Bercadar: Agensi, Literasi, dan Narasi Kebangsaan

TIDAK mudah mendayung antara dua karang, yakni memadu-selaraskan antara kepentingan memelihara nilai-nilai agama (Islam) yang dianut dan diwariskan dengan kepentingan merawat kebersamaan sebagai warga negara dari bangsa pluralistik. Tapi identitas dan gaya beragama harus ditentukan dari berbagai pilihan yang ada dan mungkin, sebagai ekspresi dari egalitarianisme budaya yang dianut oleh manusia Indonesia. Dilema atau ambigu pasti muncul, tetapi itu justeru memberi tantangan bagi lahirnya individu otonom yang memiliki kapasitas bertindak. Itulah pergulatan yang dialami sejumlah mahasiswi pengguna cadar di tanah air. Pergulatan itu menjadi lebih intens berlangsung di kalangan mahasiswa perguruan tinggi agama Islam (PTKI), karena di situ bertautan pengetahuan keagamaan dengan kehidupan sosial diperdebatkan, dan para mahasiswa bercadar masuk dalam arena kontestasi.

Bercadar tidak bisa dipandang secara hitam putih. Praktik itu memiliki lapisan dimensional yang perlu diurai secara jernih. Bagi mahasiswi PTKI bercadar adalah pilihan sadar dari pencerapan pengetahuan tertentu atas budaya dan agama. Pengetahuan dan kesadaran itu tumbuh baik dalam pengasuhan keluarga, proses pendidikan, dan interaksi sosial. Pada gilirannya, struktur kognitif itu melahirkan kesadaran dan sikap keagamaan tertentu yang diekspresikan melalui gaya beragama, salah satunya lewat fashion, berjilbab dengan gaya niqab (cadar).

Para pengguna cadar menyadari bahwa pilihan gaya beragama mereka mengandung resiko diperbincangkan, diperdebatkan, dan disalahpahami. Mereka pun merespons dengan cara mereka sendiri, yaitu penguatan intrinsik dan “speak out” – mengikuti strategi bicara kaum subaltern ala Gajatri Spivak. Penguatan internal adalah pemantapan pilihan gaya beragama pada tataran artifisial dengan basis literasi, paling tidak literasi akan budaya berpakaian dalam agama Islam. Menurut mereka, bercadar bukanlah tuntutan agama yang wajib, melainkan sunnah, boleh dilakukan tetapi tidak mutlak harus. Yang wajib dalam agama itu adalah menutup aurat, sedangkan pilihan-pilihan gaya menutup aurat diserahkan kepada perkembangan budaya yang melingkupi kehidupan wanita muslimah kini. Tidak ditampik bahwa bercadar adalah gaya busana dari kebudayaan tertentu yang merasuk ke dalam moda berpakaian masyarakat Indonesia. Bagi para pengguna cadar di kalangan mahasiswi PTKI (kasus NTB), tiada salah mengambil yang baik dari kebudayaan lain, karena kebudayaan adalah memang pengaruh-mempengaruhi. Atas dasar ini, mereka menganggap cara menutup aurat berbentuk cadar bukanlah final, melainkan masih terbuka transformasi demi transformasi.

Cibiran orang bahwa pilihan bercadar mengindikasikan pengguna cadar sedang menerapkan fanatisme agama, arabisasi Islam, dan menjadi simbol penindasan perempuan, semata-mata kesalahpahaman. Mereka sebenarnya sedang mempraktikkan suatu modus menjadi muslimah yang baik. Apa yang mereka sebut sebagai muslimah yang baik adalah mereka yang bisa menangkis fitnah atau pandangan buruk dengan cara halus. Perempuan adalah sumber fitnah, terutama berhubungan dengan tubuh, dan tugas seorang muslimah adalah menjaga dirinya, juga memelihara lingkungan pergaulan dari berkembangnya efek buruk fitnah itu. Mereka menemukan cara itu dalam bercadar.

Bukannya praktik bercadar tanpa kritik. Kritik mengarah kepada basis literasi yang menjadi landasan praktik, berupa sumber pemahaman agama pengguna cadar yang instant. Pemahaman agama cepat saji itu kebanyakan diakses melalui sumber anonim dari media sosial dan perangkat modernitas lainnya seperti iklan dan serbuan pasar gaya hidup. Pada titik ini terlihat praktik bercadar itu rapuh, tidak memenuhi syarat sebagai perangkat ideologi keagamaan yang mapan. Selain itu, hal ini mencerminkan ambiguitas di kalangan pengguna cadar antara mencerap modernisasi untuk sisi tertentu dan menolak sisi lainnya. Moda komunikasi cepat saji memungkinkan mereka menyerap ajaran agama – betapapun instant dan populisnya di satu sisi, dan mereka memusuhi produk modernitas yang lain seperti kebebasan seks dan degradasi moral di sisi lain. Untuk yang terakhir inilah mereka berdiri dan mengenakan cadar sebagai simbol penolakan/perlawanan terhadap modernitas. Meskipun tidak secara terbuka dideklarasikan, tetapi begitulah siratan dari tafsir simbolik praksis sosial mereka, sehingga mereka terkategorikan kaum konservatif.            

Di balik cadar memang ada citra konservatisme atau islamisme, misalnya dengan pandangan sebagian kecil mereka bahwa Indonesia akan lebih baik jika didasarkan pada hukum Islam. Tetapi Pancasila dan toleransi masih menjadi narasi utama di kalangan mereka. Ada visi kebangsaan inklusif dan toleran dalam cara mereka melihat Indonesia. Pengguna cadar menyadari bangsa Indonesia multikultural adanya, dan mereka bagian dari kewargaan bhinneka itu. Ada sebagian kecil di antara mereka yang melihat Indonesia bukan negara religius karena tidak menerapkan hukum agama (Islam), atau pemerintah tidak serius menegakkan Islam dalam kehidupan yang kaffah. Di mata sebagian kecil lain lagi Indonesia tidak ideal karena keadilan belum ditegakkan. Tetapi sebagian besar mereka mempersepsi Indonesia sebagai negara yang cukup ideal, dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, beragama dan menjalankan agama tidak dibatasi. Dalam pandangan kelompok terakhir ini multikulturalisme adalah keniscayaan Indonesia. Bergaul dengan orang yang berbeda itu solidaritas kebangsaan yang saling mendewasakan, saling menghormati dan memperkuat identitas tanpa saling mengganggu. Mayoritas perlu mencontohkan praktik yang baik, tetapi minoritas tidak boleh menjadi tiranik.[]

3 komentar untuk “Bercadar: Agensi, Literasi, dan Narasi Kebangsaan”

  1. Masya Allah luar biasa tulisannya bunda. Semoga sukses slalu untuk karya selanjutnya. Aamiin allahuma amin

  2. Ada kalimat di atas….”Menurut mereka, cadar bukan final melainkan terbuka utk transformasi”…..(Mereka siapa? Klo data.penelitian, bisa dilengkapi informasix???

    1. penelitian tersebut menyasar mahasiswi PTKIN/S yang ada di NTB diwakili oleh UIN, UMMAT, UNW. Pada awalnya direncanakan juga dari UNU tetapi tidak ada yang bercadar. Kuesioner disebar 100, 25 masing2 kampus. Yang kembai 60 lalu indepth wawancara 15 orang mahasiswi bercadar dari ketiga kampus tersebut di atas.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *