Ketika berbicara tentang pembangunan pariwisata, yang sering muncul di benak kita adalah jalan yang mulus, hotel yang megah, atau spot foto yang “instagramable”. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, ada satu hal yang justru sering terlupakan, padahal ia adalah ruh dari sebuah destinasi: budaya.
Kota Bima adalah contoh nyata dari wilayah yang tidak hanya kaya secara fisik, tetapi juga memiliki kekuatan budaya yang mendalam, yaitu filosofi Maja Labo Dahu. Filosofi ini bukan sekadar slogan atau warisan masa lalu, melainkan sebuah sistem nilai yang hidup mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Nilai seperti ini merupakan bentuk local wisdom yang sangat relevan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Kota Bima adalah contoh nyata dari wilayah yang tidak hanya kaya secara fisik, tetapi juga memiliki kekuatan budaya yang mendalam, yaitu filosofi Maja Labo Dahu. Filosofi ini bukan sekadar slogan atau warisan masa lalu, melainkan sebuah sistem nilai yang hidup mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Nilai seperti ini merupakan bentuk local wisdom yang sangat relevan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan destinasi berbasis kearifan lokal seperti Maja Labo Dahu mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus menjaga kelestarian budaya (Feriyadin et al., 2024). Artinya, budaya bukan hanya pelengkap pariwisata, tetapi justru fondasi utama yang menentukan arah dan karakter pembangunan itu sendiri.
Jika kita melihat lebih dalam, Maja Labo Dahu mengandung nilai malu dan takut malu berbuat salah, dan takut melanggar norma. Dalam konteks pariwisata, nilai ini sebenarnya memiliki implikasi yang sangat konkret. Misalnya, seorang pedagang yang memegang nilai ini akan merasa “malu” jika menipu wisatawan. Seorang pengelola destinasi akan merasa “takut” merusak lingkungan karena itu bertentangan dengan nilai moral yang diyakininya. Di sinilah budaya bekerja secara halus, tetapi sangat kuat membentuk perilaku tanpa perlu pengawasan yang ketat.
Dalam konsep manajemen destinasi modern, keberhasilan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas interaksi antara wisatawan dan masyarakat lokal. Buku Manajemen Destinasi Pariwisata menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman wisata yang berkualitas (Susanty et al., 2024). Namun, kolaborasi ini tidak akan berjalan optimal tanpa adanya nilai bersama yang menjadi pegangan. Di Kota Bima, nilai itu sudah ada—Maja Labo Dahu.
Lebih jauh lagi, tren pariwisata global saat ini telah bergeser dari mass tourism menuju experience tourism, yaitu wisata yang menekankan pengalaman otentik dan bermakna. Wisatawan tidak lagi hanya ingin melihat pantai atau gunung, tetapi ingin merasakan kehidupan lokal, memahami budaya, bahkan terlibat di dalamnya. Kota Bima memiliki modal besar untuk menjawab tren ini melalui tradisi seperti Gantao, Ua Pua, dan berbagai praktik budaya lainnya. Potensi ini sejalan dengan temuan bahwa Kota Bima memiliki kekayaan budaya dan alam yang unik serta posisi strategis sebagai jalur penghubung destinasi nasional (Feriyadin et al., 2024).
Namun, persoalannya bukan pada potensi, melainkan pada pengelolaan dan narasi. Banyak destinasi di Bima yang sebenarnya kaya cerita, tetapi belum dikemas dengan baik. Padahal, dalam era digital saat ini, cerita adalah segalanya. Buku Digitalisasi Tourism menekankan bahwa pariwisata modern tidak bisa dilepaskan dari teknologi dan storytelling digital, mulai dari promosi hingga pengalaman wisatawan (Surya Afnarius et al., 2024). Tanpa narasi yang kuat, budaya hanya akan menjadi “pajangan”, bukan pengalaman.
Contoh konkret bisa kita lihat di kawasan Pantai Lawata. Secara fisik, kawasan ini memiliki potensi besar sebagai ikon wisata, bahkan dalam konsep pengembangan waterfront city yang dirancang pemerintah (Syamsuddin & Junaidin, 2020). Namun, berbagai persoalan seperti pengelolaan sampah, penataan pedagang, dan kurangnya keterlibatan masyarakat menunjukkan bahwa pembangunan fisik saja tidak cukup. Tanpa integrasi nilai budaya, ruang wisata bisa kehilangan maknanya.
Selain itu, strategi pengembangan pariwisata di Kota Bima juga menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat, peningkatan fasilitas, serta promosi yang berkelanjutan (Ernawati et al., 2024). Namun, semua strategi tersebut akan lebih kuat jika ditopang oleh identitas budaya yang jelas. Dalam hal ini, Maja Labo Dahu dapat menjadi “brand value” yang membedakan Kota Bima dari destinasi lain.
Bayangkan jika setiap pengalaman wisata di Bima dikemas dengan narasi budaya: wisatawan tidak hanya diajak melihat Pantai Kolo, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat menjaga laut sebagai bagian dari nilai kehidupan. Tidak hanya menyaksikan pertunjukan Gantao, tetapi juga memahami filosofi di balik gerakannya. Inilah yang disebut sebagai meaningful tourism pariwisata yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi makna.
Pada akhirnya, pembangunan pariwisata yang berkelanjutan bukan hanya soal apa yang dibangun, tetapi bagaimana dan untuk apa itu dibangun. Kota Bima memiliki semua elemen penting: alam yang indah, budaya yang kaya, dan masyarakat yang memiliki nilai hidup yang kuat. Namun, tanpa pengelolaan yang terintegrasi dan narasi yang kuat, semua itu bisa menjadi potensi yang “diam”.
Maja Labo Dahu adalah kekuatan yang selama ini mungkin dianggap biasa, padahal ia adalah fondasi yang luar biasa. Ia mampu membentuk perilaku, membangun kepercayaan, dan menciptakan pengalaman wisata yang autentik. Jika nilai ini benar-benar dihidupkan dalam praktik sehari-hari, dari pedagang kecil hingga pengambil kebijakan, maka Kota Bima tidak hanya akan menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi contoh bagaimana budaya dapat menjadi pilar utama pembangunan.
Referensi
Ernawati, S., Haryanti, I., & Purnamasari, I. (2024). Strategi Pengembangan Industri Wisata di Kota Bima. Seminar Nasional Pariwisata Dan Kewirausahaan (SNPK), 157–162.
Feriyadin, Marswandi, E. D. P., Pratama, A. A., & Ulya, B. N. (2024). Manajemen Destinasi Wisata Berbasis Kearifan Lokal Maja Labo Dahu untuk Keberlanjutan Pariwisata Kota Bima. Journal of Tourism and Creativity, 8(1), 51–65.
Surya Afnarius, Octaviani, L. K., Trenggana, A. F. M., Kraugusteeliana, Syahadat, R. M., Adriani, H., Sudirman, A., Thaheer, H., Halim, H., Awaludin, D. T., Latif, B. S., Azmi, N., Ahyani, H., HS, S., Handayani, T., Feriyadin, & Rohani, E. D. (2024). Digitalisasi Tourism. Penerbit Widina Media Utama Dilarang.
Susanty, S., Susanti, P. H., Soegoto, A. S., Octaviany, V., Feriyadin, Mokodongan, E. N., Octaviani, L. K., Madjid, R., Puspitasari, M., Adriani, H., Syahadat, R. M., Lestari, H. D., Dey, N. P. H., & Djumaty, B. L. (2024). Manajemen Destinasi Pariwisata. Widina Media Utama.
Syamsuddin, & Junaidin. (2020). Analisis Kebijakan Pengembangan Kota Bima sebagai Kota Tepian Air (Water Front City). Jurnal Administrasi Negara, 1, 68–89.

Dosen STIPAR Soromandi, Bima.





