Cerdas dalam Memaknai Isra dan Mikraj

Salah satu peristiwa yang harus kita imani sebagai umat Islam  adalah peristiwa Isra dan Mi’raj Muhammad Saw, karena memang peristiwa ini termaktub secara jelas dalam al-Qur’an yakni surah Al Isra’ ayat 1. Di sini Allah memulai dengan firman-Nya dengan kata Subhana atau Mahasuci. Dalam kaidah Ilmu-ilmu al-Qur’an, apabila ada satu surah atau ayat yang diawali dengan kata Subhana atau Tabaraka yang berarti Maha Suci Tuhan, maka ayat atau surah itu menunjukkan adanya keajaiban di dalamnya, yang tidak cukup hanya dianalisis secara rasional tetapi dibutuhkan penghayatan dan perenungan yang lebih mendalam.

Peristiwa Isra’ Mi’raj mesti dipahami secara holistik dengan berbagai pendekatan atau analisa yang melingkupinya. Sebelum peristiwa Isra’dan Mi’raj, ada peristiwa yang dialami oleh Nabi, yakni para para pendampingnya yang selama ini menemani Nabi dalam menjalankan misi dakwahnya istrinya yang tercinta dan pamannya Abu Thalib telah di panggil oleh Tuhan-Nya, keduanya punya peranan yang sangat besar dalam perjuangan dakwah Nabi di periode Makkah, peran Khadijah sebagai penyemangat setiap kali Nabi ditimpa berbagai permasalahan, bahkan seluruh harta yang dimiliki oleh Khadijah dihabiskan untuk perjuangan misi suci Nabi. Begitupun dengan Sang paman Abu Thalib, dia tampil di garda terdepan  dalam menjaga Nabi dari gangguan dari para kafir Qurais yang tidak henti-hentinya menghalangi misi utama Nabi dalam menjalankan misi dakwahnya.

Dengan kehilangan kedua tokoh utama ini, Nabi sangat terpukul karena tidak ada lagi tempat curhat Nabi dan pelindung dari ancaman dari keganasan dari para penentang Nabi yakni kafir Qurais atau Abu Jahal dan teman-temannya. Dalam sejarah Islam tahun itu dinamakan ammul hazni atau tahun kesedihan, dimana Nabi betul-betul mengalami ujian yang sangat berat. Secara teologi itu merupakan bagian skenario Tuhan dalam menguji kematangan spiritual dan emosional Nabi, untuk menghadapi misi suci selanjutnya. Pasca kepergian Khadijah dan Abu Thalib Nabi langsung di ajak oleh Tuhan untuk mengadakan rekreasi intelektual, emosional dan rekreasi spiritual. Di sini Tuhan betul-betul membawa Nabi berwisata untuk menghibur Nabi dan memperlihatkan kepada Nabi tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada Nabi. 

Sesuai yang tertera dalam surah Al-Isra’ ayat 1, “Maha suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari mesjid haram ke mesjid aksa yang diberkahi sekelilingnya untuk memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, sesungguhnya Allah maha mendengar dan maha melihat”. Di ayat ini sangat jelas menginformasikan kepada kita bahwa tujuan dalam perjalanan Nabi, untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya lewat kalimat “Linuriyahu min ayatina“, sangat banyak tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad Saw. Di Mesjid Aqsa, Nabi dipertemukan dengan Nabi-Nabi yang jumlahnya sangat banyak, dalam satu riwayat berjumlah 120 ribu Nabi, 313 diantaranya adalah Rasul. Nabi bersilaturahim dengan seluruh Nabi dan mengimami shalat bersama.
Dihadapan para Nabi-Nabi terdahulu, Muhammad Saw, banyak melakukan komunikasi tentang perjalanan sejarah perjuangan Nabi-Nabi terdahulu dan mengambil hikmah dari pertemuan tersebut. Bahwa sejarah para Nabi adalah sejarah perjuangan dalam menjalankan misi dakwah yang mulia, sekalipun banyak tantangan-tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya. Tidak ada Nabi yang tidak mengalami hambatan dalam melakukan misi dakwah, semuanya mengalami tantangan yang keras dari kaumnya. Di sinilah Muhammad saw banyak mengambil hikmah dan melakukan evaluasi diri dalam menghadapi tantangan dakwah yang akan hadapi pasca diisra-kan.

Di sini Nabi sangat menikmati berbagai kebesaran-kebesaran Tuhan-Nya. Berbagai pencerahan-pencerahan telah diterima oleh Nabi dalam perjalanan isra’nya, pencerahan-pencerahan intelektual yang di coba diterjemahkan malaikat Jibril yang menyertainya lewat tanya jawab intens dalam sepanjang perjalanannya dari Mesjid Al Haram di Makkah ke Mesjid Aqsa di Al Quds di Palestina. Kemudian pertemuan dengan Nabi-Nabi terdahulu dengan berbagi pengalaman dalam memperjuangkan kebenaran dari Tuhan-Nya, di sini Nabi berbagi pencerahan dalam menghadapi umat sangat keras dan dibutuhkan kesabaran yang tinggi. Kembali Nabi mendapatkan berbagai pengalaman Nabi-Nabi terdahulu, dalam memenej kecerdasan emosional, yang dalam agamanya adalah kesabaran.

Setelah dihibur dengan kekuasaan Tuhan dalam perjalanan Isra’nya dengan berbagai tanda-tanda kekuasan Tuhan sebagai bekal untuk menghadapi perjuangan dalam menghadapi umatnya ke depan. Tuhan lalu membawa dan mengarahkan Nabi untuk mi’raj ke langit. Perjalanan yang sifatnya vertikal menuju kepada Tuhan. Di sini Nabi menembus berbagai lapisan langit, hingga mencapai Sidratul Muntaha, yang secara bahasa berarti pohon lotus, dan secara simbolik, berarti puncak kedamaian,lambang kebijakan tertinggi dan terakhir yang dapat dicapai seorang manusia pilihan,yang tidak teratasi lagi, karena tidak ada kebijakan yang lebih tinggi dari itu. Makna lain dari Sidrah adalah kerindangan dan keteduhan.

Jika Nabi telah sampai ke Sidrat Al Muntaha berarti beliau telah mencapai tingkat kedamaian, ketenangan dan kemantapan batin yang tertinggi, yang tidak didapat oleh siapa pun yang lain. Di Sidrat Al Muntaha inilah Nabi betul-betul tercerahkan secara spritual, karena sangat merasakan secara dekat dengan Tuhan-Nya. Inilah  puncak perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi dalam merasakan berbagai kebesaran-kebesaran dari Tuhan-Nya.

Dalam perjalanan ini, Nabi mendapatkan setidaknya tiga kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual. Semoga kita dalam memaknai peristiwa ini, kita dapat meningkatkan ketiga kecerdasan tersebut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *