Beberapa waktu lalu, seperti biasa di Pondok Kebudayaan Darul Mudhafar—binaan Yai Paox Iben, panggilan akrab kami santri binaan beliau—di tempat sederhana yang lebih di tahu dengan nama RTM (Ruang Tumbuh Merdeka). Tempat ini sudah seperti rumah kedua bagi siapa pun yang berani berpikir beda: agamawan, aktivis, akademisi, politisi, sampai anak-anak muda (liar)—setidaknya begitu stereotip masyarakat yang suka kaget lihat orang berdiskusi tapi tak pakai peci atau tak baca kitab kuning pakai suara tinggi. Di sana, kopi mengalir seperti wudhu malam Jumat, dan obrolan bisa melompat dari Plato ke Peci Haji, dari Nietzsche ke Ngaji Tafsir Jalalain.
Nah, suasana diskusi yang tidak serius-serius amat karena diselingi dengan guyonan untuk mengalirkan suasana canggung, kami justru menangkap satu fenomena yang makin hari makin bikin dahi mengernyit: agama kok rasanya makin mirip iklan skincare. Di era digital yang serba instan dan penuh pencitraan, banyak dari kita barangkali tidak menyadari bahwa agama—yang sejatinya ruang kontemplasi, pembebasan, dan pencarian makna hidup—telah menjelma jadi objek pameran. Layaknya produk fesyen yang dipajang di etalase, agama kini tampil dengan berbagai kemasan menggoda: ceramah viral, ustaz selebgram, hijrah bermerek, hingga amal saleh yang wajib dibuktikan lewat unggahan story.
Selamat datang di zaman fetisisme religius modern, di mana Tuhan seolah-olah dipanggil turun bukan untuk ditunduki, tapi buat memverifikasi status sosial dan validasi publik. Sungguh, tak ada yang lebih menyedihkan dari agama yang kehilangan kedalaman, dan berubah jadi konten yang bisa diedit filter dan disisipkan tagar: #SholehBanget #HijrahRia.
Fetisisme religius modern bukan lagi cerita tentang sekadar keyakinan pada benda-benda sakral seperti zaman dahulu, di mana orang menyembah patung atau benda pusaka. Kini, fetisisme itu bermetamorfosis: bukan lagi menyembah benda mati, tetapi menyembah simbol, gaya hidup, dan performa religius. Agama tidak lagi cukup sebagai jalan hidup—ia harus tampak, harus bisa dikonsumsi publik, dan harus dibungkus secara estetis. Inilah era ketika keberagamaan direduksi menjadi “branding spiritual”.
Jika Marx dulu mengkritik agama sebagai candu masyarakat, maka sekarang kita menyaksikan agama menjelma menjadi semacam endorsement sosial. Religi bukan lagi alat pembebas, melainkan alat pemoles eksistensi. Tak sedikit orang memamerkan “keberislaman” atau “kekristenan”-nya lewat simbol visual: peci branded, mukenah mahal, pengajian eksklusif di hotel bintang lima, atau kampanye amal yang lebih terasa seperti iklan diri. Jangan salah, niat baik tentu tetap ada, tapi aroma narsistik religius juga tak bisa disangkal.
Menurut penelitian oleh Haenfler (2014) tentang “lifestyle movement”, gaya hidup religius bisa menjadi bagian dari konstruksi identitas sosial. Dalam konteks Indonesia, riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebutkan bahwa sebagian besar responden merasa penampilan religius seseorang memengaruhi tingkat kepercayaan mereka. Ini artinya, simbol-simbol religius hari ini bukan hanya dimaknai sebagai bentuk penghambaan, melainkan juga sebagai instrumen sosial untuk mendapatkan kepercayaan, jabatan, bahkan elektabilitas. Jadi jangan heran, kalau mendadak banyak tokoh publik rajin memposting aktivitas ngaji, sedekah, dan shalat berjamaah, terutama menjelang musim pemilu.
Mari kita tengok juga realitas media sosial. Di sana, ustaz tidak hanya berdakwah, tetapi juga berkompetisi dalam engagement. Dakwah menjadi ajang komersialisasi, dengan fitur monetisasi, kolaborasi brand, dan bahkan paid promote. Dakwah pun diukur dengan jumlah view, subscriber, dan likes. Kalau bisa viral, mengapa tidak? Bahkan ada tren “ceramah marah-marah” atau “dakwah roasting” karena dianggap lebih menghibur dan menjual. Fenomena ini menunjukkan bagaimana agama telah diperlakukan sebagai objek konsumsi budaya pop, kehilangan dimensi transendentalnya, dan tenggelam dalam pusaran algoritma.
Tidak sedikit juga yang menjadikan pengalaman spiritual sebagai konten. Sebagian “mualaf selebriti” tak ragu mengisahkan proses hijrah atau berpindah agama mereka dengan dramatisasi penuh air mata, lengkap dengan musik latar. Yang sebelumnya hidup “gelap” kini tampil bak nabi baru. Agama dijual sebagai kisah transformasi personal yang heroik, padahal kadang lebih mirip reality show. Padahal, seperti dikatakan oleh Thomas Merton, pengalaman spiritual yang sejati adalah pengalaman keheningan—bukan panggung.
Sosiolog Emile Durkheim dalam teorinya tentang “kolektivitas sakral” mengatakan bahwa masyarakat menciptakan simbol dan ritus untuk memperkuat kohesi sosial. Namun, dalam konteks saat ini, yang terjadi justru komodifikasi simbol agama untuk kepentingan pribadi. Dari produk halal yang dipakai hanya demi branding, hingga biro umrah VIP yang menawarkan spiritualitas berbalut kemewahan. Seolah untuk dekat dengan Tuhan, seseorang harus terlebih dulu naik kelas ekonomi bisnis.
Dalam konteks ini, kita melihat bagaimana agama bisa “dipaketkan” sesuai selera pasar. Ada dakwah untuk anak muda yang penuh jargon kekinian: “jangan insecure, Allah sayang kamu”, ada juga versi konservatif yang penuh ancaman: “kalau tidak taat, masuk neraka”. Semua punya pasar, semua punya pelanggan. Agama menjadi pasar bebas ideologi, dan para pengikutnya seperti pelanggan yang mencari mana “ustaz favorit” atau “mazhab nyaman” untuk dikonsumsi.
Yang ironis, di tengah gegap gempita religiusitas permukaan ini, praktik korupsi, kekerasan atas nama agama, dan intoleransi justru meningkat. Beberapa kasus korupsi tidak jarang menyeret oknum-oknum yang secara sosial di pandang sangat telaten dan kental dalam beragama bahkan alumni pengajian dan aktif di kegiatan keagamaan. Seolah agama hanya menjadi topeng moralitas, bukan fondasi etika. Dalam skenario ini, Tuhan diseret ke ruang dagang kekuasaan. Ia dijadikan stempel pembenar, bukan nur kebenaran. Dan semua dilakukan atas nama iman.
Padahal, seperti yang pernah dikatakan oleh Jalaluddin Rumi, “Agama tanpa cinta adalah kutukan. Ia menjauhkanmu dari Tuhan, bukan mendekatkan.” Tapi siapa yang peduli pada cinta, jika yang dicari adalah validasi? Siapa peduli pada kebijaksanaan batin, jika yang diburu adalah tayangan trending?
Fenomena fetisisme religius modern ini juga berdampak besar pada generasi muda. Mereka tumbuh dalam budaya visual, dan ketika agama tampil lebih sebagai gaya hidup ketimbang nilai, maka tidak heran jika semangat spiritual mereka rapuh, instan, dan serba performatif. Banyak yang hijrah karena ikut-ikutan, bukan karena perenungan eksistensial. Banyak yang berjilbab bukan karena kesadaran, tapi karena sedang tren. Ini bukan soal otentisitas niat pribadi, melainkan tentang bagaimana masyarakat menciptakan standar religiusitas yang dangkal dan seragam—FOMO menjadi satu kondisi yang tidak dapat dielakkan akhirnya.
Sosiolog Imam Budi Santosa menyebut dalam beberapa tulisannya, menyebut bahwa masyarakat kita sedang mengalami “inflasi simbol religius”. Segalanya harus tampak religius, meski isinya nihil. Inilah yang membuat ruang publik penuh dengan suara moral, tetapi sepi dari tindakan bermoral. Banyak yang bicara surga, tapi sikapnya seperti makhluk yang tidak pernah belajar empati. Banyak yang fasih berceramah tentang cinta Rasul, tapi mudah mencaci dan membenci sesama hanya karena beda pilihan atau keyakinan.
Agama, dalam bentuk paling murninya, adalah tentang transformasi batin. Ia bukan baju yang bisa dikenakan dan dilepas sesuai momen, bukan juga aksesori sosial yang bisa digunakan untuk mendulang citra. Tapi saat ini, kita hidup dalam dunia yang lebih menghargai tampilan dibanding esensi. Lebih memilih kulit dibanding isi. Maka jangan heran jika spiritualitas hari ini lebih mirip panggung mode ketimbang jalan sunyi seorang sufi.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Mengeluh saja tentu tidak cukup. Kita perlu memulihkan kembali makna spiritualitas. Mengajak diri dan sesama untuk melihat agama bukan sebagai etalase, tetapi sebagai proses. Bukan sebagai produk, tetapi sebagai perjalanan panjang menuju pengenalan diri dan Tuhan. Kita harus berani merayakan keheningan, bukan sekadar kebisingan. Mendorong kejujuran dalam beriman, bukan sekadar kepatuhan simbolik.
Kita juga perlu memperkuat literasi spiritual. Menjadi religius tidak cukup dengan mendengar potongan ceramah satu menit. Ia butuh kedalaman baca, diskusi lintas perspektif, dan keberanian untuk ragu sebelum yakin. Keimanan bukanlah hasil instan dari satu kali klik konten, tetapi hasil dari kontemplasi yang terus tumbuh. Tuhan bukan algoritma, dan agama bukan filter Instagram.
Pada akhirnya, mungkin kita butuh untuk tidak terlalu yakin pada tampilan luar seseorang. Mungkin, orang yang jarang bicara agama tapi hidup dengan welas asih jauh lebih dekat pada nilai-nilai ilahi ketimbang mereka yang setiap hari menyebut nama Tuhan, tapi lupa cara menjadi manusia. Dalam dunia penuh simbol ini, barangkali revolusi sejati adalah menjadi hening dan jujur. Karena di sanalah agama menemukan rumahnya kembali: dalam keikhlasan yang tak butuh penonton.
Dan siapa tahu, di tengah hiruk-pikuk panggung religiusitas hari ini, Tuhan sedang tertawa kecil sambil berbisik, “Kalian sibuk bicara tentang-Ku, tapi lupa bertanya apakah Aku hadir di dalam hatimu.”[]
Ilustrasi: tirto.id






