Malingi-nya Jalan Alan Malingi (Obituari untuk Alan Malingi)

Istana bersejarah itu kini sedang bersolek. Manajemen dan kerja-kerja penyambutan pengunjung dirasa lebih profesional dari sebelumnya. Kegiatannya juga beragam. Selayaknya meseum pada umumnya. Dia sudah jauh dari kesan horor, angker, mistik. Ia berbenah, datang menghembuskan battle cry akan kesan negatif museum itu.

Sederet jurus baru untuk museum itu disiapkan, pameran, diskusi, bedah buku, anak-anak datang berkunjung, anak muda yang kongkow menikmati rumput hijau di halaman museum, dan sederet agenda kerja yang belum terlaksana. Pintu museum itu terbuka lebar untuk mereka. Corong komunikasi kantor plat merah itu ke masyarakat diperbaruinya di bawah slogan “Soba Asi”. Media sosialnya yang mati suri kini diberi nyawa mengikuti zamannya.

Saya masuk, untuk sebuah keperluan menemui yang nahkoda baru meseum itu. Sambil berkunjung saja, memori lama dinding-dinding yang dulu kusam oleh cat yang termakan usia kini di-recovery dengan beragam informasi dan profil-profil orang nomor satu dalam silsilah Kesultanan Bima.

Halaman museum itu ditanami bunga-bunga, dirawat dan diperhatikan tumbuhnya. Belum mekar benar bunga itu, kini sang nahkoda telah pergi. Meninggalkan warisan yang maha berat yang dipikulnya selama ini untuk generasi selanjutnya, apalagi kalau bukan sejarah, literasi, dan kebudayaan. Tema yang membuat orang skeptis, ragu, dan berpikir sekali lagi. Ya, seperti nama yang disematkan padanya, ya malingi itu, sunyi dan sepi.

***

Jauh sebelum ia menjadi nahkoda museum itu, siapa yang tak kenal namanya? Imajinasi anak-anak Bima mana yang tidak dirasuki oleh tulisan-tulisan Alan Malingi soal sejarah dan budaya Bima? Mulai dari buku cerita Temba Kolo, Wadu Ntanda Rahi, hingga Jati Kasipahu yang bisa diakses mudah di perpustakaan sekolah dasar itu atau disuruh foto copy oleh guru Muatan Lokal kita.

Baca Juga  Nirwan Ahmad Arsuka: Manusia Perpustakaan

Saya pun menikmati tulisannya, walau hanya dari foto copy, tapi jelas, imajinasi kita tumbuh dengan buku-buku itu. Buku-buku dari Alan Malingi. Buku-buku yang “merakyat dan melokal”, tidak seperti bacaan sebagian anak-anak lain “Majalah Bobo” yang tidak dapat diakses oleh kebanyakan siswa itu.

Lain dari itu, giatnya dengan dunia literasi membawanya ke Ubud Writers and Reader Festival yang bergengsi itu. Bukunya Nika Baronta yang menyusuri pinggiran-pinggiran episode sejarah wanita Bima di era pendudukan Jepang sulit untuk tidak mengatakannya buku babon. Dan seperti itulah kerja sejarawan yang liat. Mampu membawa tema-tema yang dianggap sebelah mata ke panggung utama. Menjadikannya penting dan diperhitungkan. Seperti umumnya penulis yang menulis banyak buku, sulit untuk menilai, buku mana yang menjadi masterpiece-nya. Untuk yang ini, saya serahkan kepada pembaca untuk menilai sendiri.

Sosok seperti Alan Malingi bukanlah yang suntuk di ruang kerja, birokrat yang hanya mementingkan administrasi, atau sejarawan yang hanya pandai berbicara tapi lupa mengambil hikmah. Ia sosok intelektual publik itu. Yang merasa gelisah apabila realitas di belakang kantornya tak sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Atau ia sejarawan publik, yang aktif menyemai generasi lewat kerja-kerja praksisnya di lapangan.

Bukti sahih yang tak terbantahkan lewat Makembo-nya untuk menelusuri tanda, jejak, simbol, dan narasi-narasi tercecer dari kayanya khazanah budaya Bima. Atau dalam jejak literasinya, tak segan membaur dengan anak-anak muda yang diajaknya berkolaborasi lewat Komunitas Mbojo Itoe Boekoe ke desa-desa di pinggiran Kabupaten Bima.

Atau kontribusinya dalam perhelatan Mbojo Writers Festival 2021 yang mungkin ia impikan akan menjadi seperti Ubud Writers Festival yang megah dan memberi kontribusi besar bagi pariwisata Bali. Impian-impian itu sudah jelas ia sepakati lewat MoU-nya dengan Alamtara Institute untuk berkolaborasi lebih jauh.

Baca Juga  Mata Air di Tengah Kegersangan: Franchise untuk Walikota Bima

Kalau ia di Ubud Writers and Readers Festival dengan bukunya Nika Baronta, kini ia di Mbojo Writers Festival ia tampil dengan cerpennya Terampas yang bercerita tentang daerah Oi Tui yang menjadi daerah untuk salah satu proyek transmigrasi pemerintah yang membuat warganya “terampas”. Seperti intelektual publik umumnya, ia bernada “mengkritik” lewat tulisannya. Menjadi juru bicara untuk manusia-manusia yang berada “di pinggiran” itu.

Namun, yang lebih menyakitkan dari yang dipinggir itu ialah ia pergi pada saat puncak kemarau seperti ini. Saat banyak orang membutuhkan kontribusinya untuk menjadi kompas penunjuk arah generasi ke depan. Penjaga tradisi di tengah arus saling klaim di sana-sini. Pengagum moral di tengah amoral masyarakat yang amnesia budaya.

Sebagai pembaca tanda-tanda zaman, ia bertanda dalam cerpennya Terampas:  

“Tumben hujan turun di puncak kemarau seperti ini. Namun, gerimis itu tidaklah mampu membasahi semua lahan”

Seperti sekarang di puncak kemarau, hujan turun. Tapi tepatnya, hujan air mata atas kepergianmu. Memang, hujan yang tak mampu membasahi semua lahan. Lahan yang tak dapat manusia jamah kecuali Sang Khalik. Namun, saya berharap, lahan yang masih bisa dijamah manusia itu tercucur oleh hujan di musim kemarau. Lahan generasi muda untuk mengikuti jejakmu dan berkarya selayaknya sebagai the next Alan Malingi.

Sebuah jalan yang sunyi untuk kita semua dan pekerjaan penuh waktu untuk Bima di hari jadinya ke-383.

Ilustrasi: Metromini.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *