Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (1)

KETIKA bertandang ke pacuan kuda di Bima, menikmati atraksi joki kecil yang lihai memainkan tali kekang kuda sementara di pantatnya tidak ada sandaran pelana, saya dahulu memikirkan banyak hal sebelum saya mengambil tempat duduk “di mana” dan menyapa “siapa”.  Pertanyaan pertama adalah, apakah yang akan saya “intens”kan di pacuan itu? Apakah pertarungan kuda berjoki kecil di lintasan itu, atau interaksi orang-orang “elit” di panggung kehormatan, atau hiruk-pikuk para petaruh/penjudi kuda?

Sebagai pegiat Cultural Studies (CS-er) saya harus menentukan pilihan dari sekian banyak fenomena yang ada di depan mata, dan harus fokus pada subjek (subjek dan bukan objek dalam CS) tertentu atau pada relasi tertentu antarsubjek itu. Jika intensitas perhatian saya ada pada joki kecil, maka sisi apakah dari aksi bocah-bocah itu yang bisa saya “nikmati dan CS-kan”: kecekatan mengapit badan kuda atau rintihan kesakitan mereka ketika tergencet atau terjatuh? Atau jika perhatian saya beralih pada kerumunan orang-orang yang mengadu untung dengan berjudi, maka apakah intensitas saya pada transaksi, perpindahan uang, percekcokan mereka, cara mereka melakukan transaksi, atau apa?

Sampai di sini saya sudah menjadi seorang CS-er, dengan datang ke pacuan kuda penuh tanda tanya. Saya datang tidak lagi sebagai penikmat, tetapi lebih sebagai penggugat. Karena sebagai CS-er tentu saya dibekali dengan “kepentingan”, dan itulah yang kemudian mengarahkan saya untuk memilih subjek yang akan menjadi target perhatian saya. Saya mulai melakukan mencari simpul-simpul relasi dari praktik dan kerumunan orang di pacuan.

Pekerjaan ini mudah saja bagi saya, karena saya memiliki pakem atau argumen dasar: “Setiap perhelatan atau praktik pasti dibangun oleh subjek ber-kelas, saling bertukar dan mempertaruhkan nilai, modal, dan identitas, serta saling bertarung. Dalam pertaruhan dan pertarungan itu, ada yang untung dan ada yang rugi, ada yang menang ada yang dikalahkan, ada yang menjadi terhormat ada yang dinistakan.”

Karena cultural studies yang saya sedang geluti lahir dari intensitas perjuangan kelas dan dibidani oleh kelas pekerja – kelas terancam, subsistem, subaltern, maka tentu saya punya perhatian lebih pada kelas yang sama di pacuan kuda itu. Pasti ada kelas sosial di sana, dan ada yang sedang bertarung, ada relasi kuasa di balik interaksi mereka itu. Di sana ada orang kaya dari pebisnis atau pejabat yang tempatnya di panggung tinggi atau tribun, ada pemilik kuda yang kebanyakan dari kelas bawah yang rentan akan jatuh miskin, ada penjudi yang sudah mampet kreativitasnya dalam mencari nafkah halal, ada para joki kecil yang dipaksa mencari makan dengan cara rentan bahaya… O, pasti ada apa-apa!

Saya menjadi seratus persen CS-er. Saya membebani diri saya dengan suatu tugas: mencari apa yang tersembunyi di balik realitas di pacuan itu. Apa yang sedang bekerja dengan perangkat apa dan menghasilkan apa. Apakah struktur yang membentuk realitas itu. Kepentingan apa saja yang sedang saling berebutan. Komodifikasi? Simulacra? Kapitalisasi? Gaya hidup? Hasrat kuasa? Ideologi waktu senggang? Lalu siapa saja agen-agennya? Apa strategi dan alatnya? Siapa saja pihak yang kalah, tergerus, termarjinalkan, dan ditiadakan?

Saya tadi memandang aktivitas di pacuan kuda itu adalah rangkaian relasi dan pertarungan antarsubjek pelaku pacuan, yang membentuk suatu struktur sosial-budaya-politik tersendiri. Saya juga bisa memandang bahwa pacuan kuda dan apa yang berlangsung di dalamnya adalah representasi “kelas” sosial yang sedang bertarung dengan kelas sosial lain. Mereka yang ada di dalamnya adalah orang-orang yang terpental dari struktur besar di luar, kelas pekerja (para kusir benhur, buruh dan pekerja kasar), yang tidak terserap dalam sistem ekonomi, dikucilkan dari pergaulan umat yang religius, terlempar dari kekuasaan real, tidak bisa mengakses sumber daya sosial-ekonomi-politik- di luar. Mereka lalu membentuk klaster dan getho tersendiri, di mana mereka bisa mengekspresikan aspirasi dan hasrat, bisa membuat dan menegaskan identitas, dan bisa menggumpalkan kekuatan untuk speak out dan perlawanan.

Betapa sudah terbentang luas berbagai persoalan yang harus saya CS-kan. Saya harus memilih entry point. Lagi-lagi pilihan pintu masuk ini sangat tergantung kepada subjektivitas saya. Saya putuskan untuk melihat praktik pacuan kuda itu sebagai praktik budaya kecil (low tradition), budaya rakyat (popular culture), yang dilakukan oleh under-class.

Maka demi ini saya urungkan niat untuk duduk bersama para elit pacuan kuda. Saya pergi bergabung ke kerumunan orang-orang yang ribut. Para penjudi yang berwajah kalah. Saya mendengar ocehan mereka, sumpah-serapah, canda, olokan, keluhan dan lolongan mereka. Juga getir-getir kekalahan yang mereka derita. Semua itu adalah “teks” dan “code” yang harus saya baca dan terjemahkan untuk kemudian saya lakukan ‘decoding’ dan ‘encoding’.

Saya sudah sangat CS sampai tahap ini. Tetapi apa yang saya lakukan masih sama, atau belum bisa dibedakan, dengan apa yang dilakukan oleh peneliti sosiologi atau antropologi. Sebagai CS-er saya masih labil. Saya bisa dengan mudah menjadi seorang pekerja disiplin sosiologi atau antropologi yang sedang mengkaji sebuah fenomena kebudayaan, bukannya seorang CS-er.

Karena itu, saya mendefinisikan apa/sesuatu yang sedang terpampang di depan mata saya bukanlah fenomena sosial tetapi sebuah “praktik budaya”. Meski tampak sebagai sebuah realitas yang sama tetapi penamaan terhadap apa yang saya lihat itu sebagai praktik budaya adalah penting sebagai bagian dari penegasan “identitas” studi saya agar punya tiket untuk masuk ke dalam medan cultural studies.

Tetapi itu pun belum cukup mapan, sebab sampai di sini saya harus berhadapan dengan persoalan pelik: Ya, saya sedang mengkaji suatu fenomena budaya, namun apakah saya sedang menjalani “studi (terhadap) budaya” (study of culture) atau studi budaya (cultural studies)? Saya harus memilih antara: 1) memahami budaya itu sebagai “apa adanya”, struktur dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pembentukannya; atau 2) mencurigai “ada” sesuatu yang lain yang sedang “tersembunyi” di balik wajah budaya.

Jika saya melakukan yang pertama tanpa melakukan yang kedua, maka saya sedang bermain di lapangan study of culture, tetapi jika saya melakukan yang kedua, saya sedang berada di lapangan cultural studies. Bagaimana kalau saya melakukan kedua-duanya, sebagaimana kecenderungan umum yang dipilih para pengkaji budaya dari Indonesia, atas pertimbangan untuk menangkap yang kedua harus memahami yang pertama? O, itu artinya saya pelaku study of culture sekaligus seorang cultural studies, atau bukan kedua-duanya, tetapi seseorang yang sedang berada di suatu wilayah disiplin sendiri yang bernama “kajian budaya”.[]

baca juga : Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (2)

Ilustrasi : Alamtara.co

1 komentar untuk “Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (1)”

  1. Pingback: Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (2) | alamtara.co

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *