Menelaah materi kuliah “Religion, Myths and Rituals” dengan topik: The Sundance Ritual and the Power of Religious Synchrony oleh Prof. Michael Alexander (University of California Riverside), intisari dari perkuliahan tersebut menyingkap hubungan kompleks antara agama, kekuasaan, dan spiritualitas tubuh melalui studi ritual Sundance suku-suku asli Amerika. Agama dalam kajian ini sering menjadi paradoks: dapat menjadi sarana pembebasan spiritual, tetapi juga alat penindasan ketika bersekutu dengan kekuasaan negara, seperti kolonialisasi terhadap penduduk asli Amerika pada abad ke-18–19, ketika gereja-gereja Kristen bekerja sama dengan pemerintah AS untuk mengubah budaya pribumi, memecah keluarga, dan menghapus tradisi.
Dalam konteks ini, Sundance tampil sebagai simbol perlawanan dan penyembuhan spiritual: ritual kuno yang memadukan doa, tarian, puasa, dan pengorbanan untuk memulihkan harmoni antara manusia, komunitas, dan kosmos. Dengan berpusat pada pohon kapas (cottonwood)—poros kosmos yang menyatukan bumi dan langit—para penari menjalani puasa total selama berhari-hari hingga mencapai kondisi transendensi tubuh dan kejernihan pikiran, Prof. Alexander mengaitkan fenomena ini dengan flow state dalam olahraga, musik, dan puasa, serta menjelaskan secara neurologis bahwa kondisi tersebut penurunan aktivitas “default mode network”, bagian otak yang terus memproduksi kekhawatiran dan pikiran acak.
Dalam Sundance, irama drum, tiupan peluit, dan gerak tubuh yang sinkron menciptakan resonansi emosional kolektif—ritual synchrony—yang menyatukan individu dalam pengalaman kosmik bersama. Akhirnya, ritual ini menunjukkan bagaimana tubuh, mitos, dan ritme menjadi bahasa universal religius yang menghubungkan manusia dengan sesuatu yang melampaui dirinya. Hal ini menegaskan bahwa inti agama bukanlah dogma, melainkan pengalaman keterhubungan dan makna yang lahir dari tubuh, komunitas, dan alam semesta.
Jika uraian singkat di atas dilihat dari kaca mata Ekofenomenologi, maka melihat tubuh dalam ritual Sundance bukan sekadar alat fisik, melainkan medium ontologis yang membuka relasi dengan dunia. Dalam ritual Sundance, tubuh manusia bukanlah entitas terpisah dari alam, melainkan “medan resonansi alam” yang merasakan denyut bumi dan langit. Ketika para penari menahan lapar, haus, dan sakit, mereka tidak sedang “menyiksa” tubuh, tetapi sedang membuka persepsi eksistensial yang lebih luas—menyentuh dimensi being-in-the-world secara total. Dalam istilah ekofenomenologi, mereka sedang memasuki “kesadaran ekologis” (ecological consciousness), yakni kesadaran di mana batas antara tubuh dan lingkungan mencair, dan manusia menjadi bagian dari intercorporeality dengan seluruh makhluk hidup.
Pengalaman mistik dalam Sundance tidak lahir dari penolakan terhadap tubuh, melainkan penyatuan tubuh dengan kosmos. Ini sangat sejalan dengan gagasan Merleau-Ponty bahwa persepsi manusia selalu bersifat incarnate—tubuh dan dunia saling menubuh, artinya manusia dan dunia saling hadir dalam eksistensi masing-masing (the flesh of the world), dalam arti Sundance menjadi praktik konkret dari kesadaran tersebut—tubuh menari bukan di atas bumi, melainkan bersama bumi.
Kemudian pohon pusat (tree of life) pada ritual Sundance dalam kerangka ekofenomenologi bukanlah simbol abstrak, tetapi wujud konkret dari apa yang disebut David Abram (Fenomenolog sekaligus ekolog budaya Amerika Serikat) sebagai more-than-human world—dunia yang memiliki kehendak dan daya hidupnya sendiri. Ketika pohon dipilih melalui doa dan mimpi, lalu ditebang dengan ritus khusus, tindakan itu menunjukkan resiprositas ekologis—manusia tidak memanfaatkan pohon, melainkan bernegosiasi dengannya sebagai sesama subjek kosmik. Pohon tersebut dianggap sebagai titik pusat atau poros dunia (axis mundi) yang menghubungkan berbagai lapisan alam, poros antara langit, bumi, dan dunia roh, yang mempersatukan seluruh unsur kehidupan ke dalam satu “lingkaran eksistensi”.
Tindakan mengitari pohon suci selama empat hari dalam pandangan ekofenomenologi adalah bentuk pengalaman kosmologis yang partisipatif—manusia meneguhkan kembali posisi dirinya dalam jaringan kehidupan (web of life). Gerak ritmis, nyanyian, dan asap pipa suci menciptakan atmosphere of being yang menyatukan partisipan dengan unsur-unsur bumi. Pohon tidak hanya menjadi objek spiritual, tetapi titik dialog ontologis antara manusia dan dunia. Dengan kata lain, Sundance mempraktikkan ekoteologi fenomenologis, di mana tubuh manusia berdoa melalui gerak, dan bumi merespons melalui resonansi ritmis.
Dalam konteks inilah, pandangan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar (Menteri Agama RI) tentang ekoteologi Islam menemukan relevansinya. Beliau menjelaskan bahwa seluruh kosmos adalah manifestasi asma dan sifat Allah, sehingga alam semesta bukanlah “benda mati,” tetapi tajalli Ilahi—penampakan dari wujud kasih sayang dan kebijaksanaan Tuhan. Ekoteologi menurut Prof. Dr. Nasaruddin Umar menuntut manusia untuk menyadari kembali posisi spiritualnya sebagai khalifah fil ardh, penjaga keseimbangan ekologis yang bertugas memelihara kesucian bumi sebagai bagian dari ibadah. Kesadaran ekologis, dalam kerangka teologinya, bukan sekadar kesadaran etis, melainkan kesadaran tauhid—karena menghancurkan alam berarti merusak harmoni ilahiah yang terjalin di antara semua ciptaan.
Pengalaman kesatuan antara tubuh, bumi, dan ritme kosmos dalam ritual Sundance mencerminkan nilai-nilai ekoteologis yang juga diajarkan dalam Islam: bahwa spiritualitas sejati adalah kesadaran ekologis yang bertauhid, di mana setiap helai daun, hembusan angin, dan denyut bumi menjadi ayat-ayat Tuhan yang hidup. Dalam istilah Prof. Dr. Nasaruddin Umar, manusia harus “beribadah ekologis”—yakni mengabdi kepada Allah melalui kepedulian dan penghormatan terhadap seluruh makhluk-Nya.
Jadi relasi manusia dengan alam tidak pernah bersifat hierarkis, melainkan dialogis dan resiprokal. Pemaknaan ini membuka jalan untuk membaca kembali kisah pohon khuldi dalam narasi dramatis Adam dan Hawa bukan semata sebagai simbol larangan atau dosa pertama, melainkan sebagai momen kesadaran ekologis dan ontologis manusia terhadap dunia (more-than-human world). Pohon khuldi, seperti halnya pohon pusat dalam ritual Sundance, merupakan poros kosmik yang menghubungkan langit dan bumi, spiritual dan material, serta menyingkapkan jalinan eksistensi antara manusia dan seluruh ciptaan.
Ketika Adam dan Hawa mendekati pohon khuldi, tindakan itu bukan sekadar pelanggaran etis, tetapi juga bentuk “dialog” antara manusia dan alam, antara kehendak ilahi dan kebebasan makhluk. Dalam tafsir ekofenomenologis, pohon itu bukan benda mati yang pasif, tetapi memiliki daya hidup dan makna ontologis—ia menjadi simbol dari dunia yang hidup, dunia yang menanggapi kesadaran manusia. Maka ketika manusia “memetik” darinya tanpa izin, terjadi gangguan terhadap resiprositas kosmik, sebuah ketidakseimbangan antara manusia dan dunia alamiah yang sebelumnya harmonis.
Persis seperti dalam ritual Sundance, di mana pohon dipilih melalui doa dan ditebang dengan ritus penghormatan, kisah Adam dan pohon khuldi dapat dibaca sebagai pengingat akan pentingnya tata etika ekologis—manusia bukan penguasa atas ciptaan, tetapi penjaga relasi sakral antara diri, bumi, dan Tuhan. Pohon menjadi titik dialog ontologis—di mana manusia belajar memahami batas, kesucian, dan makna keberadaan.
Konsep ritual synchrony yang dijelaskan oleh Prof. Alexander dapat dibaca dari kacamata ekofenomenologi sebagai bentuk resonansi ekologis (ecological resonance) dalam arti manusia dan alam saling memantulkan makna dan kehidupan. Seperti metronom yang saling menyesuaikan ritmenya, tubuh-tubuh manusia yang menari dalam sinkroni menciptakan frekuensi kesadaran yang sama dengan irama kosmos—drum, napas, langkah, dan detak jantung bumi berpadu menjadi satu harmoni eksistensial.
Ritme ini dalam pandangan fenomenologis, tidak hanya menyatukan individu dalam kohesi sosial, tetapi juga menyembuhkan keterputusan ontologis antara manusia dan alam. Dunia modern yang terjebak dalam alienasi—antara pikiran dan tubuh, antara manusia dan bumi—menemukan kembali kesatuannya dalam momen seperti Sundance. Ritual ini memperlihatkan bahwa spiritualitas sejati adalah peristiwa sinkronik antara tubuh manusia dan tubuh bumi. Di sinilah ekofenomenologi dan kedalaman ritual Sundance bersua urgensi—bahwa kesadaran ekologis tidak lahir dari ide, melainkan dari ritme, dari embodied temporality yang dialami bersama.
Adapun tindakan penusukan kulit dan pengorbanan dalam ritual tersebut tidak dapat dibaca dalam logika kekerasan, tetapi dalam logika ekuilibrium kosmik. Dalam pandangan ekofenomenologi, penderitaan tubuh dalam Sundance adalah ritus timbal balik (reciprocal suffering) antara manusia dan bumi. Manusia memberi sebagian dari dirinya—darah, kulit, tenaga—sebagai ungkapan syukur dan penebusan ekologis. Hal ini mengingatkan kita pada prinsip dasar fenomenologi bumi, bahwa setiap kehidupan muncul dari ”pemberian” dan ”penerimaan”. Dengan demikian, ritual pengorbanan dalam Sundance adalah bentuk “etika ekologis” yang paling murni—menyadari bahwa eksistensi manusia tidak otonom, tetapi selalu tergantung pada keseimbangan dunia yang hidup.
Sebagai catatan akhir, bahwa rtual Sundance dalam kerangka ekofenomenologi adalah perwujudan kesadaran ekologis tertinggi, bahwa agama tidak berpusat pada dogma, melainkan pada lived experience antara manusia dan dunia hidup. Prof. Alexander melalui pembacaannya telah menampilkan Sundance bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi kosmologi fenomenologis—sebuah perayaan keterhubungan eksistensial antara tubuh manusia, komunitas sosial, dan ritme kosmik.[]

Dosen UIN Mataram/Mahasiswa Doktoral Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal



