Jangan Salah Pilih

“Bahagia itu sederhana, sebaliknya, sedih dan kecewa sungguh luar biasa. Kalau kita merdeka untuk memilih bahagia, lalu kenapa kita harus menyiksa diri dengan rasa kecewa-sedih”, begitu satu ungkapan pitutur bijak.

Sahabat! Kalian pernah merasa tidak dibela, dibiarkan sendiri oleh kawan-kawan dekat, saat kalian terpojok, dibully, dihujat, atau bahkan menjadi “bulan-bulanan haters?” Lalu kalian sakit hati, dan memilih menghukum mereka tanpa menyapanya lagi di jagat sosial dan di langit maya? menghapus nomor kontak digitalnya? atau bahkan memasukkan mereka ke kotak hitam daftar orang-orang yang tidak baik di mata kalian?

Jujur, sebagai manusia biasa, saya pernah membesarkan perasaan seperti ini: yaitu perasaan tidak dibela saat melakukan suatu polemik yang memicu hujatan, minimal kritik dari sudut pandang yang berbeda. Bahkan saya pernah dikafirkan, sampai-sampai, namaku tercantum di satu papan pengumuman mesjid sebagai orang yang dimurtadkan, dan dibenarkan untuk dibunuh. Perasaan terancam sempat menghantui batinku.

Baca juga: Ramadan: Rest Area

Ironis. Padahal, saat kawan-kawan dekatku mengerti saya lebih personal dan mendalam, justru ada kawanku yang meneteskan airmata empati pada pengalaman burukku. Biarlah ini pengalaman sedih, kecewaan yang semoga sukses mendewasakan renunganku tentang makna hakiki dari rasa sedih, galau, atau rasa diabaikan, juga rasa bahagia.

Pada momentum lain, pernahkah kalian merasa tidak diapresiasi saat kalian sudah meraih banyak prestasi, sampai sukses menaiki, dan bercokol di puncak tangga juara?

Sahabat! Kecewa, sedih, jengkel karena merasa tidak dibela, atau tidak dihargai, adalah perasaan negatif yang manusiawi. Tetapi, perasaan tidak dibela atau diabaikan, tidak sekaligus menjadi simpul pemicu rasa ketidakbahagiaan kita. Juga, perasaan senang saat dihargai-diapresiasi adalah emosi yang tidak salah. Namun, ia bisa melambungkan ilusi euforia rasa bahagia sesaat yang akan menghempaskan dan menghukum kita di alam nyata pujian. Tidak ada pujian yang abadi.

Sebuah pitutur bijak di atas mengingatkan hakikat dan hulu rasa bahagia. Bahagia itu adalah perasaan yang sangat personal, sangat pribadi. Qalbu dan batin kita adalah mesin psikologis yang menghadirkan sendiri perasaan itu. Bukankah rasa bahagia itu terbebas dari syarat penghargaan, pujian, dan penghormatan orang lain?

Betul, reaksi negatif terhadap perlakuan buruk yang kita alami menjadi akar pemicu kecewaan dan kesedihan. Tetapi, tenggalam dalam “perasaan gagal ingin dibela, ingin dihargai, ingin dicintai”, akan menjadi palung terdalam dari kubangan emosi pemicu dan pelestari kekecewaan dan kesedihan. Akar rasa bahagia mampu menerobos dan juga dapat mengingkari kekuatan luar yang sering mendera kita dalam kesedihan.

Sahabat! Besok sudah mulai hari-hari kerja (work days); hari-hari setelah kita berakhir pekan bersama orang-orang tercinta. Kalau ada kekecewaan dan kesedihan yang dirasa selama bersama keluarga, itu pasti kegagalan kita menghibur diri sendiri untuk merasa bahagia. Qalbu kita mungkin tidak mampu melihat secercah potensi bahagia saat bersama keluarga. Ingat “Baiti jannati” (aura rumahku sungguh penuh kebahagiaan), begitu petuah baginda Nabi.

Baca juga: Nalar Sufi Malamatiyah untuk Perdamaian

Bahagia itu pilihan, maka jangan salah pilih. Sahabat, biarlah rasa bahagia itu yang selalu menghibur dirimu, walaupun kalian tidak diperlakukan dengan baik oleh orang-orang yang kalian cintai.

Bawa pergi jauhlah pitutur ini bahwa “cinta itu adalah totalitas rasa bahagia yang memboncah untuk memberi, tidak meminta, apalagi mengemis perlakuan untuk dihargai dan dihormati”. Dalam spirit dan aksi memberi, aku menemukan rasa bahagia.

Ilustrasi: hepwee

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.