PEREMPUAN

Narsisme ala Santri(wati) 90-an

APAKAH kehidupan santri melulu tentang ngaji, klassikal dan sorogan? Tentang keterbatasan mengakses dunia luar? Tentang waktu yang terus mengejar di antara jadwal yang super padat? Tentang ketundukan tanpa syarat pada aturan pondok? Tentang ta’dhim kepada Ibu Nyai dan Pak Yai? Tentang kebersihan dan ro’an yang menghabiskan waktu libur Jum’at? Percayalah, santri juga manusia yang memerlukan […]

Narsisme ala Santri(wati) 90-an Read More »

Perempuan dan Genggamannya

SEJARAH Yunani menyebutkan, bahwa perempuan dianggap sebagai penyebab segala penderitaan dan musibah. Ketika tamu datang, perempuan diperlakukan sebagai budak atau pelayan. Perempuan diberi kebebasan untuk melacur dan berzina. Kalau itu terjadi, perempuan tersebut dinilai sangat terhormat (Gayo, 2010). Hal ini sejalan dengan perkataan Nikolaos A. Vrissimtzis dalam karyanya Erotisme Yunani, bahwa perempuan bisa mempunyai kedudukan tinggi asalkan

Perempuan dan Genggamannya Read More »

Ironi Setetes Mani

WAJAH Tsania Marwa terlihat sembab. Sesekali ia menyeka air matanya. Meski ia berusaha keras menutupi kesedihannya,  akhirnya tumbang  juga. Sebelumnya ia selalu terlihat tegar menghadiri persidangan dan mediasi panjang yang melelahkan di pengadilan untuk mendapatkan hak asuh kedua anaknya. Buah cinta pernikahannya dengan Attalarik Syah. Dia juga rajin mendatangi KPAI agar kedua buah hatinya kembali ke

Ironi Setetes Mani Read More »

Jilbab dan Simbolisasi Agama di Ruang Publik

Ilustrasi: CNBC Indonesia PAKAIAN adalah simbol kebudayaan dan peradaban. Bagi Quraish Shihab pakaian merupakan produk budaya yang sekaligus menjadi tuntutan agama dan moral. Di samping berfungsi untuk menutup aurat, pakaian juga memiliki banyak alasan lainnya. Menurut Jalaludin Rakhmat, pakaian selalu berkaitan dengan perilaku tertentu. Umumnya pakaian yang kita pakai menjadi wadah untuk menunjukkan identitas, termasuk

Jilbab dan Simbolisasi Agama di Ruang Publik Read More »

Jangan Pernah Lupakan Sayyidah Hajar

JANGAN PERNAH lupakan Sayyidah Hajar saat mengenang peristiwa qurban. Saat mengambil pelajaran dan hikmah Idul Adha. Saat menapak tilas ritual haji. Saat menyebut Ibrahim dan Ismail alaihimassalam. Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar, karena sejarah Mekkah yang mendunia sampai sekarang, dengan air mukjizat bernama zamzam bermula dari keyakinan, harapan dan kerja kerasnya yang amat sangat mengagumkan.

Jangan Pernah Lupakan Sayyidah Hajar Read More »

Prinsip-prinsip Perkawinan Islami (2)

4. Prinsip Musawah (Kesetaraan dan keadilan gender) Kebahagiaan hidup dalam pernikahan hanya dapat diwujudkan dalam kehidupan keluarga manakala suami isteri berada pada posisi yang setara dan sederajat. Itulah yang sekarang diistilahkan dengan kesetaraan dan keadilan gender. Sebab, bagaimana mungkin suami isteri bisa saling menghargai, saling menghormati, dan saling terbuka jika sang suami memandang isteri lebih

Prinsip-prinsip Perkawinan Islami (2) Read More »

Prinsip-prinsip Perkawinan Islami (1)

PERKAWINAN atau pernikahan adalah amanah. Islam menegaskan bahwa pernikahan merupakan komitmen yang teguh dan perjanjian kokoh. Agar komitmen atau perjanjian itu tetap menjadi teguh dan kokoh selamanya, Islam menggariskan beberapa prinsip yang harus dijadikan pedoman dalam hubungan suami istri. Prinsip dasar ini harus dipegang kuat oleh kedua pasangan isteri dan suami. 1. Prinsip Mitsaqan ghaliza

Prinsip-prinsip Perkawinan Islami (1) Read More »

Bercadar: Agensi, Literasi, dan Narasi Kebangsaan

TIDAK mudah mendayung antara dua karang, yakni memadu-selaraskan antara kepentingan memelihara nilai-nilai agama (Islam) yang dianut dan diwariskan dengan kepentingan merawat kebersamaan sebagai warga negara dari bangsa pluralistik. Tapi identitas dan gaya beragama harus ditentukan dari berbagai pilihan yang ada dan mungkin, sebagai ekspresi dari egalitarianisme budaya yang dianut oleh manusia Indonesia. Dilema atau ambigu

Bercadar: Agensi, Literasi, dan Narasi Kebangsaan Read More »

Perempuan dan Kekuasaan

SUATU hari di musim dingin Bulan Desember Tahun 1936, Raja Inggris, Edward VIII, yang baru setahun atau persisnya 325 hari diangkat menjadi Raja Inggris memutuskan untuk turun tahta, menyerahkan privilege itu kepada adiknya, demi seorang perempuan. “Saya, Edward VIII, Raja Inggris, dengan ini menyatakan keputusan saya yang tak bisa dibatalkan, untuk meninggalkan takhta untuk diri

Perempuan dan Kekuasaan Read More »