Menikah Bukan Perlombaan: Bukan Siapa Cepat, Tapi Siapa yang Siap

Di tengah dinamika kehiduoan modern, kadangkala pernikahan seringkali dipandang sebagai sebuah pencapaian sosial yang semestinya harus segera diraih. Adapun yang menjadi faktornya yakni tekanan dari lingkungan, keluarga, bahkan media sosial membuat banyak orang merasa tertinggal apabila belum menikah pada usia tertentu. Pertanyaan seperti “kapan menikah?” seolah menjadi standar umum yang harus dipenuhi. Akibatnya, muncul persepsi […]

Menikah Bukan Perlombaan: Bukan Siapa Cepat, Tapi Siapa yang Siap Read More »

Literasi sebagai Fondasi Pendidikan Abad 21: Dari Membaca ke Berpikir Kritis

Di tengah derasnya arus informasi pada abad ke-21, literasi tidak lagi dapat dimaknai secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis semata. Literasi telah berkembang menjadi seperangkat kompetensi yang mencakup kemampuan memahami, menganalisis, mengevaluasi, hingga memproduksi informasi secara kritis dan bertanggung jawab. Dalam konteks ini, literasi menjadi fondasi utama pendidikan modern, bukan hanya untuk mencerdaskan, tetapi

Literasi sebagai Fondasi Pendidikan Abad 21: Dari Membaca ke Berpikir Kritis Read More »

Haji dan Orkestra Kemanusiaan Global

Gegap gempita musim haji selalu menghadirkan lanskap spiritual yang tidak pernah kehilangan daya pikatnya. Dari berbagai penjuru dunia, jutaan manusia bergerak dalam satu tarikan napas yang sama: memenuhi panggilan Ilahi sebagai dhuyufurrahman—tamu-tamu Allah. Mereka datang bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai representasi dari kerinduan panjang umat manusia kepada sumber makna terdalam dari kehidupan. Di tengah

Haji dan Orkestra Kemanusiaan Global Read More »

Berlomba dengan Pendosa

Ada sebuah ungkapan anonim yang kerap beredar di tengah ruang-ruang spiritual, mengusik kesadaran dan menggugah jiwa: “Jika anda belum mampu berlomba dengan orang saleh dalam meningkatkan kebaikan, maka berlombalah dengan para pendosa untuk bertaubat kepada Allah.”Ungkapan ini tidak sekadar indah untuk diucapkan, tetapi juga menyimpan sebuah paradoks mendalam dalam kehidupan spiritual—bahwa terkadang, para pendosa justru

Berlomba dengan Pendosa Read More »

Membaca Ulang Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai Manifesto Pantang Menyerah

Ketika nama Raden Ajeng Kartini disebut, ingatan kita kerap berkelindan pada hal-hal yang kasatmata—kebaya yang anggun, sanggul yang tertata, serta perayaan seremonial yang berulang setiap tahun. Namun, jika ditelisik lebih dalam, gambaran tersebut sesungguhnya belum menyentuh inti dari siapa Kartini sebenarnya. Kebaya dan sanggul hanyalah penanda kultural dari identitas perempuan Jawa pada masanya, khususnya dari

Membaca Ulang Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai Manifesto Pantang Menyerah Read More »

Sosialisasi Inspiratif MTs Alamtara Islamic School di SDN 74 Songgela Kota Bima

Kota Bima, Sabtu (18/04/2026) — Suasana hangat penuh antusiasme menyelimuti SDN 74 Songgela Kota Bima saat menerima kunjungan sosialisasi dari MTs Alamtara Islamic School, sebuah momentum bermakna yang tidak sekadar memperkenalkan pilihan pendidikan lanjutan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi siswa kelas VI untuk mengenal konsep pendidikan berbasis nilai, pembentukan karakter, dan pendekatan alam sebagai

Sosialisasi Inspiratif MTs Alamtara Islamic School di SDN 74 Songgela Kota Bima Read More »

Prismatika Kebaikan: Menjadi Manusia yang Memancarkan Manfaat Tanpa Batas

Mengawali uraian kolom hikmah hari ini, baiknya kita renungkan sebuah kisah menarik tentang kebermanfaatan dalam kehidupan.Dahulu, ada seorang tukang air yang setiap hari mengambil air dari sungai untuk dibawa ke rumah majikannya. Ia menggunakan sebatang pikulan dengan dua ember di kiri dan kanan.Salah satu ember itu sempurna, tidak bocor, sedangkan ember yang satunya retak kecil

Prismatika Kebaikan: Menjadi Manusia yang Memancarkan Manfaat Tanpa Batas Read More »

(Ka)Lembo Ade: Modus Linguistik dan Dunia Batin Orang Bima

ANDA yang intens bergaul dengan orang Bima pasti sering mendengar ungkapan “Kalembo Ade!” Kata magik itu terkadang diucapkan secara ringkas “Lembo Ade”. Dalam Bahasa Bima, ‘lembo’ berarti luas atau lapang, “ade” berarti hati. Jadi, Lembo Ade berarti hati yang luas, dada yang lapang. Sementara awalan “ka” bermakna seruan atau perintah atau aktivasi. Jadi “Kalembo Ade”

(Ka)Lembo Ade: Modus Linguistik dan Dunia Batin Orang Bima Read More »

Phubbing, Dosa Sunyi dalam Etika Komunikasi

Di tengah derasnya arus digital, ada satu fenomena yang tampak sepele namun perlahan menggerus kualitas relasi antarmanusia, yakni phubbing. Istilah ini merupakan gabungan dari kata phone dan snubbing, yang berarti tindakan mengabaikan orang di hadapan kita, karena lebih sibuk dengan ponsel. Sekilas aktivitas phubbing ini tampak biasa—sekadar mengecek pesan, scrolling media sosial, atau membaca notifikasi,

Phubbing, Dosa Sunyi dalam Etika Komunikasi Read More »

Jalan Sunyi Membangun Pariwisata Bima yang Berakar dan Berdaya

Pariwisata Bima tidak dapat dibangun hanya dengan logika pasar atau sekadar mengejar jumlah kunjungan wisatawan. Ia adalah ruang hidup yang kompleks tempat bertemunya nilai budaya, kekuatan sosial masyarakat, potensi alam, dan dinamika ekonomi lokal. Dalam konteks ini, pembangunan pariwisata di Bima harus dipahami sebagai proses sosial yang berakar pada nilai-nilai lokal sekaligus adaptif terhadap perubahan

Jalan Sunyi Membangun Pariwisata Bima yang Berakar dan Berdaya Read More »