Hari Buku dan Radhar Panca Dahana

Selalu ada ‘tragedi’ dan kesedihan di belakang perayaan. Ia tak benar-benar murni sebuah kesenangan. Akhirnya, menjadi momen, dibuat monumen hingga diperingati berdarah-darah.

“Seremoni selalu ada, tapi ‘tragedi’ tetap abadi,” kira-kira begitu menggambarkan situasi ini.

Perayaan hari buku juga begitu, diperingati atas ‘tragedi’ kematian penulis Spanyol yang terkenal: Miguel de Cervantes. Begitu juga perayaan lain: Valentine, Natal hingga hari Karbala selalu diperingati atas ‘tragedi’ dan kesedihan.

Walau megap-megap, perayaan Hari Buku Internasional tahun ini tetap syahdu. Seperti sebelumnya kita merayakan sesuatu: foto bukunya, terus dibumbui caption ciamik yang mendayu-dayu agar dapat like dan komentar netizen.

Baca juga: Buku Itu Mahal Harganya: Tribute untuk Taufik Abdullah

Mengapa pembukaan tulisan ini saya kisahkan sebuah tragedi dibalik sebuah perayaan?

Kita semua akhirnya terperangkap dalam jebakan seremonial, makin kesini daya kreativitas kita dalam merayakan sebuah ‘tragedi’ berhenti pada sebait dan separagraf caption di dinding media sosial. Makin monolitik saja kita.

Berdosa sekali kita, jika hanya demikian cara kita merayakan. Tentu tidak pantas sebuah ‘tragedi’ yang menyakitkan kita rayakan hanya dengan caption. Jauh dari itu mestinya. Dengan hari buku misalnya, minimal memiliki dan membaca buku-buku. Syukur, jika ditambah dengan mereview isinya. Sungguh alhamdulillah jika di ‘witir’kan membeli buku asli bukan bajakan. Saya kira sebuah ‘tragedi’ akan lebih bermakna dengan perayaan semacam itu.

Ini seperti kita merayakan ‘tragedi’ dari Nabi Muhammad. Kesedihan yang amat-sangat dialami kemudian harus berjalan semalam suntuk dengan jarak ribuan kilometer sampai ke Sidratul Muntaha, hanya dengan burok untuk menerima perintah salat. Ingat, tol langit (pasti) mungkin belum ada di angan-angan Rasul waktu itu.

Jika demikian adanya, apa pantas kita tidak mendirikan salat? atau apa pantas kita hanya selesai pada salat wajib saja. Untuk menyempurnakan ‘perayaan’ itu tentu kita akan bergegas mendirikan salat sunah juga bukan.

Baca juga: Sultan Agung dan Penanggalan Jawa Islam

Jika Muhammad dan Miguel tahu generasi setelahnya merayakan ‘tragedi’nya dengan gegap-gempita dan sorak-sorai orang membicarakan buku-buku dan melaksanakan perintah atau sabdanya. Apa tidak riang gembira hari mereka di sana? Jika mereka masih hidup pasti mereka melemparkan senyum dan tak sungkan menyapa orang-orang istimewa yang merayakan ‘tragedi’nya.

Trigger semacam ini harus bisa kita baca sebagai ‘pesan lain’. Agar kita tak berhenti dan ikut arus deras seremonial belaka sebuah perayaan. Kita harus mawas diri, bahwa yang kita rayakan itu adalah sebuah ‘tragedi’ yang menimpa orang-orang sebelum kita. Maka dari itu kita harus bersuka cita.

***

Dari megap-megapnya Hari Buku Internasional itu, salah seorang budayawan dan penulis pergi: Radhar Panca Dahana.

Buku-bukunya banyak, ia kolumnis di Kompas dengan esai-esai analisis budayanya yang tajam, setajam yang saya kesankan jika melihat wajahnya dan mendengar suara paraunya.

Baca juga: Nabi-nabi Baru

Belakangan saya ikuti di kanal YouTubenya: Radhar Panca Dahana Channel. Terutama lewat segmen ‘kopi panas’nya. Lewat kanal YouTube itu, sekarang ia menyatakan opininya, tidak menuliskannya seintens dulu.

Kali pertama saya mendengarnya saat membacakan puisi “Demonkrasi Pagi Ini” di Mata Najwa beberapa tahun lalu. Walau terkesan horor, tapi ia mampu merayakan demokrasi cum politik dengan bahagia dan tertawa.

Rupanya lewat cara itu, rakyat biasa bisa tertawa melihat elite politik berkerumun di depan pintu walau mereka rombongan Alphar hingga Lamborghini tentu untuk sebuah ‘apa-apa. Dan itu belum jam enam pagi seperti bait awal puisinya.

Terakhir saya membaca opininya di Kompas berjudul “Sakratul Maut Seni-Budaya”. Lewat tulisan itu ia mengkritik sedalam-dalamnya kedunguan kekuasaan mengurus seni-budaya. Terutama Kemendikbud dan Pemprov DKI Jakarta dengan revitalisasi TIM nya.

Lebih setahun opini itu ditulis, ia wafat dan fakta lebih mengerikan terjadi dari yang ditulisnya. Terutama Kemendikbud. Kekacauan sering dilancarkan dari corong kementrian ini. Jika dulu Mas Radhar menyebut: menteri muda yang tak tahu apa-apa. Dengan segala upaya komersialisasi seni-budaya untuk mendapatkan income. Padahal seni-budaya jauh dari itu, ia investasi yang jangka panjang. Yang bukan dilihat dari income tapi ia lebih dari itu untuk pembentukan manusianya.

Pasti sebelum meninggal Mas Radhar sudah tahu dengan ambyarnya Kamus Sejarah Indonesia itu. Tapi di sini saya ingin tegaskan salah satu sakratul maut paling mengerikan seni-budaya itu adalah kita mulai dicabut dan tercerabut dari akar-akar sejarah kita sendiri.

Kian hari sakratul maut kebudayaan itu mulai terlihat, ini baru pertama. Baru menit-menit awal permainan. Jika sakratul maut itu tidak kita atasi sekarang, kematian dan kiamat kebudayaan tinggal menunggu waktu. Entah akan mulai dari sudut mana.

Satu lagi teater Kemendikbud yang harus kita ingat karena ‘tragedi’nya yang lucu.

‘Tragedi’ kita kian banyak. ‘tragedi’ yang dirayakan dan ‘tragedi’ yang bisa ditertawakan. Di hari buku kita amat sedih. Indonesia kebingungan dengan Kamus Sejarahnya dan di hari buku juga, Indonesia kehilangan pejuang kebudayaannya.

Kalembo ade
Indonesia.

Ilustrasi: Republika

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *