Menanam Benih di Ladang yang Hangus: Antara Saya, Mbah Nun dan Gojo Satoru

Kita ini sering kali terjebak pada syahwat untuk “merobohkan gedung”. Kita melihat atapnya bocor, tiangnya keropos, dan penghuninya—para petinggi yang identik bajingan itu—sibuk berpesta di atas penderitaan penghuni bawah. Lalu kita pikir, solusi satu-satunya adalah membakar gedung itu sampai rata dengan tanah.

Padahal, sejarah sudah berkali-kali menjitak kepala kita. Kita bakar satu gedung, lalu kita bangun gedung baru dengan batu bata yang sama, semen yang sama, dan tentu saja, penyakit yang sama. Reformasi sering kali hanyalah pergantian pemain dalam panggung sandiwara yang naskahnya tidak pernah diganti.

Saya jadi ingat Gojo Satoru. Dia punya kualitas sihir yang kalau mau, hanya dengan jentikan jari, kepala para petinggi yang “berengsek” itu bisa menggelinding di aspal. Tapi dia memilih jalan yang lebih sunyi, lebih lambat, dan lebih melelahkan: dia memilih menjadi Guru.

Kenapa? Karena Gojo tahu, membunuh petinggi itu tidak akan menghentikan kelahiran petinggi baru selama rahim peradabannya masih beracun.

Di negeri kita ini, kita sibuk mencaci-maki pejabat yang korup, tapi kita lupa bahwa pejabat itu tidak jatuh dari langit. Mereka lahir dari rahim masyarakat yang juga sering kali abai pada integritas. Kalau kita hanya memangkas ranting yang busuk tanpa memperbaiki akar, maka tahun depan ranting busuk itu akan tumbuh lagi dengan nama yang berbeda.

Maka, keinginan saya hanya satu, menjadi pendidik. Bukan karena saya tidak sanggup berteriak di jalanan, tapi karena saya ingin “mencetak manusia”. Saya ingin menanam benih-benih entitas yang hatinya tidak bisa dibeli, yang otaknya tidak hanya berisi angka-angka, tapi juga berisi rasa welas asih.

Kita butuh “anak-anak didik yang kuat dan cerdas”—bukan sekadar pintar cari kerja, tapi pintar menjaga martabat. Tentu kuat ini kontekstual, kalau di “Jujutsu Kaisen”, kuat itu artinya capable menjadi “Penyihir Jujutsu Tingkat Satu”, dan mungkin lebih luas dari itu. Kalau di politik, yang namanya kuat itu bisa diartikan idealismenya tidak bisa dibeli. Tidak dimaterialkan melalui politik balas budi, hingga menganggap negeri ini miliknya sendiri. Atau kuat itu sekadar jujur meski ijazahnya tidak terbukti asli.

Baca Juga  Memahami Kemenangan Jokowi secara Kritis

Well, ketika saya mendapat ide korelatif ini, saya senyum-senyum sendiri. Bukankah saya menjadi salah satu bagian dari sekian pendengar Mbah Nun? Yang dari sekian ribu atau lebih perjalanan simbah lalu lalang ke pelosok dunia demi memastikan ada entitas yang hatinya bersih? Menguatkan calon penerus seperti saya yang belia ini, yang tidak akan terdikte oleh makhluk tapi nurani.[]

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *