Budaya Baca-Tulis dalam Isyarat Al-Qur’an

MENARIK untuk disimak, apa yang termaktub dalam firman Allah SWT. tentang baca dan tulis di dalam al-Qur’an. Aktivitas baca-tulis dengan sangat gamblang Allah abadikan dalam surah al-Alaq di ayat pertama. Informasi ini menjadi penting untuk direnungi. Selain itu, kabar tentang tulis (baca; pena) pun termuat bahkan berurutan turun setelah kata iqra yang disebut pertama dalam sejarah pewahyuan, kini kita sebut al-Qur’an.

Sudah banyak orang mengerti, bahwa al-Qur’an bukanlah kitab yang memiliki level dan kedudukan sama dengan buah karya manusia pada umumnya. Al-Qur’an tentu punya ruang dan posisi tersendiri dibanding karya-karya yang dihasilakan melalui tangan-tangan para pemikir maupun sarjana muslim lainnya. Rasa-rasanya tidak etis dan elok jika al-Qur’an disetarakan dengan buku-buku lain. Bukan karena kertas, atau hasil cetaknya yang bagus, umat Islam lebih mengerti maksud saya tersebut.  

Lebih dari itu, kata iqra dalam surah al-Alaq yang pertama kali diturunkan kemudian Allah gandeng dengan kata pena di surah yang lain. Bahkan surah al-Qalam ini seperti yang disepakati banyak oleh para mufassir adalah surah yang turun kedua setelah surah al-Alaq.

Kalau ditarik dalam konteks yang lebih seirus mengenai makna di balik, kenapa Allah Swt menurunkan perintah iqra dan disebutkan kemudian adalah pena?

Kuat dugaan saya, untuk menghindari sikap “cocokologis”, sebagaimana dikonfirmasi oleh Prof. Yunan Yusuf, berkomentar tentang ajaran baca dan nulis. Menurutnya, Allah menurunkan wahyu berkaitan dengan perintah baca dan menulis bukanlah secara kebetulan. Lebih tampak terlihat tidak secara kebetulan lagi, tulisnya, ketika Allah turunkan surah al-Qalam dengan pembicaraan tentang dan apa yang dituliskannya.

Sepertinya, Prof. Yunan ingin mempertegas bahwa akar dari tumbuh kembangnya peradaban umat manusia adalah dengan dihadirkan sebuah ajaran berupa perintah terhadap tradisi baca dan tulis.

Untuk menguatkan pandangan tersebut ia sebutkan sejarah peradaban seperti Cina kuno, peradaban India, kebudayaan Sumeria, Mesopotamia, dan Yunani. Peradaban yang diunkit di atas sengaja diingat sebagai legitimasi sekaligus menunjukkan bahwa semua peradaban umat manusia maju yang pernah ada selalu diawali dan sangat melekat dengan tradisi baca dan tulis.

Baca Juga  Definisi dan Asal Usul Bahasa

Baca-Tulis Kunci Membangun Peradaban

Mungkin terlihat lebay dan terkesan bombastis jika saya berkeyakinan bahwa tradisi baca-tulis merupakan akar dari segala perkembangan, pertumbuhan serta majunya kehidupan umat manusia. Tampak berlebihan memang, tapi itulah faktanya. Bahwa spirit tradisi baca dan tulis ini menjadi cikal bakal untuk tidak disebut sebagai kunci dalam membangun peradaban.

Berkaitan dengan tradisi baca-tulis, al-Qur’an yang diyakini oleh umat Islam sebagai buku petunjuk, sekitar 1400 tahun lalu mengabarkan tentang arti pentingnya mentradisikan baca-tulis. Dalam tinjauan sejarah, proses pewahyuan al-Qur’an dari Allah, diperantarai oleh malaikat Jibril dan dimandatkan kepada nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada umatnya, terselip pelajaran berharga bagaimana Islam sudah beribu-ribu tahun lalu mengajarkan tentang baca-tulis.

Nabi disuruh baca oleh malaikat Jibril (padahal Nabi Muhammad seorang yang ummy) dan para sahabat nabi ketika mereka mendengar wahyu yang dibacakan oleh nabi, meraka dengan sigap menuliskannya di banyak tempat, seperti pelapah kurma, batu, tulang dan semacamnya. Proses transformasi dari bahasa lisan ke bahasa tulisan kemudian berkembang sebagai sumber informasi dan berperan mentransmisikan pesan dengan kemampuan melampaui ruang dan waktu.  

Sebagai golongan yang terkategori sadar, bahwa kembali pada pedoman dan menaati perintah Tuhan merupakan kewajiban. Maka, sedikit demi sedikit belajar menjadi umat dan hamba yang taat terhadap perintah Tuhan adalah solusi sederhana sebelum kita salahkan sana-sini. Mulai dari diri sendiri, membaca dan menulis adalah perintah Tuhan.

Al-Qur’an sebagai kalam suci hadir dengan kekuatan yang memikat. Perintah baca-tulis seperti yang di-state langsung pada surah al-Alaq ayat 1-5, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Dengan sangat gamblang Allah mendorong manusia (dalam konteks turunnya wahyu tersebut bangsa Arab) agar melakukan perubahan dari tradisi lama (lisan) ke tradisi baca. Di masa itu, masyarakat Arab masih terkungkung dengan kejumudan dan kental dengan tradisi hafalan. Al-Qur’an hadir dengan tradisi baru tanpa menghapus tradisi lama, ia menyodorkan tradisi baca-tulis.

Baca Juga  Islam: Antara Universalitas dan Partikularitas

Melalui perantara pena (Qalam) dan kata pena ini disebutkan di surah al-Qalam, Demi pena. Kita mengetahui bersama fungsi dari pena adalah untuk mencatat apa saja yang bisa dicatat. Simbol pena yang disebut oleh Allah dalam al-Qur’an secara tidak langsung mengekpresikan perkembangan peradaban tidak terlepas dari budaya baca-tulis. Tanpa tulisan, tentu ilmu pengetahuan tidak dapat direkam.

Jika maju dan mundurnya sebuah peradaban identik dengan membuminya tradisi baca-tulis, lalu bagaimana dengan bangsa Indonesia yang secara statistik bertengger diurutan 10 besar terbawah dari 70 negara dalam bidang literasi? Apakah ini menjadi isyarat buruk bagi bangsa Indonesia kedepan? Mari kita sama-sama saksikan.

Jujur saja, secara rasional, sebagai bangsa yang mayoritas bergama Islam, dan menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam. Sudah semestinya, para penganut agama ini yaitu umat Islam sadar dengan perintah Tuhannya. Namun demikian, persoalan rendahnya minat baca-tulis yang menjangkiti masyarakat kita dewasa ini bukanlah perkara sederhana. Ada banyak faktor dan penyebab kenapa semua ini bisa terjadi.

Tetapi, sekali lagi, sebagai golongan yang terkategori sadar, bahwa kembali pada pedoman dan menaati perintah Tuhan merupakan kewajiban. Maka, sedikit demi sedikit belajar menjadi umat dan hamba yang taat terhadap perintah Tuhan adalah solusi sederhana sebelum kita salahkan sana-sini. Mulai dari diri sendiri, membaca dan menulis adalah perintah Tuhan. Mari belajar menjadi hamba yang taat.[]

 

Ilustrasi: Kalikuma Studio

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *