan dingin, antara sibuk dan tenang, antara kering dan segar.

Kekeringan yang Tak Terlihat

Namun, saat ini kekeringan yang paling terasa bukan hanya di kulit, tapi juga di hati. Setelah beberapa hari di Riverside, saya mulai menyadari sesuatu yang hilang: suara adzan

Di Indonesia, hampir setiap waktu kita bisa mendengar lantunan adzan, dzikir, atau shalawat dari masjid di sekitar rumah. Suara-suara itu seperti irama yang menandai waktu — subuh, zuhur, asar, magrib, isya — dan tanpa sadar, mengisi hari-hari kita dengan rasa tenang.

Di sini, semua itu lenyap. Hening. Tidak ada panggilan lembut dari pengeras suara masjid. Tidak ada gema doa yang mengiringi senja. Awalnya saya merasa biasa saja, tapi lama-lama terasa ada yang kosong. Seolah ada ruang dalam diri yang tidak lagi terisi.

Di tengah jadwal kuliah dan proses adaptasi dengan lingkungan baru, saya mulai merindukan suasana spiritual yang biasa saya rasakan di rumah. Suatu sore, saat sedang berbincang dengan profesor saya setelah kelas, beliau mengajak saya menunaikan salat Ashar di Islamic Center of Riverside (ICR). Saya tentu senang sekali, sekaligus penasaran seperti apa suasana masjid di Amerika.

Setelah salat, kami sempat berbincang dengan beberapa pengurus ICR. Dari merekalah saya mengetahui bahwa setiap Ahad subuh, ada kegiatan rutin berupa kajian tafsir dan tadarus bersama. Mendengar hal itu, saya langsung tertarik. Rasanya seperti menemukan kabar gembira di tengah rasa rindu yang sudah lama terpendam — seperti hembusan angin segar di gurun yang panas.

Kajian Subuh yang Menyegarkan

Baca Juga  Rahasia di Balik Masa Iddah

Pagi itu, kami berangkat saat langit masih gelap. Udara subuh Riverside terasa dingin, tapi tetap kering. Masjid ICR berdiri sederhana di kawasan yang tenang, dengan halaman kecil dan lampu lembut yang menyala di depan pintu. Begitu masuk, aroma karpet masjid langsung menyambut. Hangat, tenang, dan menenangkan.

Setelah shalat Shubuh berjamaah, lalu kajian sekitar 10 menit oleh Imam Shalat. Lalu kami membaca Al-Qur’an bergiliran. Setiap peserta mendapat bagian, dan seorang imam yang duduk di depan akan membetulkan bacaan kami bila ada yang keliru. Setelah itu, salah satu jamaah yang ditunjuk menjelaskan makna ayat yang dibaca.

Saya senang sekali bisa ikut serta. Meskipun bahasa pengantarnya Inggris, suasananya terasa akrab. Semua jamaah — dari Syiria, Mesir, Pakistan, India, Arab Saudi, sampai Amerika — duduk bersama di satu lingkaran. Kami saling menyimak dan saling menyemangati.

Momen itu benar-benar menjadi oasis bagi saya. Di tengah kesibukan kuliah dan rasa rindu pada rumah, kajian Ahad Subuh di ICR terasa seperti pengisian ulang energi batin. Hati yang kering seolah kembali disirami.

Persaudaraan Tanpa Batas Negara

Yang paling menarik dari pengalaman ini adalah rasa persaudaraan yang begitu kuat.
Kami datang dari berbagai negara, budaya, dan bahasa, tapi semuanya larut dalam kebersamaan yang sama: keinginan untuk mendekat kepada Tuhan.

Salah satu hal kecil yang selalu saya ingat adalah bagaimana jamaah saling menyapa dan tersenyum setiap kali ada yang baru datang. Tidak ada rasa asing. Tidak ada jarak. Hanya kehangatan yang tulus.

Saya jadi teringat pada kampung halaman. Pada suara adzan di masjid dekat rumah, pada wangi kopi di pagi hari, dan pada suasana guyub setelah shalat berjamaah. Tapi di saat yang sama, saya merasa bersyukur bisa menemukan “rumah kedua” di tempat sejauh ini.

Baca Juga  Hoax itu Apa, Lalu Harus Bagaimana?

Sarapan yang Tidak Terlupakan

Setelah kajian selesai, acara yang paling ditunggu pun tiba: sarapan bersama!
Makanan disiapkan oleh para jamaah dan donatur. Di meja panjang, tersaji beragam hidangan khas Timur Tengah yang kebanyakan saya tidak tahu Namanya.

Bagi kami yang biasanya makan nasi dan telur setiap hari di apartemen, menu itu jelas terasa mewah. Rasanya unik, bumbu rempahnya kuat, dan tampilannya menggugah selera. Meskipun awalnya agak canggung mencoba makanan baru, suasana hangat di antara jamaah membuat semuanya terasa nikmat.

Kami pun bercanda, bahwa sarapan di ICR ini adalah “rehabilitasi gizi mingguan” untuk kami ha ha. Di luar itu semua, yang paling berharga sebenarnya bukan makanannya, tapi kebersamaan yang tercipta di meja itu. Di sana kami tertawa, berbagi cerita, dan saling mengenal lebih dekat.

Pelajaran dari Kota Panas dan Dingin

Dalam beberapa minggu di Riverside ini membuat saya belajar banyak hal.
Bukan hanya soal kuliah, tapi juga tentang cara bertahan dan menemukan keseimbangan dalam hidup jauh dari rumah.

Kota ini mengajarkan saya bahwa kesejukan tidak selalu datang dari udara, tapi bisa tumbuh dari hati dan komunitas di sekitar kita. Bahwa di tengah panas dan kesibukan, kita tetap bisa menemukan “oase”, tempat untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, dan mengingat kembali hal-hal yang membuat hidup terasa bermakna.

Dan ketika musim berganti menjadi dingin nanti, ada hal yang sama bahwa kehangatan sejati tidak selalu datang dari selimut tebal atau pemanas ruangan, tapi dari hubungan yang tulus antar manusia, dari doa, dan dari rasa kebersamaan yang terus kita jaga.

Setiap kali saya melewati jalanan Riverside yang penuh pohon palm, saya teringat pada orang-orang di Islamic Center itu. Mereka seperti pohon-pohon itu: berdiri kokoh di tengah terik matahari, tapi tetap memberi keteduhan bagi siapa pun yang datang.

Dan mungkin, begitulah seharusnya kita belajar menjadi manusia, tetap tumbuh dan memberi makna, meski hidup di tempat yang panas, dingin, kering, dan asing.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *