Nabi Yusuf: Penggagas RPJP dan RPJMD Pertama dalam Sejarah

Ketika kita berbicara tentang perencanaan pembangunan jangka panjang dan menengah—RPJP dan RPJMD—mungkin yang terlintas adalah dokumen tebal, istilah birokratis, dan proses musyawarah teknokratis. Namun, siapa sangka, konsep perencanaan strategis ini telah ada jauh sebelum zaman modern, bahkan telah dipraktikkan oleh seorang nabi: Yusuf AS.Di tengah keagungan istana Mesir Kuno, Yusuf seorang asing, mantan narapidana, namun […]

Nabi Yusuf: Penggagas RPJP dan RPJMD Pertama dalam Sejarah Read More »

Tumbuh dengan Cinta, Berkembang dengan Perlindungan: Refleksi Hari Anak Nasional

Baru dua hari yang lalu kita memperingati Hari Anak Nasional—sebuah momentum penting yang seharusnya tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi cermin bagi kita semua—sejauh mana kita benar-benar hadir dalam kehidupan anak-anak. Dua hari telah berlalu, namun esensinya harus terus hidup—bahwa anak bukan hanya masa depan bangsa, tetapi juga cermin moral hari ini, sebab melalui

Tumbuh dengan Cinta, Berkembang dengan Perlindungan: Refleksi Hari Anak Nasional Read More »

Tentang Waktu (Catatan Singkat)

“Untuk sebuah tujuan, Arah lebih penting daripada kecepatan”. Begitu kira-kira tertulis di sebuah body truck yang saya temui dalam perjalanan menuju Lombok Timur. Sebaris potongan kalimat yang menarik untuk menjadi alat untuk membantu menganalisis keadaan hari-hari ini. Keadaan di mana makhluk-makhluk modern berlarian berpacu dengan waktu, beradu cepat untuk sebuah arah yang masih samar.Modernitas memang

Tentang Waktu (Catatan Singkat) Read More »

Sarangge: Simbol Kebersamaan Membunuh Sekat Kepentingan

Sarangge. Dalam bahasa Bima, kata ini bukan sekadar menyebut sebuah bangunan panggung kecil di sudut halaman rumah atau tengah kampung. Sarangge adalah jiwa dari sebuah ruang sosial yang hangat, terbuka, egaliter. Ia adalah tempat bertemu, tempat bercengkerama, tempat musyawarah, tempat mengguyur kegelisahan, tempat membangun harapan. Dalam bahasa Sasak, mungkin ia bersaudara dengan berugak—tempat duduk bersama

Sarangge: Simbol Kebersamaan Membunuh Sekat Kepentingan Read More »

Pertarungan Agama dan Budaya

Dua kali event dua kali pula kita ribut soal sampah.Saat kemping di Sarae Nduha awal Juni lalu media sosial ramai perkara sampah. Kita masih harus bekerja keras sekadar mengedukasi masalah sampah ini, apalagi di sebuah event yang dihadiri ribuan atau puluhan ribu orang.Di Festival Lakey kita juga ribut soal sampah, tepatnya ‘sampah’ akidah. Berbeda dengan

Pertarungan Agama dan Budaya Read More »

Musa dan Pilihan Moral Sehari-hari

Dalam beberapa kisah, Quran memberikan kita semacam crash course tentang moralitas, yakni melalui pembacaan terhadap kisah-kisah yang meng-explore karakteristik kesadaran moral manusia dalam tindakannya. Tengoklah sejenak bagaimana Allah menggelitik moral kita melalui kisah perjumpaan Musa ‘alaihissalam dengan Khidr ‘alaihissalam. Kisah yang memberikan kita food of thought tentang bagaimana moralitas individual yang subjektif berdinamika dengan moralitas

Musa dan Pilihan Moral Sehari-hari Read More »

Memilih Sunyi di Tengah Zaman yang Riuh

Saat ini kita sedang hidup di zaman yang riuh—zaman di mana semua orang ingin didengar, semua pemandangan ingin ditatap, dan semua kabar ingin dipercaya. Zaman ketika segala sesuatu berlomba-lomba mencuri perhatian—suara yang saling bertabrakan, gambar yang tiada henti berkedip, dan kata-kata yang terus mengalir tanpa jeda—kita perlahan kehilangan satu anugerah yang tak ternilai, yakni ketenangan.

Memilih Sunyi di Tengah Zaman yang Riuh Read More »

Trilogi Intelektual Qurani

Dalam beberapa ayat, Quran memberikan isyarat tentang tiga kualitas intelektual; Ulil Albab, Ulil Abshor, dan Ulin Nuha. Tiga kualitas yang digambarkan dalam Quran merujuk pada Manusia yang memiliki kedalaman intelektual (albab), kepekaan dan ketajaman pencandraan (abshor), serta keluhuran dan kebijaksanaan (Nuha).Ulil Albab digambarkan sebagai orang yang berakal (lubb) yang senantiasa berfikir dan berzikir (QS 2:

Trilogi Intelektual Qurani Read More »

Sekali lagi tentang Ekoteologi: Dari Perenungan menuju Gerakan

Bencana alam tidak hanya menggoyahkan alam ruang aktivitas manusia. Lebih dari itu, rentetan bencana yang terjadi ikut merangsang ruang berfikir manusia, terutama pada hal menerjemahkan keilmuan dan intelektualitas untuk secara langsung berdampak pada penyelesaian persoalan kebencanaan di sekitar kita. Dari sudut pandang teologis, misalnya, bencana alam sebagai bagian dari krisis lingkungan mendapatkan tempat dalam diskursus

Sekali lagi tentang Ekoteologi: Dari Perenungan menuju Gerakan Read More »

Eko-Healing: Merawat Alam Pasca Banjir

Banjir seringkali kita pandang semata-mata sebagai bencana fisik—air yang merusak rumah, merendam ladang, dan meluluhlantakkan fasilitas umum, padahal dampak banjir jauh lebih dalam daripada sekadar kerusakan material, banjir bahkan melukai ruang batin, menciptakan trauma kolektif, kehilangan rasa aman, dan meretakkan hubungan manusia dengan lingkungannya.Di sinilah eko-healing menjadi sangat penting, dalam rangka penyembuhan mental dan spiritual

Eko-Healing: Merawat Alam Pasca Banjir Read More »