Maja Labo Dahu sebagai Fondasi Spiritualitas dalam Membangun Pariwisata Halal yang Berkarakter di Bima

Pariwisata halal dalam beberapa tahun terakhir berkembang bukan hanya sebagai tren industri, tetapi sebagai paradigma baru dalam pengelolaan destinasi yang mengintegrasikan nilai agama, budaya, dan ekonomi secara harmonis. Di Indonesia, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat, pengembangan pariwisata halal bahkan telah memiliki landasan regulatif yang jelas melalui kebijakan daerah yang menekankan penyediaan layanan dan fasilitas sesuai prinsip syariah (PemprovNTB, 2016). Dalam konteks Kota dan Kabupaten Bima, diskursus pariwisata halal menjadi semakin relevan karena masyarakatnya memiliki karakter religius yang kuat dan ditopang oleh kearifan lokal yang khas, yaitu Maja Labo Dahu. Nilai ini tidak sekadar norma sosial, tetapi menjadi sistem etika hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan (Feriyadin et al., 2024).

Menariknya, jika ditelaah secara akademik, nilai-nilai yang terkandung dalam Maja Labo Dahu memiliki keselarasan yang sangat kuat dengan prinsip-prinsip dasar pariwisata halal. Di sinilah letak kekuatan Bima: bukan hanya memiliki potensi wisata halal, tetapi juga memiliki fondasi budaya yang secara intrinsik sudah “halal” dalam makna filosofis.

Secara konseptual, pariwisata halal bukan hanya tentang label makanan halal atau keberadaan fasilitas ibadah, tetapi lebih luas mencakup sistem pelayanan, pengalaman wisata, dan tata kelola destinasi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Literatur global tentang Islamic tourism menjelaskan bahwa pariwisata halal adalah bentuk perjalanan yang memperhatikan aspek religiusitas wisatawan Muslim, mulai dari konsumsi, aktivitas, hingga lingkungan sosial yang mendukung praktik keagamaan (Jamal et al., 2019). Bahkan dalam perspektif yang lebih komprehensif, halal tourism juga mencakup dimensi etika, seperti kejujuran, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan yang berlandaskan prinsip syariah (Hall & Prayag, 2020). Jika konsep ini ditarik ke dalam konteks lokal Bima, maka nilai Maja Labo Dahu menjadi sangat relevan karena mengandung prinsip malu (maja) dan takut (dahu) yang mendorong individu untuk berperilaku sesuai norma agama dan sosial.

Dalam kajian tentang manajemen destinasi berbasis kearifan lokal, Maja Labo Dahu dipahami sebagai sistem nilai yang menciptakan harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan (Feriyadin et al., 2024). Nilai ini sejatinya sejalan dengan prinsip maqashid syariah dalam pariwisata halal, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Misalnya, dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat Bima, konsep “malu” menjadi kontrol sosial yang mencegah perilaku menyimpang, sementara “takut” kepada Tuhan menjadi dasar moral dalam bertindak. Dalam konteks pariwisata, ini dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang jujur, lingkungan yang aman, serta interaksi sosial yang santun—semua merupakan elemen penting dalam halal hospitality.

Realitanya dapat dilihat pada bagaimana masyarakat lokal menyambut tamu. Dalam budaya Maja Labo Dahu, tamu diperlakukan dengan hormat, tidak boleh dirugikan, dan harus dilayani dengan keikhlasan. Ini sangat selaras dengan konsep halal hospitality yang menekankan pelayanan ramah, amanah, dan sesuai dengan nilai Islam. Penelitian tentang peran pemuda dalam membangun citra pariwisata halal menunjukkan bahwa praktik pelayanan berbasis nilai Islam seperti menyediakan makanan halal, menjaga etika berpakaian, serta menciptakan suasana religius menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan wisatawan (Busaini et al., 2020). Artinya, nilai budaya lokal bukan hanya pelengkap, tetapi menjadi inti dari pengalaman wisata halal itu sendiri.

Lebih jauh, keselarasan ini juga terlihat dalam aspek ekonomi dan keberlanjutan. Pariwisata halal di Bima memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM, kuliner halal, dan ekonomi kreatif berbasis budaya (Maulud & Ismail, 2023). Namun, berbeda dengan pendekatan pariwisata massal yang seringkali eksploitatif, pendekatan berbasis kearifan lokal mendorong keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan tanggung jawab moral. Misalnya, dalam pengelolaan destinasi wisata, masyarakat tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian budaya. Ini menunjukkan bahwa konsep keberlanjutan dalam pariwisata modern sebenarnya telah lama hidup dalam kearifan lokal masyarakat Bima.

Di sisi lain, tantangan utama terletak pada bagaimana menerjemahkan nilai-nilai ini ke dalam sistem manajemen yang terstruktur. Pariwisata halal membutuhkan standar yang jelas, mulai dari sertifikasi halal, penyediaan fasilitas ibadah, hingga sistem pelayanan yang sesuai dengan fatwa dan regulasi syariah (Majelis Ulama Indonesia, 2016). Tanpa pengelolaan yang profesional, nilai budaya yang kuat bisa menjadi tidak optimal dalam mendukung pengembangan destinasi. Oleh karena itu, diperlukan integrasi antara nilai lokal dan pendekatan modern, seperti pelatihan SDM, digitalisasi promosi, serta kolaborasi antar stakeholder.

Jika dipandang lebih dalam, keunggulan Bima dibandingkan destinasi lain bukan hanya pada potensi alam atau budaya, tetapi pada “autentisitas nilai”. Banyak destinasi lain harus “menciptakan” citra halal melalui branding dan sertifikasi, sementara Bima sudah memiliki basis nilai yang hidup dalam masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana mengangkat nilai tersebut menjadi identitas destinasi yang kuat dan komunikatif. Misalnya, konsep “Wisata Halal Berbasis Maja Labo Dahu” dapat menjadi positioning yang unik, karena menggabungkan aspek religius dengan kearifan lokal yang khas. Keselarasan antara budaya Maja Labo Dahu dan konsep pariwisata halal bukanlah kebetulan, melainkan refleksi dari sistem nilai yang sama-sama berakar pada etika, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks pengembangan pariwisata di Bima, hal ini menjadi modal sosial yang sangat kuat untuk membangun destinasi yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga bermakna secara spiritual. Pariwisata halal di Bima tidak perlu dimulai dari nol, karena fondasinya sudah ada dalam kehidupan masyarakat. Yang dibutuhkan adalah bagaimana mengelola, mengemas, dan mempromosikannya secara strategis.

Jika nilai Maja Labo Dahu mampu diintegrasikan secara konsisten dalam seluruh aspek pariwisata mulai dari pelayanan, produk, hingga pengalaman wisata, maka Bima tidak hanya akan dikenal sebagai destinasi halal, tetapi sebagai contoh bagaimana budaya lokal dapat menjadi ruh dalam pembangunan pariwisata yang berkelanjutan, beretika, dan berkarakter.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *