Akhir-akhir ini kami sering kongkow-kongkow di tempat ini. Sebuah bangunan terbuka untuk latihan tari. Seperti kedai-kedai Texas saja. Hamparan rumput hijau di kiri dan kanan. Riuh kendaraan yang lalu lalang di jalanan depan: bukannya mengusik, justru menghadirkan irama pentas kota raya. Ini Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, tempat Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) NTB berkantor. Taman kita bersama, untuk healing yang lebih baik.
Kali ini (10-02-2025) tamu kami para pendekar pilih tanding. Pentolan Tim Transisi Gubernur Terpilih NTB 2025-2030. Hadir juga Kepala Museum Negeri, Kepala Taman Budaya, dan pejabat Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Ikut pula beberapa pelaku budaya. Seperti biasa, diskusi di sini informal, meski tetap serius. Tanpa spanduk dan tidak hierarkis.
Banyak hal substansi dan strategis dibicarakan. Seperti pembadanan dan pemberdayaan aspek-aspek kebudayaan pengungkit gerak laju gerakan kulturisasi. Aspek-aspek yang bisa membuka ruang bagi lahirnya ekosistem pemajuan kebudayaan. Sehingga sistemik, aktif, berkelanjutan. Aspek-aspek itu diklinikkan. Didalami. Didetailkan. Apa yang telah dan sedang berlangsung, apa permasalahanya, dan bagaimana strategi menggerakkannya.
Pembedahan (review) semacam ini memang sangat perlu sebagai masukan bagi pemerintah baru NTB di bawah Doktor Iqbal. Agar sektor kebudayaan, yang selama ini sering “tidak dipihaki”. Mendapat tempat dalam sistem pembangunan daerah dan masyarakat.

Kebudayaan Semisal Pohon
Tim Transisi menyebut kebudayaan sebagai kesadaran kolektif, menjadi pondasi kehidupan, termasuk bagi birokrasi dan roda pemerintahan. Definisi ini menarik karena lahir dari Tim Transisi. Berharum akademik, tetapi segera diterjemahkan secara teknokratik, untuk membangun birokrasi dengan nilai-nilai (values): meritokrasi, profesionalisme, penepisan politisasi, dan berpihak pada pembangunan manusia secara berkelanjutan.
Definisi ini diklaim seiya sekata dengan visi gubernur baru yang akan mengawal pembangunan NTB selama lima tahun ke depan. Memang, jika menilik ulang debat calon gubernur tentang tema budaya beberapa waktu lalu, pikiran itu solid bukan saja pada diri sang gubernur sendiri, tetapi meresap kepada orang-orang di sekitarnya. Paling tidak terlihat dari diskusi kali ini. Akan tiba waktunya pikiran ini diuji oleh sejarah sejauh mana daya hidupnya.
Saya sendiri memilih metafora pohon sebagai penggambaran posisi dan dimensi kebudayaan dalam pembangunan. Pohon yang akarnya yang menhujam ke tanah, pokok pohon penopang, tangkai dan ranting yang menjalar, serta daun yang menjulur dan buah yang menjuntai di langit. Ini artinya, kebudayaan sejatinya tumbuh dan digali dari nilai-nilai luhur masyarakat sendiri. Dari pengalaman panjang masyarakat yang mendalam dan teruji. Buahnya berupa kearifan dan pengetahuan yang mentradisi.
Dalam pencarian dan pengembangannya diperlukan mekanisme focusing inward. Meneropong dan menggali sedalam-dalamnya potensi budaya sendiri. Darinya dikonstruksi nilai, jatidiri, dan identitas. Seperti dilakukan Museum Negeri NTB yang mengkonstruksi “sekardiu” dari manuskrip lokal sebagai tawaran alternatif identitas budaya. Sekardiu menggambarkan berbagai keunggulan budaya kita.
Dahan, ranting dan cabang adalah gerak keluar dari pengembangan kebudayaan. Bahwa kebudayaan bersifat dinamis, cenderung membuat jejaring dan membuka diri keluar. Opening outward. Dengan mekanisme ini, budaya daerah yang tumbuh dari dalam akan bertautan dengan budaya lain dalam suatu pertemuan silang budaya (cross cultural encounters). Semakin intensif mekanisme ini berlangsung maka daun dan buahnya akan semakin kaya dengan nilai-nilai baru yang lebih kontekstual. Masyarakat pada gilirannya akan mendapati dirinya diseberangkan ke masa depan.
Selain itu, pohon adalah pemberi nafas bagi kehidupan. Demikianlah kebudayaan memberi daya dukung yang signifikan bagi aspek-aspek ekonomi-politik dari geliat pemajuan suatu negeri dan daerah. Pohon yang rindang dapat membentuk ekosistem yang mendukung habitat dan daya hidup bagi makhluk-makhluk lain.
Dengan filosofi itu, budaya dapat menjadi pendorong nilai kegairahan partisipatoris. Budaya menjadi supporting system bagi pariwisata, industri kreatif, dan perdagangan. Budaya juga menjadi nafas dan semangat bagi birokrasi. Birokrasi menjadi berkarakter, sarat nilai luhur, dan bermartabat. Budaya birokrasi seperti ini melahirkan agen dan aktor yang punya integritas, loyal kepada sistem, tidak tunduk kepada politicking.
Manusia NTB yang Kosmopolit
Pembentukan manusia adalah tujuan akhir segala jenis pembangunan, apalagi pemajuan kebudayaan. Diskusi ini lalu mengamanatkan kepada kami di DKD untuk mendefinisikan jenis manusia berkarakter apa yang dikehendaki dan harus dibentuk dengan cara apa oleh proses sosial-politik-ekonomi kita di mana budaya pilar pentingnya.
Dalam proses penyusunan Peraturan Daerah Pemajuan Kebudayaan beberapa tahun lalu, pengandaian tentang manusia dan budaya NTB telah menjadi perdebatan hangat. Dalam pada itu, manusia NTB diandaikan sebagai masyarakat yang memiliki akar budaya setempat yang dicirikan oleh integrasi nilai-nilai agama yang begitu kuat. Ini merujuk kepada cara pandang focusing inward yang menemu-kenali jatidiri masyarakat dari dalam masyarakat itu sendiri. Masyarakat seperti ini memiliki pegangan kultural yang kuat untuk tidak terombang-ambing dalam pusaran sejarah sosial yang dinamis.
Namun, pemahaman kultural seperti ini tidak serta-merta membuat alpa terhadap realitas objektif, yang seringkali memaksa, bahwa masyarakat dewasa ini hidup dalam jejaring budaya-budaya yang serba beragam dan kompleks. Orang-orang dan budaya-budaya hidup berdampingan, berkait kelindan, silang sengkarut, membentuk jaringan multikulturalisme. Pada saat ini diperlukan masyarakat yang pandai membuka diri, opening outward, sehingga menemukan diri berada di tengah orang lain yang berbeda budaya, bergaul keluar, dan hidup dalam keragaman.
Hanya dengan cara ini masyarakat mengarungi kosmopolitanisasi, yakni proses yang menggiring manusia dari budaya manapun untuk menjadi warga dunia. Dalam penduniaan masyarakat, kita bukan saja dapat menjangkau dunia lain, tetapi dunia lain akan menjangkau kita. Kita dapat dan harus menerima orang lain, pada saat bersamaan kita bisa diterima orang lain secara sepadan. Ketika jalinan ini berlangsung, betapa kayanya kebudayaan kita menyediakan perangkat-perangkat hidup. Kita menjadi hidup dalam kelimpahan budaya.
Tetapi, kembali lagi, kelimpahan atau keceh budaya itu akan menjadi rahmat jikalau kita punya alat tukar budaya yang genuine. Bentuknya kreasi budaya setempat. Entah itu modifikasi, re-kreasi, pelestarian, pengembangan, dan seterusnya. Orang-orang dari kebudayaan lain pun mempersiapkan diri mereka dengan budaya setempat mereka sebagai alat tukar kultural, atau alat konversi dari produk budaya menjadi ekonomi atau politik.
Sejak dulu wilayah NTB kita ini – meminjam Selly Errington – masuk area budaya “exchange archipelago”, kawasan di mana silang budaya berlangsung secara intens. Sekarang, sebagai salah satu surga destinasi wisata, pertukaran budaya itu semakin intens lagi. Jadi, identifikasi diri sebagai warga dunia itu hanyalah reinventing, penemuan dan penyegaran kembali saja.
Akhirnya, perlu pergandengan tangan dalam menggalang kerja-kerja kebudayaan. Jangan yang satu bekerja, yang lain mengolok. Yang satu mencipta, yang lain meruntuhkan. Yang satu swadaya, yang lain keruk untung.
Ayo bekerja dengan kata bijak: asah-asih-asuh (saling menopang). Atau kebijakan Sasak patut-patuh-patju (terpuji, rukun, giat). Atau kata orang Dompu, nggahi- rawi-pahu (wujudkan cita-cita). Kata orang Bima, kalembo ade (berlapang dada). Dan ujar orang Sumbawa, pariri lema bariri (menata supaya lebih baik)…[]

Pengkaji agama dan budaya, direktur Alamtara Institute dan founder Kalikuma Library & EduCamp NTB






